
Sebuah mobil hitam berhenti di depan mereka. Firman keluar menghampiri bosnya yang terbaring di pangkuan Ashimah.
"Syukurlah kamu datang." Ujar Ashimah. Kemudian Firman menggotong Dikau. Ia masih sempat melihat Dikau mengkodenya untuk menjalankan rencana mereka. Firman mendesah, ia menggelengkan kepalanya melihat kelakuan bosnya yang rela membayar orang untuk melindas kakinya. Menyebalkannya ia juga harus terlibat dan ikut menggotong tubuh Dikau yang berat. Sial memang nasibnya! Untung saja duitnya banyak, kalau tidak sudah Firman buang ke laut.
Sepanjang jalan Ashimah tidak berhenti menangis. Ia khawatir jika pria itu kenapa-kenapa. Andai saja ia tidak menyebrang pasti Dikau tidak perlu repot-repot untuk menolongnya. Seharusnya ia yang terlindas bukan Dikau.
"Tenanglah, saya tidak apa-apa." Ujar Dikau pelan. Suara seperti menahan sakit.
"Maafkan Aci mas,"
"Maaf." Ucap Ashimah sekali lagi. Ia begitu menyesal bahkan ia tak kuasa menahan enggukan tangisan.
Mobil yang mereka tumpangi berhenti di rumah sakit. Firman langsung membawa Dikau keluar di bantu orang-orang. Dikau di bawa Ke UGD. Ashimah menunggu di luar. Sedang Firman ke tempat administrasi sekaligus menemui dokter yang akan meninjau Dikau. Saat ini Dikau masih di tangani oleh perawat untuk membersihkan luka.
__ADS_1
Dokter kemudian masuk ke ruang UGD memeriksa keadaan Dikau. Dua puluh menit kemudian Dokter Rama keluar raut wajahnya terlihat menyesal. Ashimah menatap Dokter tersebut meminta penjelasan. Ia berharap jika Dikau tidak apa-apa.
"Apa yang terjadi pada suami saya dok?" Ujar Ashimah tanpa sadar menyebut Dikau sebagai suaminya.
"Saya turut menyesal Bu. Suami anda kemungkinan kaki kirinya harus di amputasi. Tapi ini baru perkiraan jadi ibu tidak perlu khawatir." Ujar dokter itu. Ashimah terkejut ia mendekap mulutnya. Tangisnya pecah, ia langsung ke dalam ruangan menengok Dikau.
Pandangan Dikau kosong. Wajahnya nampak pasrah dengan hal yang menimpanya. Ashimah menangis sambil berulang kali mengatakan maaf. Karenanya Dikau harus kehilangan kakinya.
"Sudahlah Ashimah yang sudah terjadi tidak bisa diulang lagi. Saya ikhlas jika harus hidup seperti ini." Àshimah menggelengkan kepalanya.
"Lebih baik kamu pulang. Pasti ayah kamu sedang mencari kamu."
"Ashimah mau disini menjaga mas."
__ADS_1
"Kamu pulang saja tidak perlu pedulikan saya. Lagipula kamu juga sudah menolak saya. Apalagi dengan keadaan saya yang seperti ini. Kamu pasti akan berpikir dua kali untuk bersama saya." Dikau memalingkan wajah sendu. Ia merasa tak berdaya. Dia sudah tak punya nyali lagi untuk mendekati Ashimah.
"Enggak..."
"Aci mau disini hiks...."
"Kalau kamu disini hanya karena rasa bersalah lebih baik kamu pulang. Saya tidak ingin dikasihani. Saya tahu kamu selama ini tidak pernah benar-benar mencintai saya selama ini. Kamu hanya mencintai kelebihan saya." Ujar Dikau Dingin. Ashimah menggelengkan kepalanya yang Dikau katakan sepenuhnya tidak benar. Ia mau berada disini karena ia mencintai pria itu. Rasanya cintanya benar adanya.
"Tapi mas."
"Keluar!!!" Ashimah keluar dari ruangan tersebut sambil menangis karena bentakan Dikau. Hatinya terasa hancur di tolak. Ashimah menutup pintu kemudian tubuhnya meluruh turun ke lantai sambil menangis. Apa yang harus ia lakukan untuk menebus kesalahannya? Sedangkan Dikau tidak mau bertemu dengannya lagi.
Firman yang kebetulan lewat hanya bisa menggelengkan kepala. Drama apa lagi yang dimainkan Dikau. Bosnya itu ada-ada saja. Ia jadi kasihan melihat Ashimah yang terjebak dengan permainan Dikau.
__ADS_1