
Belum ada konfliknya yah?😐😁😁 Aku juga ngerasa gitu. Habis enakan gini santai serasa cerita ini ngak bisa ditamatin dan dilanjut terus aja. Karena setiap buat konflik gagal terus..
****
"Ceroboh." Tapi gadis itu malah tersenyum manis padanya. Sialnya Dikau terpaku dengan gadis itu yang masih belum menyerah ikut membantu walau pada akhirnya gadis itu hanya merepotkannya karena tidak kuat.
"Kamu diam saja dari pada jatuh. Nanti saya yang repot." Ujar Dikau.
"Ngak mau."
"Wah sudah penuh. Makasih anak-anaknya bapak yang sudah mau bantu."
"Sama-sama."
"Kalau gitu bapak mau pergi dulu."
"Biar saya yang menyetir pak." Tawar Dikau yang dibalas anggukan Damar. Sedang Ashimah yang ingin ikut tidak diperbolehkan karena tidak muat. Gadis itu pergi dengan wajah memberengut sebal. Dikau terkekeh menyaksikan itu.
__ADS_1
***
Mobil mereka sampai kesebuah rumah. Dikau dan Damar mulai menurunkan pasir dengan sekop di halaman rumah itu. Setelah selesai pemilik rumah itu memberikan dua lembar ratusan ribu ke Damar.
Dikau kaget, ia tidak menyangka jika kerja keras pria paruh baya itu hanya dibayar dengan harga segitu. Padahal tidak sebanding dengan tenaga yang sudah Damar keluarkan. Dikau menjadi tahu betapa sulitnya mencari uang. Dia bahkan bisa mengumpulkan uang sebanyak 1 Milyar perbulan tapi pria itu sehari dibayar 200 ribu dengan kerja keras seperti itu.
Kemudian mereka menaiki mobil dan Kembali ke rumah. Dikau yang menyetir agar Damar bisa istirahat di dalam mobil.
"Bapak sudah kerja seperti itu berapa lama?"
"Hampir 2 tahun nak Dikau. Yang penting halal lagi pula hanya itu yang saya bisa."
"Kamu mampir istirahat dulu ya di rumah. Siapa tahu Ashimah memasak makanan untuk kamu?" Dikau tersipu mendengar itu. Ia jadi membayangkan Ashimah melayaninya ketika ia lelah dan memasak makanan untuknya.
****
Benar seperti yang dibilang Damar. Ashimah memasak untuknya, hanya makanan sederhana tapi terasa lezat. Dikau sudah lama tidak memakan masakan rumahan seperti ini.
__ADS_1
Mereka berdua makan di depan televisi yang menayangkan berita.
"Adik-adik kamu kemana?"
"Mereka TPA mas."
"Oh.." Dikau memakan nasi sambal terong dengan tempe goreng lahap. Ashimah terkekeh melihat itu.
"Mas dikau suka sama masakan Aci."
Dikau mengangguk tanpa sadar. Karena rasa masakan Aci memang enak dan pas di lidahnya.
"Mas capek tidak bantu bapak?"
"Tidak." Ujar Dikau walau sebenarnya yang terjadi sebaliknya. Pundaknya sakit karena mengangkat berat sekaligus menurunkan pasir se-mobil angkut itu.
"Kalau capek bilang aja nanti Aci pijetin." Dikau langsung tersedak mendengar itu. Ia jadi membayangkan yang tidak-tidak. Walau itu cuma ucapan tapi tetap saja memancing kelakiannya. Apalagi Aci yang nampak cantik dengan pakaian rumahnya bahkan pakaian itu tertutup tapi tidak bisa menghilangkan pikiran kotor di otak Dikau yang menginginkan gadis itu menyentuh seluruh tubuhnya. Kerudung langsungan putih dengan rok panjang biru beserta kaus putih.
__ADS_1
"Ni minum mas. Pelan-pelan kalau makan. Aci ngak bakal ngambil punya mas Dikau." Dikau meringis, ia merasa Ashimah masih polos yang tidak mengerti apa yang ia ucapkan. Andai Aci tahu jika ucapannya mempengaruhi dirinya.
"Terimakasih." Dikau meminum air itu sampai tandas. Kemudian melanjutkan makannya kembali, tidak menghiraukan Ashimah yang bercerita panjang lebar tentang film yang ditontonya.