
Dikau membawa Ashimah ke salah satu conter hp di mall. Pria itu ingin mengganti ponsel Ashimah yang telah ia pecahkan. Ketika sampai di sana, Dikau meminta Ashimah untuk memilih. Dikau ingin ke toilet sebentar.
Ashimah bingung ingin memilih ponsel apa. Apalagi harga yang tertera di sana sangatlah mahal, walau ia yakin bagi Dikau itu tidak seberapa. Tapi rasanya sangat sayang sekali membuang uang sebanyak itu untuk membeli ponsel.
"Ashimah," sapa seseorang. Reflek Ashimah menoleh, ia terkejut mendapati dokter Alan di sini. Sudah lebih dari seminggu sejak kejadian di rumah sakit itu. Mereka tidak pernah berjumpa. Kebetulan yang menyenangkan.
"Pak dokter, apa kabar?"
"Alhamdulillah,"
"Kamu mau beli ponsel?" Tanya Alan.
"Iya, bapak sepertinya juga."
__ADS_1
"Iya soalnya ponsel buat urusan pribadi saya hilang." Ashimah mengangguk pasti dia menggunakan dua ponsel untuk pekerjaannya.
"Boleh minta nomer kamu?" Ucap Alan, Ashimah tersenyum kecut. Boro-boro punya nomer ponselnya saja hancur berkeping-keping.
"Itu pak nomer saya ganti belum beli. Bagaimana kalau akun Instagram saya saja pak?" Tawar Ashimah.
Alan mengeluarkan ponselnya ia nampak tidak keberatan dengan tawaran Ashimah. Salahnya juga meminta nomer ponsel disaat gadis itu membeli ponsel pasti Ashimah kehilangan ponselnya jadi dia belum punya nomer ponsel yang bisa di hubungi.
"Nanti saya DM kamu," Ashimah mengangguk.
"Jadi kamu mau beli ponsel apa?"
"Bingung pak," jawab Ashimah.
__ADS_1
"Ini saja Samsung Galaxy M20. Terjangkau harganya buat mahasiswa." Ashimah menelan ludah, ia sih bener harganya 2.175.000 itu udah rata-rata harga ponsel yang dimiliki temanya. Tapi tetep aja buat dia harga segitu mahal, apalagi ini di bayarin sama Mas Dikau yang statusnya bahkan belum jelas dengannya. Tapi ngak apa-apakan lagian pria itu juga yang sudah menghancurkan ponselnya. Jadi dia bebas memilih ponsel manapun yang dia maukan?
"Iya pak, terimakasih." Kemudian Alan meminta penjaga toko itu untuk melihat ponsel itu. Baru saja Alan ingin menyerahkan pada Ashimah. Sebuah tangan merebutnya dan menaruh ponsel itu kembali ke atas etalase.
"Carikan ponsel dengan kualitas terbaik dan harga termahal mbak," suara Dikau membuat semua mata tertuju padanya terkhusus Alan yang tidak menyangka jika Ashimah jalan berdua dengan pria yang pernah merendahkan harga dirinya itu. Alan yang merasa terjebak di situasi yang mencengkam ini langsung pamit pada Ashimah dan tentunya juga dengan Dikau. Tapi Dikau hanya mengangguk menatap Alan sinis. Dikau tidak suka dengan pria yang mendekati Ashimah. Hanya dirinya yang boleh mendekati Ashimah.
Kemudian pegawai tersebut memberikan ponsel yang harganya 10 juta. Hal itu membuat Ashimah terkejut, bahkan ia memandang Dikau tidak percaya disaat pria itu dengan santainya membayar ponsel tersebut dan memasangkan kartu pada ponsel itu.
"Pakai ini," mau tidak mau Ashimah mengangguk. Ia menuruti pria itu. "Besok sepertinya kita harus benar-benar menikah agar tidak ada lagi pengganggu," ucap Dikau. Jantung Ashimah langsung berdebar mendengarnya. Demi apapun dia belum siap untuk menikah saat ini.
"Tapi mas, itu terlalu cepat." Mereka keluar dari toko ponsel tersebut sambil berjalan bersisian.
Dikau menghembuskan napas kasar, "Minggu depan atau sekarang?" Ancam Dikau sambil menghentikan langkah Ashimah lalu mendekat ke arah Ashimah menghimpit tubuh Ashimah ke dalam dekapanya. Karena banyak orang yang mengamati dirinya, Ashimah terpaksa mengatakan "Minggu depan," pria itu tidak pernah lihat tempat untuk mengancamnya.
__ADS_1