
Ini pengalaman pertamaku mencintai seseorang.
-
-
Aku pergi ke perpustakaan untuk mengembalikan buku. Kemarin aku mendapatkan tugas untuk membuat makalah tentang pemasaran di abad 21 mata kuliah manajemen pemasaran. Buku-buku yang kubawa adalah referensi yang kujadikan tinjauan pustaka dalam makalah.
Aku mengantri di barisan. Untung saja sepi, hanya ada aku dan seorang wanita yang mengantri di depanku. Namun mataku menangkap sosok yang seminggu ini kurindukan. Siapa lagi kalau bukan Dikau Pratama Prasetya? Pria itu benar-benar dingin bahkan pesanku tidak ada yang di balas sama sekali. Padahal aku sudah perhatian padanya, bahkan mengingatkannya sholat, makan, tidur dan lain-lain.
Pria itu membawa beberapa buku di genggamannya. Pasti pria itu ingin mengembalikan buku yang dia pinjam untuk mengerjakan skripsi. Aku tersenyum manis ketika ia berdiri di depanku. Saat ini kami mengantri bersama. Ia menatapku terkejut. Lalu membuang wajah ke arah lain.
"Assalamu'alaikum Mas Dikau." Panggilku.
"Waalaikumsalam."
__ADS_1
"Semangat mas masih pagi! Mukanya di tekuk terus kayak orang patah hati habis di tinggalin pacar."
"UPS keceplosan." Ujarku tanpa merasa bersalah.
"Diam kamu."
"Mas mau tahu nggak kenapa mas patah hati?" Tanyaku. Dia memandangku aneh. Seolah aku ini hanyalah butiran debu.
"Kenapa?"
"Karena mas sangat mencintai Febri." Aku sempat melihat Mas Dikau tersenyum kecut.
"Lalu mas Dikau tahu, Tuhan mematahkan hati mas Dikau. Karena Dia cemburu." Aku tersenyum lebar mengatakan itu. Tapi selanjutnya aku merasakan sentilan di jidatku.
"Aw." Sentakku kesakitan.
__ADS_1
"Dan kamu juga memperlakukanku seperti apa yang kamu ucapkan. Sebentar lagi saya yakin kamu akan patah hati." Aku terdiam mendengar itu. Namun aku langsung menggeleng keras.
"Ana Uhibbuka Fillah." Ucapku sambil menatapnya, aku bisa melihat mas Dikau mengerjakan matanya sebentar seperti terpaku dengan ucapanku. Namun ketika giliranku selesai Mas Dikau langsung mendorongku keluar dari antrian aku memberengut kesal.
"Sifat kamu itu masih kekanak-kanakan. Kamu bahkan tidak mengerti apa yang kamu katakan." Ucapan Mas Dikau membuatku tambah kesal, rasanya aku ingin menangis saja. Aku melakukan ini bukan karena aku tidak mengerti tapi karena aku memang benar-benar mencintainya. Apakah salah jika aku mencintainya? Walau ibuku selalu bilang tingkahku seperti anak-anak tapi aku tulus mencintai Dikau.
"Lebih baik kamu pergi, belajar yang rajin."
"Cinta yang kamu rasakan padaku itu hanyalah cinta semu. Cinta sesaat dan akan hilang dengan berjalannya waktu."
"Aku tidak mau." Ujarku aku mengikuti langkahnya keluar perpustakaan.
"Kenapa kamu tidak menyerah saja?"
"Apa kamu nggak bosen saya tolak berkali-kali?" Tanya Mas Dikau ketika aku berhasil menyamai langkah kakinya.
__ADS_1
"Ada pepatah yang mengatakan kegagalan adalah kunci kesuksesan atau ini mas Dikau pasti pernah dengar paling tidak kamu sudah mencoba dari pada kamu tidak pernah mencoba sama sekali." Aku bisa melihat mas Dikau tertawa kecil karena ucapanku.
"Jadi kamu berpikir bisa mendapatkan hati saya dengan motivasi bisnis seperti di seminar itu." Ujar Dikau dengan nada tidak percaya, aku mengangguk yang aku ucapkan memang adalah hal yang sering aku dengar ketika aku ikut seminar wirausaha.