
Dikau masuk ke dalam mobil. Ia menutup pintu, kemudian membuka sepatunya. Dikau menghela napas merasa pusing dengan sikap Ashimah yang cuek padanya. Ada apa dengan gadis itu? Bahkan sakit di kaki Dikau berasa tidak berarti lagi.
"Firman, kamu ada di rumah?" Tanya Dikau yang menghubungi Firman lewat ponsel.
"Kau lupa, seharian ini aku harus menggantikan pekerjaanmu di kantor." Dikau terkekeh ia baru ingat jika ia tadi menugaskan Firman menggantikannya karena dia ingin menemani Ashimah membeli ponsel.
"Aku akan kesana! Jangan pulang dulu."
"Sialan!" Umpat Firman yang langsung di tutup Dikau. Pria berkacamata itu mengetikan sebuah pesan pada Ashimah.
To: Ashimahnya Saya
Jangan lupa besok ke rumah ibu saya.
From: Ashimahnya Saya
Aci ngak mau jalan sama mas dikau lagi selama-lama-lamanya!!!!!!!!!!
Kening Dikau berkerut membaca itu. Sejak kapan Ashimah berani melawannya. Karena tidak ingin terjadi apa-apa disaat ia mengendarai mobil. Dikau menaruh ponselnya tanpa membalas pesan Ashimah. Ia ingin pergi ke kantor menemui Firman. Jika ia membalas pesan itu bisa dipastikan Dikau tidak akan bisa menahan untuk menabrakan mobilnya ke benda manapun.
__ADS_1
Dikau melajukan mobilnya dengan hati-hati. Begitu sampai kantor ia ke ruangan Firman. Terlihat pria itu sangat berantakan dengan berkas yang mengelilinginya.
"Butuh bantuan?" Suara Dikau membuat fokus Firman terpecah. Firman langsung bangkit menghampiri Dikau yang duduk di sofa.
"Sangat butuh."
"Obati kaki saya dulu."
"Apa?" Firman nampak kesal dengan jawaban Dikau. Karena pria itu malah menambahkan tugasnya. Untung saja dia bos, andai aja bukan sudah habis riwayatnya di tangan Firman.
Dikau dengan polosnya mengangkat kakinya ke atas meja dekat sofa. Tadi dia hanya mengenakan sandal, karena ia merasa perih. Bisa dilihat masih ada bekas darah dan luka lecet di sana.
"Apa yang terjadi?" Tanya Firman disaat selesai memasang perban di kaki Dikau.
"Hanya kecelakaan kecil."
"Firman," panggil Dikau melihat Firman yang tidak puas dengan jawabannya. Dikau yakin Firman ingin jawaban yang lebih dari itu.
"Kamu tahu kenapa Ashimah tiba-tiba bertingkah aneh dengan saya. Gadis itu tidak ingin menatap saya dan menolak ajakan saya."
__ADS_1
"Mungkin kau melakukan kesalahan yang membuat gadis itu marah?"
"Padahal tadi saya tidak merasa melakukan kesalahan apapun. Apa karena saya sita ponsel barunya ya?"
"Coba cerita dari awal." Pinta Firman.
Dikau menjelaskan semua kejadian mulai dari membeli ponsel, menyita ponsel gadis itu karena sibuk sendiri, beli buku di toko buku dan bertemu mantan tidak sengaja sekaligus mengajaknya makan siang bersama.
"Dia Cemburu." Jawab Firman, setelah menganalisis cerita yang Dikau paparkan. Ia menggeleng-geleng tidak percaya jika Dikau yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata tidak paham bahasa wanita yang sedang cemburu. Wanita mana yang tidak cemburu jika orang yang dicintainya dekat kembali dengan mantan.
"Kenapa Ashimah harus cemburu?"
"Dasar bodoh!" Firman bangkit duduk di sebelah Dikau.
"Aci cemburu kamu berdekatan dengan Febri." Dikau berpikir sejenak, kemudian menghela napas. Dia baru paham, apa yang membuat Ashimah marah. Di restoran ia hanya mengajak Febri berbicara dan mendiami Ashimah. Gadis itu pasti berpikir jika ia masih mencintai Febri.
"Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Dikau pada Firman.
"Putuskan saja." Dikau langsung menjitak kepala Firman. Yang disambut dengan gelakan tawa Firman. Dia senang melihat Dikau yang bingung.
__ADS_1
****