
-Dikau-
Ashimah kamu dimana?
Ashimah mengernyit melihat pesan dari Mas Dikau di WhatsApp-nya. Biasanya pria itu tidak pernah mengiriminya pesan lebih dulu. Dialah yang lebih dulu menghubungi pria itu. Ah mungkin Mas Dikau saat ini mulai perhatian padanya. Ashimah tersenyum membaca pesan itu.
-Ashimah-
Diruang pak dokter Alan.
-Dikau-
Cepat ke kamar saya. Saya mau menghubungi sekertaris saya.
Ashimah bingung membaca pesan itu. Kenapa pria itu menyuruhnya ke kamar hanya untuk menghubungi sekertarisnya? Bukannya pria itu bisa melakukannya sendiri. Buktinya pria itu bisa menghubunginya. Ashimah tak bisa menahan untuk tidak tersenyum pasti pria itu cemburu dan mengiranya sedang berduaan dengan Alan.
-Ashimah-
Bukannya ponselnya Mas Dikau yang pegang mas Dikau. Ini mas bisa kok chatingan Ama aci. Trus Aci harus ke kamar mas Dikau ngapain?
-Dikau-
__ADS_1
Tangan saya sakit buat nyentuh tombol ponsel. Pokoknya kamu harus kesini. Tidak ada bantahan!!!
Ashimah menatap ponselnya kesal karena. Astaga pria itu benar-benar aneh. Padahal saat ini ia sedang di kantin untuk makan siang. Sehabis pulang kuliah tadi ia belum sempat makan jadilah dia menyempatkan diri makan di kantin ini. Sebelum menghadapi pria menyebalksn itu, ia perlu energi.
Ashimah segera menyelesaikan makannya. Setelah itu membayarnya, namun ketika ia ingin menyerahkan uang ada yang lebih dulu mendahuluinya.
"Biar punya dia saya bayar sekalian Bu." Ashimah menatap Alan takjub, karena pria ini muncul tiba-tiba dan langsung menawarkan diri membayar makanannya.
"Pak Dokter, tidak perlu bayarin Aci. Aci bisa bayar sendiri."
"Nama saya Alan panggil saya Alan." Sepertinya pria bernama Alan itu menghiraukan keengganannya malah mengalihkan perhatian.
"Ah, iya maksud Aci Pak Dokter Alan tidak usah membayar makanan Aci."
"Kamu tidak ingin ke ruang Dikau?" Tanya Alan.
"Iya pak,"
"Bagus, ayo bareng. Ada yang ingin aku katakan pada kalian."
Kemudian mereka jalan bersama ke kamar Dikau sambil sesekali berbicara. Ketika keduanya masuk ke dalam kamar, itu semua tak lepas dari pengamatan Dikau pria itu tak suka melihat pemandangan itu. Ia tak suka jika Ashimah bersama dokter muda itu.
__ADS_1
"Assalamualaikum, mohon maaf pak Dikau. Saya ingin menyampaikan sesuatu. Sebelumnya pihak rumah sakit minta maaf atas keteledoran kami."
"Maksud dokter?" Potong Dikau yang merasa aneh dengan ucapan Alan.
"Hasil test anda tertukar dengan orang lain."
"Jadi Mas Dikau tidak menderita penyakit leukimia dok." Seru Ashimah mencela keduanya.
"Alhamdulillah pasien sehat wal'afiat. Pasien hanya kecapean saja, dan tekanan darahnya rendah." Dikau menghela napas lega mendengarnya.
"Kalau begitu saya permisi. Pak Dikau jika ingin pulang sudah kami persilahkan." Dokter muda itu pergi namun dia juga sempat mengerlingkan matanya ke arah Ashimah tentu saja hal itu membuat Ashimah tersipu.
"Pak dokter," panggil Ashimah sebelum dokter muda itu pergi.
"Ada apa?" Tanya Alan.
"Aci mau bayar makanan Aci yang tadi pak dokter bayar di kantin." Ujar Ashimah sambil mengeluarkan uang di dompetnya. Lalu mengulurkannya pada Alan.
"Saya meneraktir kamu, jadi itu gratis."
"Tapi pak, Aci jadi tidak enak."
__ADS_1
"Kamu simpan saja uang kamu." Alan langsung mengembalikan uang Ashimah ke dalam genggaman gadis itu. Alan juga sempat menggenggamnya tangan gadis itu sebentar.
"Ehmm." Dikau berdehem agar Ashimah dan Alan menyadari kehadirannya.