
"Jadi kamu berpikir bisa mendapatkan hati saya dengan motivasi bisnis seperti di seminar itu." Ujar Dikau dengan nada tidak percaya, aku mengangguk yang aku ucapkan memang adalah hal yang sering aku dengar ketika aku ikut seminar wirausaha.
"Kamu benar-benar sudah gila."
"Aku tidak suka kamu mengikutiku terus. Kamu memang tidak malu mengejar-ngejar pria. Padahal kamu wanita." Ujar Dikau padaku, aku terdiam jujur aku terluka dengan perkataanya yang ada benarnya itu. Tapi apakah aku salah melakukan hal agar pria itu tahu perasaanku.
"Apakah aku salah mencintai mas Dikau?" Tanyaku. Langkah mas Dikau berhenti, ia berbalik menatapku. Untung saja lorong dekat perpustakaan sepi. Sehingga tidak ada yang melihatku.
"Ini pengalaman pertamaku mencintai seseorang. Mungkin mas Dikau pernah merasakan jatuh cinta beberapa kali. Apakah mas suka jika mas disuruh berhenti untuk mencintai orang yang mas suka?" mataku berkaca-kaca bahkan air mataku keluar membasahi ke pipi. Mas Dikau terdiam, ia seperti memikirkan sesuatu. Tapi aku tidak bisa membaca raut wajahnya, apa yang pria itu pikirkan. Aku ingin tahu.
"Apakah aku salah memiliki rasa ini?" Ujarku dengan berani. Pria itu masih diam tanpa menjawab pertanyaanku. Sudah kupastikan mas Dikau akan begitu.
"Kalau mas pikir aku akan berhenti. Maka mas salah, aku akan membuktikan jika aku lebih pantas mas cintai dari Kak Febri." Ujarku dengan nada penuh percaya diri.
"Aku akan buktikan kepada Mas Dikau jika cinta ini bukan CINTA SEMU yang seperti mas katakan." Aku menunjuk dadanya dengan jariku. Lalu aku pergi meninggalkannya. Aku sempat melihat dia menggumankan sesuatu tapi aku tidak tahu itu. Aku menghapus air mataku untungnya tadi aku tidak sampai menangis. Aku beruntung paling tidak aku bisa menyampaikan apa yang ada di hatiku. Walau aku tahu yang aku lakukan itu adalah hal gila. Tapi aku tidak peduli lagi. Aku hanya ingin jujur dengan perasaanku.
Aku berjalan meninggalkannya, enak saja dia bisa berkata seperti itu. Aku menghela napas sepanjang jalan. Sampai aku menubruk bahu Zila temanku.
__ADS_1
"Aci, lo ngapain?"
"Habis ngembaliin buku."
"Makan yuk ke kantin gua lapar." Ajak Zila padaku. Aku mengangguk mengikuti Zila.
Kami memilih duduk di pojokan karena jarang ada orang disana. Selain sepi juga adem Deket kipas.
"Aci lo masih ngejar Kak Dikau."
Aku mengangguk membenarkan. "Terus gimana progressnya."
"Punya ide ngak biar gua setiap hari ketemu mas Dikau. Paling ngak kata orang zaman dulu Tresna jalaran saka kulino (cinta itu datang karena terbiasa)"
"Gua ada ide gila. Satu Lo semester depan ambil mata kuliah magang buat kerja di perusahaannya mas Dikau. Jadi setiap hari Lo bisa ketemu doi deh."
"Emang bisa, kan kita nggak boleh ambil semester atas mata kuliah itu." Aku menatap Zila lesu. Pupus sudah harapannya untuk mendapatkan Dikau. Zila menggelengkan kepalanya lalu tertawa.
__ADS_1
"Dasar gila!"
"Lo tuh yang gila. Ngejar-ngejar cowok."
"Ini tuh namanya usaha."
"Tapi mana ada cowok yang suka dikejar-kejar. Mending Lo ganti gayalo."
"Maksud Lo?"
"Lo jadi cuek and jaim di depan Mas Dikau. Lo liat apa dia akan suka dengan perubahan sikap lo. Pasti dia akan bingung kenapa Lo nggak ngejar-ngejar dia lagi. Padahalkan doi bosen liat Lo ngejar-ngejar dia."
"Bener juga, tumben Lo pinter."
"Enak aja, Lo nya aja yang oon."
"Untung Lo teman gua. Kalao bukan gua sikat Lo."
__ADS_1
Vote and comment yak biar cerita ini bisa lanjut love you 😘😘😍