
Jangan lupa Vote and Coment 😘😍😉💕
Ashimah ketakutan, apalagi ketika mata pria itu menatapnya tajam. Baru Ashimah sadari jika Dikau tidak mengenakan kacamatanya. Pria itu tampak sangat tampan dan menakutkan secara bersamaan. Ashimah menelan ludah gugup. Ia takut jika Dikau akan melakukan hal yang lebih padanya. Apalagi disaat pria itu memajukan wajahnya ke depan.
"Mas," pinta Ashimah untuk menghindar. Tapi pria itu seakan tak mendengarkan dia malah terus mendekat. Ashimah pada akhirnya hanya diam dan pasrah apa yang akan pria itu lakukan padanya.
Ashimah terdiam tak kala mendengar Isak tangis. Pria itu malah menempatkan kepalanya pada bahu Ashimah. Ia tertegun, bahkan disaat tubuh tegap itu memeluknya erat. Mendekapnya penuh kekuatan seakan takut kehilangan. Ashimah menelan ludah gugup, jantungnya berdebar kesekian kali jika bersentuhan fisik dengan Dikau.
"Mas," panggil Ashimah. Tangan gadis itu bergerak membelai rambut Dikau. Ini kali pertamanya ia melihat pria itu lemah dan menangis. Pria itu terlihat rapuh saat ini, walau Ashimah tak dapat melihat wajahnya namun mendengar Isak tangisnya saja membuat hatinya tergores.
__ADS_1
"Maaf," ujar Dikau.
Kemudian Dikau bangkit dari atas Ashimah, namun dia merubah posisinya di sampingnya. Dikau melingkarkan tangannya di pinggang Ashimah. Ingin rasanya Ashimah menolak, karena ia merasa ini begitu intim tidur berdua di atas ranjang sambil berpelukan tanpa ada jarak yang memisahkan tanpa ada ikatan di antara mereka berdua.
Ashimah menelan ludah gugup, Dikau yang saat ini terlihat begitu rapuh walau pria itu belum menjelaskan sebenarnya apa yang terjadi dan apa yang membuat pria itu meminta maaf.
"Mas," cicit Ashimah tubuhnya terasa kaku. Ia takut dosa, tapi ia juga tidak bisa menolak ini. Rasanya dilema. Mau tidak mau Ashimah hanya diam sambil berdoa jika Dikau tidak melakukan hal yang lebih dari ini.
"Kamu tidak meminta saya untuk bercerita?" Tanya Dikau ketika Ashimah tidak mencoba mendesak untuk meminta penjelasan.
__ADS_1
Ashimah menggeleng, ia takut jika Dikau tidak bisa mengontrol emosinya kalau menceritakan hal yang tidak dapat pria itu ceritakan. Ashimah tidak ingin berakhir dengan mendapat sentuhan di sekujur tubuhnya dari Dikau.
Dikau terkekeh, "Seperti perjanjian kita. Kamu jangan meninggalkan saya apapun yang terjadi. Mengerti," Ucap Dikau tanpa ingin di bantah. Ashimah tersenyum miris mau tidak mau ia mengangguk, ia tidak punya pilihan lagi.
"Yang dikatakan orang-orang mengenai saya yang menggunakan uang judi itu benar." Ashimah terkesiap menatap Dikau tidak percaya. Pria yang terlihat baik ini menggunakan uang haram.
"Bodoh bukan saya. Waktu itu saya tidak ada pilihan untuk menyelamatkan perusahaan ayah angkat saya yang sudah saya anggap seperti ayah saya sendiri. Saya bermain bersama pemilik perusahaan-perusahaan besar. Saya menang dalam bertaruh, waktu itu saya mempertaruhkan vila pribadi saya. Kebetulan saya menang berturut-turut dan berhasil mengumpulkan aset senilai 100 milyar." Mata Ashimah membulat mendengar itu. Ia tidak percaya betapa hebatnya pria itu mampu menghasilkan uang sebanyak itu dengan pertaruhan yang kapan saja bisa membuat kita kehilangan apapun yang kita punya.
"Waktu itu saya sedang dilema penuh, setelah kehilangan wanita yang saya cintai. Saya juga kehilangan ayah saya. Walaupun saya hanya anak angkat. Tapi saya terpukul. Dipikiran saya hanya bagaimana cara mengumpulkan uang dan menyelamatkan perusahaan saya tidak ingin mama saya sedih dan terpuruk. Cukup dia kehilangan ayah, jangan sampai perusahaan yang ayah miliki juga pergi."
__ADS_1