
Dikau tidak pernah membayangkan jika Ashimah akan mengajaknya berbelanja di pasar tradisional. Pasar yang jauh dari impiannya. Karena banyak sekali orang yang membuatnya harus berhimpitan hanya untuk membeli barang. Tempatnya juga bau tidak sedap. Ia kira sesuai perjanjian mereka akan belanja di supermarket.
Hari ini mereka sedang menjalankan misi yang telah mereka buat di malam pertama waktu itu, walau sampai sekarang ia belum melakukan itu dengan Ashimah bahkan gadis itu sempat berbohong dan mengatakan menstruasi hanya untuk menghindarinya. Tapi ia mencoba bersabar dengan gadis itu.
Sekarang yang mereka melakukan kegiatan sehari-hari sepanjang hari bersama. Pertama mereka sholat subuh berjamaah. Kemudian joging lalu sekarang mereka belanja. Hal yang Dikau bayangkan adalah Ashimah mendorong troli belanjaan sedang dia memeluk gadis itu dari belakang sambil memilih bahan belanjaan tapi sekarang yang dia rasakan adalah dia harus berpencar dengan Ashimah.
Gadis itu telah menghilang entah kemana membeli bahan makanan. Sedang dia mencari daging ayam. Tapi banyak sekali ibu-ibu yang berebut untuk membeli. Haruskah dia ikut bergabung disana. Dikau mendesah, ia menuju tempat itu. Syukurlah tidak seramai tadi.
"Beli ayamnya satu ekor."
"Bentar ya mas ganteng." Jawab ibu penjual ayam tersebut. Dikau meringis mendengar godaan dari penjual ayam.
"Ini Bu." Dikau memberikan selembar uang berwarna merah ke penjual tersebut setelah mendapat apa yang ia pesan.
"Mas ganteng kembaliannya." Dikau langsung pergi tidak menghiraukan itu. Itung-itung amal, ia tidak ingin terjebak begitu lama berhimpitan dengan orang-orang.
"Buat ibu saja." Teriak Dikau.
__ADS_1
Sekarang yang menjadi tujuan utamanya adalah Ashimah. Mereka janjian di dekat penjual batagor. Karena Ashimah ingin sekalian membeli makanan tersebut. Dikau terus melangkah. Matanya bergerak mencari keberadaan Ashimah. Ia bernapas lega orang yang dicarinya. Berdiri di sana sambil membawa barang belanjaan.
"Mas haus tidak?" Tanya Ashimah.
"Iya." Tenggorokan Dikau terasa kering karena berjalan di bawah terik matahari sekaligus harus berhimpitan dengan orang-orang.
"Kalau begitu kita minum jus buah disana yuk sambil makan batagor ini!" Ashimah mengangkat plastik yang berisikan batagor dengan senang.
Mereka bergandengan tangan ke tempat penjual jus. Lalu duduk di sana. Ashimah memesan minuman. Sedang Dikau menaruh plastik bahan belanjaan Ashimah di samping kakinya.
"Nih jus mangga buat mas." Ashimah memberikan satu cup jus pada Dikau. Pria itu langsung menyedot jus tersebut. Tenggorokan Dikau lega karena minuman tersebut.
"Makan dulu mas buat ganjel perut." Mereka tadi belum sempat sarapan. Ia sebenarnya merasa bersalah membawa Dikau ketempat ini. Tapi mau bagaimana lagi. Mereka sudah membuat list semalam dan harus mereka tuntaskan misi mereka.
"Makasih sayang." Ashimah tersipu mendengar itu.
"Nanti biar Aci aja yang masak ya mas, sepertinya mas capek." Dikau diam tidak menjawab. Ia sibuk mengunyah batagor yang Ashimah berikan.
__ADS_1
"Enak ngak mas batagornya?" Tanya Ashimah.
"Lumayan." Jawab Dikau. Walau di dalam hatinya baru kali ini memakan jajanan pasar yang ternyata begitu lezat di lidahnya. Belanja di pasar tidak begitu buruk juga ternyata.
"Aci udah lama nggak belanja di sini mas. Aci kangen banget sama abang batagornya." Tiba-tiba Dikau tersedak mendengar itu. Matanya langsung menatap tajam Ashimah.
"Mas ngak papa. Minum dulu mas." Ashimah membantu Dikau minum.
"Apa-apaan kamu bilang aja kamu mau bertemu dengan Abang batagor itukan bukan mau belanja." Dikau marah. Ia langsung memberikan batagor yang ia pegang ke Ashimah. Sedang Ashimah tertawa kencang. Hingga banyak orang yang menatapnya ingin tahu. Menyadari apa yang ia perbuat, Ashimah menutup mulutnya.
"Mas cemburu?" Tanya Ashimah menahan tawa.
"Kamu pikir ini lucu Ashimah. Kita baru menikah dan kamu sudah berniat selingkuh dari saya." Hardik Dikau.
"Mas Dikau aneh banget, masa cemburu sama abang batagor itu." Tunjuk Ashimah ke arah Abang batagor yang mendorong gerobak ke arahnya. Rupanya batagornya sudah habis.
Mau tak mau Dikau mengikuti arah yang Ashimah tunjuk. Ia menahan malu ketika Abang batagor menyapa dirinya dan Ashimah. Ternyata penjual tersebut sudah tua. Umurnya mungkin lebih tua di atas ayahnya Ashimah. Bahkan rambutnya sudah banyak ubannya. Sialan! Kenapa Ashimah tidak memberitahunya lebih dahulu siapa si Abang batagor. Dia jadi tidak akan malu seperti ini. Sudah berburuk sangka lagi. Sampai menuduh istrinya selingkuh.
__ADS_1
"Beliau itu Abang batagor langganan Aci dari kecil. Aci suka di kasih gratisan dulu kalau ngak punya uang buat jajan. Baik bangetkan pak Maman." Dikau menelan ludah, kemudian ia mengambil kembali batagor miliknya di genggaman Ashimah. Sayang kalau tidak dihabiskan. Sedang Ashimah tak henti-hentinya mengulum senyum melihat tingkah laku Dikau. Senang sekali rasanya bisa bersama seperti ini.
"Ayo pulang." Perintah Dikau disaat ia selesai memakan batagornya. Ashimah mengangguk, lalu gadis itu mengambil sampah milik Dikau dan miliknya kemudian membuangnya ke tempat sampah terdekat. Mereka berjalan bersamaan dengan Dikau membawa barang belanjaan mereka menuju mobil yang terparkir di dekat pinggir jalan. Keduanya mengencangkan erat tangan mereka satu sama lain dan tersenyum bahagia. Bahkan Dikau tak segan membawa gadis itu ke dalam rangkulan dan menunjukan ke semua orang betapa bahagianya dia memiliki Ashimah.