
Waktu sudah cepat berlalu. Carolline memilih menetap di rumah sang nenek. Selain sudah bekerja, Carolline juga merasa lebih nyaman tinggal bersama neneknya, apalagi sang nenek sudah cukup tua untuk tinggal sendiri di negara yang jauh dari anak-anaknya. Karena si nenek memilih menikmati masa tua dirumah kenangan dengan sang suami.
Hari ini tepat satu tahun berlalu dari kejadian di mana dirinya harus mengalami pahitnya hidup, bahkan luka satu tahun lalu juga belum hilang dari benaknya bisa di katakan luka itu masih ada meskipun hanya sedikit.
Di kamar dengan pemandangan menatap langit sore yang kala itu hujan turun. Carolline mengingat semua yang dia alami, tidak tahu kabar mereka yang sudah membuatnya terpuruk seperti ini, dalam hatinya semoga mereka akan berubah menjadi lebih baik. Bagi Carolline hidup dengan rasa dendam tidaknya baik membuat dirinya lebih baik menerima takdirnya seperti ini.
Suara deru mobil terdengar di halaman rumah, padahal hari akan petang dan hujan di luar sana. Tapi siapa yang datang di saat cuaca seperti ini, bukankah seharusnya mereka lebih enak menikmati teh hangat dengan roti.
Carolline keluar dari kamarnya saat seseorang mengetuk pintu.
Ceklek
Pintu terbuka, dan Carolline cukup terkejut bahkan sangat terkejut melihat seseorang yang berdiri tegak di depannya.
"N-Nicole." Ucapnya terbata.
Nicole sendiri diam membisu dengan tatapan tak lepas dari wajah Carolline, kenapa satu tahun begitu lama hingga mampu membuat wajah Carolline semakin cantik di matanya.
__ADS_1
"Hay, apa kabar?" Sapa Nicole, tatapannya tak lepas dari wajah Carolline yang diam membeku.
"K-kenapa kau di sini?" Ucap Carolline mencoba untuk menekan rasa gugup dan terkejutnya.
"Menemui mu, apa lagi." Jawab Nicole santai. "Dan waktu satu tahun cukup membuatmu berubah." Lanjutnya lagi.
Carolline menatap Nicole dengan pandangan yang rumit, dirinya tentu saja belum siap bertemu mendadak seperti ini. Lalu, bukankah hari ini baru tepat satu tahun hukuman Nicole, tapi kenapa pria ini sudah berada di depannya.
"Minumlah." Carolline meletakkan secangkir teh dimeja.
Kini keduanya sedang duduk di ruang tamu. Sang nenek sedang di kamar beristirahat, cuaca yang dingin membuat si nenek memilih untuk menghangatkan tubuhnya di balik selimut.
Carolline membuang wajahnya dengan jemari yang saling bertaut.
Entah kenapa perasaannya mendadak tidak enak, dirinya merasa ada sesuatu hal yang akan terjadi, mekipun sudah merelakan dan akan memberikan kesempatan kedua. Tapi entah mengapa Carolline merasakan sesuatu yang mengganjal. Masalahnya Nicole bukanlah pria sembarangan, pria itu memiliki kekuasaan di negaranya yang sangat disegani. Tentu saja untuk orang seperti Nicole tidak akan melakukan hal yang sebarang. Contohnya memilih pendamping, pasti mereka memiliki standar kelas yang sepadan. Kalau Nicole menerima nya, belum tentu orang tua Nicole menerima dirinya.
"Memikirkan apa, hm." Nicole sejak tadi m memperhatikan Carolline yang diam melamun.
__ADS_1
Carolline menoleh, dan tatapan keduanya bertemu. Nicole bisa melihat kecemasan di kedua mata Carolline.
"Bukankah hari ini kamu baru saja bebas, lalu kenapa kamu bisa di sini?" tanya Carolline akhirnya. Dirinya belum bisa mengucapkan apa yang menjadi keputusannya.
Nicole tersenyum tipis, jadi selama ini Carolline memperhatikan dirinya, buktinya dia tahu tanggal berapa seharunya dirinya bebas.
"Mendapat remisi satu minggu, jadi aku sudah bebas satu minggu yang lalu." Tutur Nicole.
Carolline hanya mengangguk. Tidak menyangka jika pria berpengaruh seperti Nicole benar-benar menjalani hukuman selama satu tahun. Padahal uang yang dia miliki bisa membeli kebebasan nya.
"Aline." Nicole sedikit bergeser untuk menghadap Carolline.
Carolline sendiri merasa gugup di tatap seperti itu oleh Nicole.
"Aku memang salah, dan aku mencoba untuk bertanggung jawab dengan kesalahan yang aku buat, berada di penjara adalah hukuman yang aku terima. Dan sekarang aku ingin meminta sesuatu padamu." Nicole bicara dengan lembut, pria itu tahu bagaimana memperlakukan orang yang dia cintai.
Carolline menelan ludah melihat wajah serius Nicole, tubuhnya merasa merinding.
__ADS_1
"Aline, aku ingin menikahimu."