
Dibawah terik matahari Ashimah membawa rantang menyebrang ke rumah sakit. Ia naik angkutan umum ke rumah sakit. Tadi ia di rumah memasak makan siang untuk Dikau sekaligus sebagai permintaan maaf. Semalaman Ashimah menangisi kesalahannya. Karena dia Dikau harus kehilangan kakinya. Buruknya pria itu seakan tidak ingin didekatnya. Ashimah bertekad untuk mendapatkan maaf pria itu sekaligus membuat pria itu ceria seperti dulu. Walau ia yakini itu adalah hal yang mustahil.
Ashimah masuk ke dalam kamar rawat inap Dikau. Pemandangan seseorang yang sedang melamun dengan tatapan sendu seakan dunianya akan berakhir adalah hal pertama yang ia lihat. Ashimah sedih melihat itu, karenanya Dikau jadi terpuruk. Kakinya melangkah mendekat ke sosok itu. Jantungnya berdebar keras, ia takut jika Dikau akan mengusirnya lagi.
"Ada apa?" Dikau mengerutkan kening melihat sosok Ashimah yang kembali datang. Wanita itu tidak pernah kapok walau sudah di usir berkali-kali.
"Mas Dikau sudah makan?" Tanya Ashimah balik. Pandangan Dikau turun ke rantang yang di genggam Ashimah.
"Saya tidak lapar. Lebih baik kamu pulang saja." Ashimah menggigit bibir mendengar penolakan Dikau. Rasanya ia ingin menyerah.
__ADS_1
"Aci masakin buat mas." Ucap Ashimah kaku.
"Ckckck, kamu tidak dengar apa. Kalau saya itu tidak lapar!!!" Seru Dikau. Ia tersenyum dalam hati karena Ashimah jadi perhatian dengannya tinggal sedikit lagi untuk bisa memiliki wanita itu.
"Mas Dikau makan ya. Aci taruh makanannya disini." Ashimah tidak menyerah. Ia seakan tuli dengan apa yang Dikau katakan. Ia harus bisa membuat Dikau memaafkannya.
"Aci tidak akan pulang sebelum Mas Dikau menerima makanan yang dibuat Aci, setidaknya mas menghargai masakan Aci." Dikau menghembuskan napas kesal. Kemudian mengangguk, ia memanggil Firman yang duduk di sofa untuk mendekat.
"Kamu lapar?" Firman nyengir mendengar itu. Ini sudah jam makan siang, perutnya belum terisi apa-apa. Banyak pekerjaan yang harus ia urus karena drama yang dibuat bosnya ini.
__ADS_1
"Ini kamu bisa makan masakan ini." Dikau menunjuk rantang yang di taruh Ashimah di meja sebelah kasurnya. Mata Ashimah membulat mendengar itu. Ia tidak percaya jika Dikau bisa memperlakukannya seperti ini. Makanan itu ia buat untuk Dikau, tapi pria itu malah memberikannya untuk orang lain. Apa sudah tidak ada maaf lagi untuknya? Apa Dikau sangat membencinya? Bahkan pria itu seakan enggan menatapnya. Hatinya sakit diperlakukan seperti ini.
Firman tertawa kecil, ia merasa canggung dan tidak enak pada Ashimah. Apalagi melihat raut wajah Ashimah yang berubah sendu. Ia jadi kasihan dan bosnya yang aneh itu seakan menikmati lakon yang dia perankan.
"Kenapa kamu masih disini?" Tanya Dikau. Ucapan itu membuat Ashimah tersadar, hatinya terasa sakit atas pengusiran pria itu. Tidak cukupkah pria itu tidak menghargai pemberiaanya. Mata Ashimah berkaca-kaca, ia mengigit bibirnya menahan tangis. Pria itu sungguh kejam tapi Ashimah tidak akan menyerah.
Ashimah mengembangkan senyum yang sangat manis. Hingga membuat Dikau terpukau.
"Terimakasih mas, semoga mas cepat sembuh." Ujar Ashimah. Kemudian gadis itu pamit dan mengucapkan salam sambil keluar dari ruangan itu. Ashimah berlari ke taman rumah sakit.
__ADS_1
Ashimah duduk, airmatanya tak henti mengalir. Ia tidak menyadari jika ada sosok lain yang duduk di sampingnya.
"Kamu kenapa Aci?" Tanya sebuah suara maskulin yang sangat dikenalnya.