Dikau Imamku

Dikau Imamku
Bab 30


__ADS_3

Ashimah


-Mas Dikau lagi apa?-


Dikau


-Mau makan-


Ashimah


-Mau makan dimana?-


5 menit yang lalu


"Kok nggak di bales sih.." guman Ashimah karena Dikau tak kunjung membalas pesannya padahal centang dua berwarna biru terlihat pada pesannya. Ashimah mengetik pesan lagi.


Ashimah


-Hm...-


-Mas Dikau....-


-Peka dong...-


10 Menit kemudian muncul pesan masuk dari Mas Dikau. Ashimah menelan ludah gugup membacanya. Maksudnya pekakan, ia minta untuk balas pesannya. Bukan minta makan bareng, inimah kelewat peka.


Dikau


-Saya ketempat kamu. Kita makan bareng.-


Ashimah


-Memang Mas Dikau tahu, Ashimah dimana.-


Pesan itu terkirim namun hanya centang satu. Ashimah menggigit jari, pria itu apa benar-benar akan ke tempatnya berada, sedang Dikau tidak tahu keberadaannya sekarang dimana.

__ADS_1


Apa dia menunggu disini hingga Dikau datang? Atau pergi? karena kemungkinan kecil pria itu tahu dia sedang berada di perpustakaan.


Ashimah merapikan bukunya. Setelah perdebatan panjang antara batin dan pikirannya. Ia memilih untuk pergi dan menunggu Mas Dikau di depan gerbang utama saja. Pasti pria itu akan mudah menemukannya.


Ashimah menuruni tangga lantai 2 perpustakaan. Baru saja mencapai separuh dari perjalanan. Ia merasa tas gendongnya di tarik seseorang. Otomatis Ashimah terlempar ke belakang namun di tahan seseorang.


"Berniat kabur," suara itu sangat ia kenal. Siapa lagi kalau bukan Dikau. Bagaimana pria itu tahu jika ia di sini? Padahal ia tidak memberitahu pria itu.


"Mas kok bisa disini?" Tanya Ashimah cepat.


"Ketika kamu sudah bersedia menandatangani perjanjian dengan saya, maka seluruh hidup kamu adalah milik saya."


"Maksud mas???" Ashimah menatap Dikau tak mengerti.


Dikau berdecak enggan membalas tapi pada akhirnya pria itu menjawab, " Ketika hidup kamu menjadi milik saya maka saya akan mudah menemukan kamu dimanapun." Ashimah bergidik ngeri mendengarnya. Ia jadi membayangkan hal yang tidak-tidak, jadi pria itu akan tahu dimanapun keberadaannya di toilet sekalipun. Tapi bagaimana caranya, hal itu terlontar di otaknya.


"Bagaimana cara-" Belum tuntas Ashimah melanjutkan ucapannya Dikau sudah menariknya duluan untuk keluar dari perpustakaan. Ashimah menghembuskan napas kesal. Bisa tidak sih dia tahu apa yang dia inginkan. Bukan seperti ini apa-apa main rahasia-rahasiaan, jangan-jangan Mas Dikau menguntit dirinya jadi pria itu menyewa orang untuk mengawasinya kemanapun. Ashimah tanpa sadar memandang keseliling mencari adakah hal yang mencurigakan atau tidak. Ataukah ada orang yang mengikutinya. Namun semuanya tampak normal.


"Jangan berpikir yang aneh-aneh, lebih baik kita ke kantin sekarang saya sudah lapar." Dengan langkah yang memaksa Dikau membawa Ashimah ke kantin. Ia bahkan tidak mempedulikan orang-orang yang menatap penuh keingin tahuan dari mereka.


"Yang penting dapet tempat," guman Ashimah dalam hati. Ia langsung duduk di sana.


Baru ia duduk ia di suguhkan dengan obrolan orang-orang. Kupingnya terasa panas ketika nama Dikau di sebut gerombolan itu. Kadang Ashimah tidak tahu kenapa banyak sekali orang yang suka menggosipkan Dikau. Seterkenal itukah Dikau? Padahal dirinya yang sudah 4 semester kuliah, baru mengenal pria itu akhir-akhir ini.


