
"Terimakasih pak." Alan pamit undur diri. Dia sudah tidak enak di pandangangi Dikau dengan tatapan tajam. Sedang Ashimah langsung mundur teratur kembali ke tempat Dikau.
"Jadi tadi apa maksudnya?" Tanya Dikau seolah-olah mengintrogasi Ashimah.
"Tadi Pak Dokter bayarin makanan Aci di kantin." Dikau menggertakan giginya. Ia jadi teringat dulu ketika ia membayarkan makanan ke Febri. Ia melakukan itu karena tertarik dengan gadis itu. Maka kemungkinan besar Alan juga tertarik pada Ashimahnya.
"Lain kali jangan mau menerima hal seperti itu lagi," Ashimah mengangguk, kemudian membantu Dikau untuk minum.
Lalu Ashimah menatap ke arah Dikau, menatap pria itu bahagia. "Alhamdulillah ternyata mas baik-baik aja. Aci seneng dengernya. Kok bisa ketuker gitu ya padahal nama orang yang namanya Dikaukan jarang. Nama maskan unik."
"Tadi kamu ngapain ke ruangan dokter itu." Dikau seolah tidak peduli dengan yang Ashimah katakan. Pria itu mencari pembicaraan lain. Dan yang lebih penting dari pada membicarakan hal tersebut. Dia tambah curiga, katanya Ashimah tadi ke ruang dokter Alan namun kenapa tadi dia mengatakan jika Dokter Alan membayari makanannya di kantin. Dikau menemukan ke janggalan di ucapan Ashimah.
"Ah.. itu tadi....Aci.."
__ADS_1
"Kamu kenapa?" Dikau mencoba mengintimidasi Ashimah. Gadis itu gelagapan karena ketahuan berbohong.
"Katakan yang sebenarnya."
"Maaf, maafin Aci."
"Tadi Aci nggak keruangan Pak Dokter. Tapi Aci makan di kantin terus baru ketemu pak Dokter disana." Ujar Ashimah dengan nada pelan.
Ashimah tersenyum canggung, ia merasa gugup dan takut. Memang niat awalnya untuk mengerjai Dikau, tapi disinikan yang berbohong bukan cuma ia saja. Mas Dikau juga berbohong dengan mengatakan tangannya sakit tidak bisa menggunakan ponsel. Padahal pria itu sekarang sedang menggenggam ponselnya dan sesekali mengecek pesan.
"Mas Dikau juga bohong. Katanya tangannya sakit buat nelpon. Terus manggil Ashimah buat bantuin mas. Tapi kenyataannya tuh tangan megangin ponsel trus." Dikau terpaku, ia gelapan tapi ia berusaha membuat wajahnya sedatar mungkin.
"Memang benar saya berbohong. Karena saya tidak ingin kamu melakukan hal macam-macam dengan dokter itu di ruangannya."
__ADS_1
"Ingat, kamu itu sebentar lagi akan menikah dengan saya jadi kamu tidak boleh berdua-duaan dengan laki-laki manapun." Ujar Dikau membela diri sedang Ashimah cemberut dalam hati dongkol.
"Bilang aja cemburu," ujar Ashimah tanpa sadar.
"Kamu sengaja ya mau buat saya cemburu melihat kalian jalan berdua." Balas Dikau matanya menatap tajam Ashimah.
Ashimah langsung menunduk takut. Dia tidak menyangka jika Dikau bisa segalak ini apalagi tatapan matanya seakan-akan ingin melenyapkannya sekarang juga.
"Jangan berpikir saya cemburu dengan itu." Dikau langsung menenggelamkan dirinya pada ponsel tanpa berniat menatap Ashimah Kembali.
"Sebagai hukumannya, kamu rapikan barang-barang saya dan antar saya sampai rumah. Karena sore nanti kita akan pulang dari tempat ini agar kamu tidak mengacaukan emosi saya lagi." Ujar Dikau dengan nada tajam. Hatinya lelah dibuat kacau oleh gadis mungil ini. Bagaimana bisa gadis itu memporak-porandakan hidupnya? Hanya dengan kebohongan seperti itu. Dikau merasa dirinya sudah gila.
Ashimah menghembuskan napas berusaha sabar dengan apa yang Mas Dikau lakukan terhadapnya. Tapi ia tahu jika pria itu melakukan ini karena cemburu namun sayangnya ego pria itu terlalu besar untuk mengatakan jika di cemburu.
__ADS_1