Dikau Imamku

Dikau Imamku
Bab 9


__ADS_3

"Sehari bersamamu saja bisa membuat saya gila, apalagi seumur hidup"


-


-


Duduk menunggu bis di halte adalah kebiasaanku. Kadang aku bisa menunggu berjam-jam. Aku tersenyum, kadang aku bingung hidup itu apa? Aku beruntung memiliki keluarga yang menyayangiku bahkan orangtuaku tidak memperbolehkanku kerja padahal kami bukan termasuk orang yang kaya. Tapi keluargaku termasuk orang yang berkecukupan.


Aku dulu punya impian ingin menjadi seorang sekertaris atau bekerja di kantor pajak. Makannya aku mengambil jurusan manajemen. Tapi akhir-akhir ini impianku seakan terlupakan karena kehadiran pria itu.


"Ashimah." Panggil seseorang membuatku mendongak mencari suara itu. Untung halte sepi hanya ada aku. Karena memang hari sudah petang, anak-anak sudah pada pulang sejak ashar tadi.


Aku terpana melihat Mas Dikau berdiri di sana dengan gagahnya. Penampilan masih sama seperti mereka bertemu tadi di perpustakaan. Hatiku berdebar, apa yang dilakukan mas Dikau disini? Apa ia datang untuk minta maaf? Apa pria itu merasa bersalah karena ucapanku tadi? Aku tersenyum kecil, sekarang tinggal menjalankan rencana kedua. Yaitu mendiami Mas Dikau. Sesuai rencanaku dengan Zila. Aku akan mendiami Mas Dikau.


"Maaf." Ujarnya.


Aku tersenyum pasti pria itu ingin meminta maaf karena tadi menyuruhku berhenti mencintainya. Aku diam, aku memalingkan wajah tidak ingin melihatnya.

__ADS_1


"Ckckck. Kamu masih marah soal tadi" aku masih diam mendengar ucapan mas Dikau.


"Aku tadi melupakan sesuatu."


"Aku tadi lupa mengembalikan payungmu."


Aku terdiam mendengar itu, jadi pria itu mengejarku hanya untuk mengembalikan sebuah payung. Aku mendesah kecewa. Aku tertunduk lemas. Aku menerima payung lipat itu lalu memasukkannya ke dalam tas.


"Aku tahu kok Mas Dikau mengembalikan payung ini sebagai alasan untuk bertemu denganku." Ucapku dengan nada penuh percaya diri. Aku bisa menangkap wajah kesalnya dengan ucapanku.


"Terimakasih." Aku hanya mengangguk.


Apa mas Dikau sudah menaruh hati padaku?Aku tersenyum senang akhirnya usahaku tidak sia-sia.


"Kamu jangan salah paham dulu. Saya hanya kasihan melihat kamu menunggu bis terlalu lama. Padahal sebentar lagi hari sudah mau malam." Ujarnya, tapi aku tidak mempedulikan alasannya.


Aku tersenyum, walau aku tahu itu hanya akal-akalannya saja. Tapi aku tahu jika dia khawatir terhadapku. Mas Dikau diam-diam mengkhawatirkanku.

__ADS_1


"Tidak apa, aku tahu mas dikau peduli sama aku apapun alasannya." Ujarku membuat pria itu kesal dengan kepedeanku.


"Kita naik apa?" Tanyaku.


"Saya bawa mobil." Mas Dikau berjalan menuju mobilnya. Aku mengekor di belakangnya. Kemudian mas dikau mempersilahkan aku untuk masuk ke dalam.


"Aku wanita keberapa yang sudah merasakan naik mobil bersamamu?"


"Banyak." Aku mendesah tidak senang dengan ucapannya.


"Aku mau nyalain radio boleh mas."


"Boleh."


"Yes, makasih." Kemudian terdengar sebuah lagu berjudul suami terbaik oleh Kahitna.


"Saya bukan pria yang pandai beragama. Saya tidak tahu hal apa yang membuatmu berpikir jika saya bisa menjadi suami terbaik untukmu." Mas Dikau bersuara ditengah alunan lagu.

__ADS_1


Aku terdiam, ucapan mas dikau membuatku bungkam. Kalau begini caranya bagaimana aku bisa berpura-pura cuek terhadapnya. Percuma saja ide yang diberikan Zila tidak ada gunanya. Semuanya gagal total berubah 180 derajat.


"Kamu bilang kalau saya adalah suami terbaik untukmu. Saya pria yang mempunyai harta dan kekuasaan. Apakah itu alasan utama kamu mengartikan arti kata baik itu?" Aku terdiam tidak mengerti ucapan mas Dikau. Kenapa pria itu mengartikan perasaanku seperti itu. Lalu aku menggeleng bukan itu yang aku cari.


__ADS_2