
Ia berdiri mengambil air putih dan menenggaknya. Seminggu tanpa melihat wajah gadis itu rasanya aneh. Ia rindu mulut cerewet Ashimah. Ia rindu wajah gadis itu. Ingin sekali Dikau menghampiri Ashimah dan memeluknya erat meluapkan rasa rindunya. Namun ia mengurungkan. Jika ia melakukan itu, Ashimah akan semakin membencinya. Ia perlu cara yang bisa membuat gadis itu tidak bisa membantahnya.
"Pak.." panggil seseorang dari balik pintu.
"Masuk."
Firman terkejut melihat ruangan Dikau yang berantakan. Banyak kertas yang berserakan di sana. Bosnya akhir-akhir ini memang sedang kacau karena Ashimah mengabaikannya. Bahkan ia rela menjual perusahaan demi gadis itu.
"Ada apa?" Tanya Dikau ketus mendapati Firman. Pasti pria itu hanya akan menambah pekerjaannya yang sudah kacau.
"Kalau hanya untuk mendatangani dokumen taruh saja di meja." Lanjutnya tidak peduli.
"Ini kertas penting." Ujar Firman.
"Taruh saja di meja." Perintah Dikau. Ia sudah malas untuk bekerja. Ia kehilangan moodnya. Ia hanya ingin Ashimah. Hanya gadis itu.
__ADS_1
"Yakin tidak mau lihat?" Firman sudah tidak menggunakan bahasa formal lagi. Ia mencoba memancing Dikau. Karena dia membawa kertas yang bisa membantu pria itu untuk kembali dengan Ashimah. Ia tidak ingin Dikau tambah kacau.
"Tidak sana keluar!!" Sahut Dikau kesal. Ia ingin sendirian untuk mendinginkan pikirannya. Karena Ashimah yang tak kunjung membalas semua pesannya. Tapi Firman malah mengganggunya. Apa dia tidak takut jika Dikau bisa menghabisi Firman saat itu juga? Karena telah membuatnya kesal.
"Ya sudah kalau tidak mau." Firman berbalik ingin pergi. Dia diam di depan pintu dan memancing Dikau sekali lagi.
"Bagaimana jika ini adalah kertas pra nikah yang dulu pernah Aci tandatangani?" Ucap Firman dengan santai.
Dikau terdiam mendengar itu. Ia baru ingat surat perjanjian itu. Kenapa ia baru ingat? Padahal dulu ia membuat itu untuk mengancam Ashimah jika gadis itu meninggalkannya. Sekarang ia bisa menggunakan surat itu.
"Tadi katanya tidak mau." Goda Firman. Pria itu membuka pintu pura-pura ingin keluar. Rasa nya menyenangkan sekali menggoda Dikau.
"Kau!!! Berani keluar saya pecat. Dan saya pastikan kamu tidak mendapat pekerjaan sekalipun." Ancam Dikau yang kalang kabut melihat Firman keluar membawa surat sakti itu. Kertas yang bisa membuat Ashimah kembali.
"Ngak usah nge gas kali!!" Batin Firman melihat Dikau yang sudah tidak sabaran.
__ADS_1
Firman menyerahkan kertas itu ke Dikau. Melihat seringai yang tercipta di mulut Dikau membuat nya takut. Apa keputusan nya ini salah atau benar? Ia malah takut jika Dikau melakukan hal yang tidak terduga. Ia jadi khawatir dengan Ashimah. Malang sekali nasib gadis itu. Semoga saja bos nya tidak melakukan hal aneh-aneh pada Ashimah.
"Sana pergi!!" Usir Dikau.
"Ckckck." Firman berdecak sebal. Ternyata bosnya itu tidak berubah masih saja menyebalkan. Padahal kan dia sudah baik.
Dikau tersenyum membaca kertas yang di bawa Firman. Hanya perlu satu langkah saja. Ia bisa membawa gadis itu ke dalam dekapannya. Untung saja ia terlahir pintar. Dikau akan membuat Ashimah tidak berkutik dengan janji yang pernah Ashimah ucapkan dulu untuk tidak meninggalkan nya dengan alasan apapun.
***
jangan lupa follow Instagram author @wgulla_
love you... Yuhu...
maaf lagi proses revisi naskah ini hanya di edit karena yang kemarin berantakan..
__ADS_1