Dikau Imamku

Dikau Imamku
Bab 38


__ADS_3

Sudah 7 hari Dikau tidak bertemu dengan Ashimah. Gadis itu seolah-olah menghindar darinya akhir-akhir ini. Bahkan tak ada satupun pesannya yang di balas, padahal dulu gadis itu yang sering mengiriminya pesan yang tidak jelas sekarang malah gantian. Dikaulah yang mengirimi gadis itu pesan bahkan dengan bahasa yang menurutnya alay. Bahasa yang sering di gunakan anak remaja yang sedang pacaran.


Dikau menghela napas, ia turun dari mobilnya. Hari ini Dikau berencana mendatangi Ashimah ke kampus. Setelah mendapat informasi dari Zila teman Ashimah yang harus dengan sedikit paksaan dan sogokan, ia berhasil membuat gadis itu membuka mulut keberadaan Ashimah.


Gadis itu sekarang sedang mengikuti seminar di auditorium. Mau tidak mau Dikau ikut masuk ke dalam dengan membayar sebesar lima puluh ribu. Ia harus berhasil menemukan Ashimah.


Kening Dikau berkerut melihat pria dan wanita duduk terpisah. Pria duduk di depan sedang wanita di belakang. Dikau berdecak kalau begini usahanya untuk menyusul sia-sia.


Dikau Dudu di barisan pria paling belakang. Ia mengamati bagian belakang mencari sosok Ashimah. Sialnya ia tidak menemukan sosok yang ia cari. Dikau terpaksa terjebak disini dan mendengarkan seminar sampai selesai. Matanya menajam membaca tema seminar dalam MMT yang terpasang di depan.


"Seminar Pra-Nikah," Dikau mengumpat, ia tidak begitu menyukai tema itu. Untuk apa Ashimah mengikuti ini, apa dia mau menikah? Dikau memijat pelipisnya menunggu acara selesai.


Sudah hampir dua jam, sesi tanya jawab juga selesai. Dikau langsung bangkit keluar mencari Ashimah. Suasana terlihat ricuh karena berebut untuk keluar. Dikau mencari sosok Ashimah di antara ratusan orang itu. Rasanya seperti mencari jarum dalam jerami tapi ia percaya jika Ashimah akan ia temukan.


Dikau sudah keluar dari gedung. Saat itulah ia melihat gadis berkerudung merah panjang dengan gamis berwarna putih. Wajah gadis itu familiar, saat itulah Dikau tahu jika itu adalah Ashimah. Hanya penampilan gadis itu benar-benar berubah, Ashimah jadi lebih tertutup dengan Khimar panjang itu. Tapi tidak mengurangi kecantikannya.

__ADS_1


Ia berlari lalu menangkap tangan gadis itu. Ashimah terkejut mengetahui jika pria itu adalah Dikau. Ia mencoba memberontak tapi sia-sia.


"Maaf,"


"Kita akhiri disini, lepas mas.."


"Tidak akan." Banyak yang melihat mereka panasaran. Mereka seperti sepasang kekasih yang bertengkar.


"Lepas, atau aku tidak akan berbicara sama kamu selamanya." Ancam Ashimah. Akhirnya Dikau melepaskan walau tidak rela.


"Because, I love you Ashimah. Saya tahu kamu cemburu dengan Febri. Tapi dengar saya sudah tidak memiliki perasaan apa-apa dengan Febri." Ingin sekali Ashimah luluh, tapi ia sadar setelah merenung beberapa hari. Dikau bukanlah imam yang ia cari. Ia sadar walau pria itu baik, tapi ia belum tentu baik untuk membimbingnya.


"Kita berakhir. Aci tak ingin menikah dengan pria yang menyakiti Aci dan juga mendekatkan Aci ke dalam dosa. Aci tak ingin menikah dengan pria yang bahkan tidak pernah sholat. Bagaimana ia ingin memimpin keluarganya, jika mas sendiri tidak bisa memimpin diri mas. Itulah yang membuat mas tidak bisa menghargai orang lain, bahkan perasaan Aci yang terluka melihat mas dengan Febri. Dan mas melakukan itu seolah itu bukan apa-apa, bahkan tidak menyadarinya sama sekali." Ashimah mengingat ketika Dikau mengancam untuk memerkosanya, menciumnya, menyentuhnya pria itu menganggap hal itu adalah hal yang biasa. Bahkan Dikau tidak pernah sholat, waktu itu Ashimah menutup mata tentang itu.


Tapi semakin kesini ia semakin membuka mata, jika Dikau saja lalai terhadap perintah Tuhan bisa jadi pria itu akan lalai dengan keluarganya. Apalagi akhir-akhir ini ia sering mengikuti kajian dan seminar Pra-Nikah membuatnya tahu. Jika menikah bukan hanya sekedar cinta dan harta. Tapi cinta juga butuh ilmu agama sebagai pondasi. Ia memanfaatkan waktu 7 harinya untuk memperbaiki dirinya.

__ADS_1


"Saya bukan orang baik Ashimah. Saya sudah mengatakan itu dari awal."


"Tapi Mas Dikau tahu semua tentang hukum Islam. Mas Dikau tahu meninggalkan sholat itu dosa. Mas Dikau tahu menyentuh wanita yang bukan mahramnya itu dosa. Mas Dikau tahu jika berjudi itu dosa. Tapi mas Dikau mengabaikannya, menutup mata mas tentang hal itu."


"Bagaimana jika mas melakukan hal yang lalai lagi? Bahkan hal yang lebih buruk dari semuanya." Dikau terpaku apa yang Ashimah katakan. Bahkan Dikau lupa kapan terakhir kali ia ibadah. Ia terlalu kalut, sejak Febri meninggalkannya, ayahnya meninggal, perusahaannya hampir bangkrut. Dikau melupakan Tuhannya, bahkan ia tidak segan mendekati semua hal yang Allah larang. Karena saat itu Tuhan tak ada untuknya.


"Walau Aci akui mas baik. Bahkan tak segan memberikan apapun untuk keluarga Aci. Tapi harta dan cinta mas saja tidak cukup."


"Saya akan merubah diri saya menjadi lebih baik. Beri saya satu kesempatan." Ashimah menggeleng lalu melenggang pergi meninggalkan Dikau yang terpaku.


"Saya Dikau Tondo Prasetya dan kamu Ashimah Kyla saya akan pastikan kamu jadi istri saya." Teriak Dikau lantang, tidak peduli dengan orang-orang yang menonton mereka. Ashimah menghentikan langkahnya. Ia terpaku mendengar ucapan itu. Kalimat yang pernah ia katakan dulu kepada Dikau.


"Aku Ashimah dan kamu Dikau Tondo Prasetya akan jadi suamiku."


Ashimah tanpa sadar menangis. Ia langsung berlari tanpa ingin melihat Dikau kembali. Keputusannya sudah bulat. Ia tidak ingin terluka karena pria itu. Ia tinggal memikirkan cara untuk mengembalikan apa yang telah pria itu beri.

__ADS_1


__ADS_2