
Bertemu mantan pacar, saat itu Ashimah ketar-ketir ketika mereka membayar buku ada Febri disana. Apalagi tatapan Dikau yang tidak berhenti menatap Febri. Membuat Ashimah kesal setengah mati. Apakah Dikau belum bisa move on dari Febri?
"Ini semuanya 800 ribu pak," Ujar penjaga kasir. Dikau membayarnya, lalu pria itu menyapa Febri. Hal itu membuat Ashimah terkejut, begitu juga dengan Febri yang tidak menyangka akan di sapa oleh orang yang telah ia sakiti hatinya itu.
"Apa kabar Febri?" Tanya Dikau ramah. Pria itu menatap Febri lekat-lekat, gadis itu masih cantik seperti dulu.
"Alhamdulillah sehat."
"Kamu sendiri, dimana Arkan?" Ashimah dongkol melihat Dikau yang basa-basi dengan Febri rasanya ia ingin menarik Dikau pergi saat ini juga.
"Mas Arkan ada urusan jadi dia tidak bisa menemaniku."
"Ooh, sudah makan siang? Kalau belum gabung bersama kami saja." Tawar Dikau tanpa dosa, karena Ashimah benar-benar merasakan panas. Bayangkan saja makan bersama mantan. Apakah Dikau tidak memikirkan perasaanya? Ashimah merenggut kesal, sialnya Dikau seolah-olah tidak menganggapnya ada. Ia merasa seperti obat nyamuk disini.
"Boleh," jawab Febri. Tentu saja hal itu membuat Ashimah lemas. Apalagi kalau dilihat Febri itu lebih modis dan pintar dandan dari pada dirinya. Sudah di pastikan jika pria itu susah untuk melupakan mantan terindahnya itu. Untung saja Dikau mengenalkan dirinya sebagai calon istrinya kepada Febri. Jika tidak maka bisa dipastikan Ashimah akan memutuskan pria itu dan berpaling ke dokter Alan.
Mereka jalan bersama ke salah satu restoran Jepang. Ashimah kesal, ia merasa seperti obat nyamuk di antara mereka. Karena sedari tadi Dikau terus mengajak Febri bicara sedang dirinya tidak sama sekali.
"Terimakasih atas traktirannya, kalau begitu aku pulang dulu ya kak Dikau dan Aci." Ujar Febri pamit pulang.
Setelah membayar Ashimah jalan mendahului Dikau ke parkiran. Ia bahkan tidak mempedulikan novel yang tadi ia beli, Dikaulah yang membawa bukunya.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" Tanya Dikau melihat raut wajah Ashimah yang merenggut sepanjang jalan bahkan di saat mereka di restaurant. Apa gara-gara ponsel yang ia sita tadi?
Ashimah hanya berdehem tidak peduli. Dikau menghela napas kemudian memberikan ponsel pada gadis itu. "Lain kali jangan main ponsel di saat bersama saya." Ashimah mendelik tidak peduli. Dalam hati ia menggerutu, "Mas Dikau itu yang lain kali jangan bermesraan sama mantan," padahalkan dia marah karena cemburu bukan karena ponselnya. "Dasar pria tidak peka," umpat Ashimah dalam hati. Wajahnya cemberut, bahkan tak ada senyum disana, menahan rasa marah, sedih dan tidak suka.
Ashimah menerima ponsel itu dengan kasar. Ia menaruh ponselnya ke dalam tas kecilnya. "Maafkan saya ya." Ashimah hanya berdehem menanggapi Dikau, ia sudah terlanjur marah dengan pria itu yang tidak peka.
Mobil Dikau berhenti di rumah Ashimah. Ashimah langsung keluar tanpa mau bicara dengan Dikau. Dikau menghela napas kasar. Pria itu mengambil buku yang tadi Ashimah beli. Gadis itu meninggalkannya seolah-olah itu tak menarik lagi. Dikau membawanya dan ikut masuk ke dalam. Ia tersenyum ramah dan mencium tangan ibu Ashimah. Sedang Ashimah masuk ke dalam kamar tanpa mau melihatnya. Sebenarnya ada apa dengan gadis itu? Kenapa dia jadi marah begitu?
"Bapaknya ada Bu?" Tanya Dikau ketika tidak melihat Damar di sana.