Ashimah yang biasanya tidak pernah menguping ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah sumber suara. Keningnya berkerut ketika ia mendengar fakta bahwa Dikau pernah bangkrut dan pria itu menggunakan uang hasil judi untuk membangkitkan perusahaannya. Ashimah membengkap mulutnya tak percaya benarkah berita itu? Darimana mereka tahu hal seperti itu.


"Ngak nyangka Mas Dikau kayak gitu. Padahal dia kuliah di universitas Islam jurusan Menejemen bisnis syariah tapi dia ngelakuin hal dosa gitu. Apa dia nggak takut yah make uang haram kayak gitu."


"Iya padahal anak syariah."


Ashimah memejamkan matanya, apakah ini rahasia yang disembunyikan Mas Dikau darinya. Pantas saja pria itu sampai menggunakan surat perjanjian untuk mengikatnya pria itu takut kehilangannya.


"Kamu sedang memikirkan apa?" Suara Dikau terdengar di indera Ashimah. Bisik-bisik mengenai pria itu sudah tidak lagi terdengar. Mungkin mereka menyadari orang yang mereka bicarakan ada disini. Ashimah menggelangkan kepalanya cepat. Ia langsung mengambil makanan yang Dikau pesan. Pria itu membelikannya mie ayam.


"Terima kasih," ucap Ashimah menerima perlakuan manis Dikau.

__ADS_1


"Habiskan,"


Setelah mereka makan kantin sudah nampak sepi. Ashimah menatap Dikau ragu. Mulutnya terasa gatal untuk mengatakan sesuatu. Dikau sepertinya menyadari kegelisahan Ashimah.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?"


"Ah, itu.."


"Katakan saja," Dikau menatap Ashimah dengan tajam.


Ashimah menggerakkan tangannya meminta Dikau untuk mendekat ke arahnya. Dikau mencondongkan tubuhnya ke depan. Ashimah dengan sedikit keberanian mengutarakan apa yang ia inginkan walau ia ragu.


"Mas Dikau pernah bangkrut?" Keempat kata dari pertanyaan itu membuat tubuh Dikau menegang. Dia langsung menarik diri dari Ashimah.


Mata pria itu menggelap, seolah tidak ingin hal itu di gali lebih dalam lagi.


"Ayo kita pulang." Dikau berdiri langsung menarik Ashimah keluar dari kantin tersebut. Ashimah yang belum siap, ia hanya bisa pasrah ditarik begitu kencangnya oleh Dikau.


"Mas," keluh Ashimah merasa sakit di pergelangan tangannya. Tapi Dikau tidak mempedulikan itu, ia membawa Ashimah masuk ke dalam mobil. Dan melajukannya.


"Ada apa sebenarnya?" Dikau diam tidak menjawab pria itu malah menyalakan mesin mobil dan menjalankan mobilnya keluar dari area kampus.


"Kenapa mas diam saja? Apa aku tidak berhak tahu?" Tuntut Ashimah pada Dikau.


Bukannya menjawab Dikau malah melajukan mobilnya dengan cepat bahkan terkesan ugal-ugalan. Beruntung tidak ada polisi yang sedang bertugas. Ketika mobil Dikau berhenti, pria itu membawa Ashimah keluar dari mobilnya menuju rumahnya.


Dikau sudah diliputi kecemasan pria itu membawa Ashimah ke dalam kamarnya. Membanting gadis itu ke kasur lalu mengunci pintu kamar dan megurungnya agar tidak bisa pergi darinya.


Ashimah ketakutan, apalagi ketika mata pria itu menatapnya tajam. Baru Ashimah sadari jika Dikau tidak mengenakan kacamatanya. Pria itu tampak sangat tampan dan menakutkan secara bersamaan. Ashimah menelan ludah gugup. Ia takut jika Dikau akan melakukan hal yang lebih padanya. Apalagi disaat pria itu memajukan wajahnya ke depan.


"Mas," pinta Ashimah untuk menghindar. Tapi pria itu seakan tak mendengarkan dia malah terus mendekat. Ashimah pada akhirnya hanya diam dan pasrah apa yang akan pria itu lakukan padanya.


***


💕💕😍 jangan lupa Vote And Coment... Atau follow juga boleh banget....

__ADS_1


Kita coba sejauh mana rindu dengan Dikau 😂😂😂


__ADS_2