Dikau Imamku

Dikau Imamku
Bab 11


__ADS_3

Dikau tidak tahu angin apa yang membuatnya berhenti disini, ditempat ia mengantar Ashimah kemarin. Ia jadi teringat peristiwa kemarin, ketika ia hampir saja memeluk Ashimah. Dikau menghembuskan napas, kini ia berdiri di depan gang tempat Ashimah menyuruhnya menurunkan, karena memang rumah gadis itu berada di dalam gang.


Dikau tidak tahu apa alasannya melakukan ini. Sepertinya ada yang salah dari otaknya. Kehadiran serta teror chat yang ia terima dari gadis itu membuatnya gila. Jujur Dikau risih, tapi dia sendiri tidak bisa mengartikan perasaannya.


Dikau tersenyum melihat Ashimah. Gadis itu nampak berlari-lari keluar gang. Pasti gadis itu kesiangan, sekarang sudah pukul 8.30 kemungkinan gadis itu memiliki jadwal di pukul 8.40. Dikau tersenyum, untung dia kesini jadi  dia bisa membantu Ashimah. Tapi ketika gadis itu menunggu bis lewat sebuah motor berhenti di hadapan Ashimah. Dikau penasaran siapa pria yang memakai helm itu. Ada hubungan apa dengan Ashimah. Gadis berkerudung coklat itu menaiki motor pria itu lalu menghilang dari pandangan Dikau.


Dikau tanpa sadar mencengkram erat stir mobilnya. "Padahal gadis itu kemarin mengejar-ngejar dia seperti orang gila. Sekarang lihat apa yang gadis itu lakukan, pergi bersama pria lain!" Guman Dikau dalam hati. Dia merasa tertipu dengan gadis yang 3 tahun lebih muda darinya itu. 


"Seharusnya aku tidak mempercayai ucapan anak kecil." Guman Dikau.


Dikau memutar balikkan mobilnya. Ia jadi tidak mood, lebih baik tadi dia pergi ke kantor bukan ke tempat ini. Ternyata memberikan sedikit hatinya saja bisa menyakiti hatinya, bagaimana jika ia memberikan seluruh hatinya, pasti hatinya akan habis tersakiti.


*****


Ashimah rasa ia sudah terlambat, apalagi bis yang tak kunjung datang. Untung saja ada Rai keponakannya yang tak sengaja lewat ketika dia menunggu halte.

__ADS_1


Ashimah berlari menuju ruang kelas. Nafasnya terengah-engah setelah menaiki tangga 4 lantai. Karena ruangannya berada pada lantai 4.3. Seandainya saja ada lift di universitasnya pasti dia akan tiba dengan cepat tanpa kecapean.


Ashimah langsung masuk ke dalam kelas. Beruntung sekali, dosennya belum datang. Semua teman-temannya hanya berdecak melihat Ashimah yang telat. Ashimah hanya tersenyum kecil. Ia kemudian duduk di belakang dekat sahabatnya Zila.


"Woi, telat Mulu untung pak Aminudin belum Dateng. Coba kalau dia udah dateng ngak bisa masuk kelas Lo." Ujar Zila.


"Gua kesiangan,"


"Perasaan ngk ada tugas deh. Kok Lo bisa kesiangan, ngelembur apa Lo semaleman?" Tanya Zila.


"Kemarin gua habis dianterin pulang Ama mas Dikau." 


"APA????"


"Jangan keras-keras nanti banyak yang tahu." Zila meringis, ia menatap minta maaf pada Ashimah.

__ADS_1


"Terus?"


"Tiba-tiba dia mau cium gua, tapi gak jadi."


"WOW, Lo serius!." Hanya itu yang bisa Zila katakan. Ashimah mengangguk membenarkan.


"Terus apa hubungannya sama Lo yang terlambat."


"Masa harus gua kasih tau sih!" Ujar Ashimah kesal.


"Gara-gara itu gua ngk bisa tidur Zil. Semaleman gua mikirin itu sampe setres. Bayangin aja betapa stoknya gua saat Mas Dikau ngelakuin itu. Gua bertanya-tanya apa alasannya? Tapi gua ngk pernah Nemu jawabannya. Kan gua gila gara-gara mikirin itu Zil." Ashimah mencoba menjelaskan.


"Ckckck.."


"Dasar gila!"

__ADS_1


__ADS_2