"Bapak masih ngangkat pasir, lumayan ada pesenan nak Dikau." Jawab Amira ibu dari Ashimah. Dikau kemudian memberikan buku yang tadi Ashimah beli dan juga makanan Jepang yang memang ia siapkan untuk keluarga ini.
"Walah repot-repot nak bawa seperti ini."
"Duduk dulu Nak Dikau ibu buatkan minuman sekalian manggilin Ashimah."
"Tidak usah Bu, saya ingin langsung pulang." Setelah berpamitan dengan Amira. Dikau menghampiri Damar yang berada di sungai mengangkat pasir. Dikau menyisingkan lengan kemejanya sekaligus membuka sepatunya, mengambil pacul dan ember yang tergeletak di sana. Ia turun mendekat ke arah Damar yang masih sibuk memasukan pasir.
"Nak Dikau, apa yang kamu lakukan? Tidak perlu repot-repot membantu bapak." Ujar Damar yang kaget melihat Dikau membantunya.
"Tidak apa-apa pak. Lagipula membantu ayah saya sendiri itu tidak ada salahnya." Damar terharu mendengar itu, ia merasa beruntung memiliki Dikau menjadi menantunya. Pria itu tidak memandang sebelah mata keluarganya.
__ADS_1
Dikau berhasil mengangkat 5 ember pasir. Namun pacul yang ia gunakan tidak sengaja mengenai jari jempolnya. Dikau meringis sambil menahannya, ia tidak ingin terlihat lemah di mata Damar. Karena ia melihat beberapa luka yang membekas di tangan dan kaki Damar, benar-benar tangguh. Jadi ia harus terlihat kuat. Ia jadi kasihan dengan Damar yang harus mencari uang dengan cara seperti ini.
Dikau terkejut melihat Damar yang hampir ingin jatuh. Dikau langsung ikut memegangi ember yang di angkat Damar di pundaknya itu. Walau kakinya merasa sakit akibat terkena pacul tadi dan ditambah dengan tidak sengaja menginjak ranting yang tajam. Kaki kanan dikau merasa berdenyut menahan rasa perih.
"Terimakasih nak,"
"Lebih baik kita istirahat dulu pak. Sekalian ada yang ingin saya bicarakan." Damar mengangguk menuruti ucapan Dikau. Ia juga merasakan lelah di sekujur tubuhnya.
Baru saja mereka duduk, Ashimah datang membawa minuman untuk ayahnya. Dikau memandang Ashimah namun gadis itu malah membuang muka seakan tidak peduli padanya. Dikau menghela napas, nampaknya gadis itu sangat marah padanya. Damar menyadari itu, tapi pria itu hanya tersenyum.
"Jangan di bawa hati menghadapi Aci. Dia masih seperti anak kecil tingkahnya. Paling sebentar lagi ngambeknya ilang terus nempel terus sama kamu." Dikau mengangguk membenarkan ucapan Damar.
"Jadi apa yang ingin kamu katakan nak,"
"Ini buat bapak." Dikau meraih tangan Damar dan menaruh kunci itu disana.
"Ini kunci apa nak?" Damar terlihat bingung dengan apa yang Dikau berikan.
"Ini kunci ruko bengkel pak. Saya memiliki salah satu cabang bengkel di dekat sini. Saya ingin bapak yang mengelolanya. Agar bapak tidak bekerja Seperti ini lagi." Damar kaget mendengar itu, tanpa sadar pria paruh baya itu mengeluarkan airmatanya. Pria itu menangis haru, "Tapi nak, apa ini tidak terlalu berlebihan."
Dikau menggeleng, "Anggap saja ini hadiah saya sebagai anak bapak. Lagi pula saya dan Ashimah akan menikah, jadi sangat tidak sopan jika saya tidak memberikan bapak hadiah."
__ADS_1
"Terimakasih nak, kamu benar-benar baik. Andai kamu anak kandung bapak, pasti bapak akan sangat senang." Damar membawa Dikau ke dalam pelukannya. Dikau tersenyum senang dengan hal itu. Syukurlah Damar mau menerimanya, ia kira pria baya itu akan menolaknya mentah-mentah. Tapi hati Dikau masih janggal karena Ashimah yang marah padanya entah kenapa? Sepertinya dia harus menemui Firman untuk menanyai hal ini. Bahkan Dikau sampai lupa dengan luka di kakinya, karena hatinya lebih sakit karena Ashimah mengabaikannya.