
Satu Minggu setelah pertemuan itu. Mereka melangsungkan pernikahan di salah satu hotel milik Dikau. Pria itu membuat pesta yang meriah dan mengundang ribuan orang. Ashimah hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Dikau yang menginginkan pesta yang mewah. Katanya sekali seumur hidup jadi harus berkesan. Bukan hanya berkesan namun juga melelahkan karena dia harus berdiri menyalami tamu undangan yang sangat banyak itu. Ashimah menduga jika Dikau mengundang seluruh karyawan perusahaannya untuk datang.
Ashimah merebahkan diri di kasur. Setelah acara selesai ia langsung membersihkan diri dan mengganti gaun pernikahannya dengan gaun tidur. Dikau masih di dalam kamar mandi.
Ashimah memejamkan matanya. Ia harus tidur sebelum pria itu keluar. Ia takut jika Dikau meminta haknya. Jujur ia belum siap untuk melakukan itu. Ia masih ingin mengenal Dikau lebih jauh.
Ashimah memeluk guling erat namun ia merasakan hembusan napas di lehernya. Itu pasti Dikau, disusul dengan dekapan erat di perutnya.
"Jangan pura-pura tidur, Ashimah." Bisik Dikau. Ashimah masih dalam pendiriannya ia terpejam dan tidak bergerak. Tubuhnya diam dan kaku. Elusan dipunggung membuatnya merinding.
"Ashimah." Dikau tidak menyerah. Tangannya sekarang mengelitiki perut gadis itu. Ia berusaha untuk membangunkan Ashimah.
__ADS_1
"Mas anu.. anuu... Aci... Belummm-" Ashimah gugup saat ini mereka saling berhadapan satu sama lain.
"Kamu kenapa sih?" Tanya Dikau melihat kegugupan Ashimah. Padahal dia tidak menakuti gadis itu. Ia hanya ingin menunjukkan sesuatu.
"Itu Aci belum siap." Dikau tertawa mendengar itu, padahal ia tidak berpikir sejauh itu. Kemudian tangannya mengacak rambut Ashimah.
"Aku tidak akan memaksa sayang. Sekarang ada hal yang lebih penting." Kening Ashimah mengernyit tidak mengerti. Dalam hati ia bernapas lega. Karena Dikau tidak memaksanya.
"Apa?" Tanya Ashimah bingung.
Dikau bangkit kemudian dia bersender di kepala ranjang. Meminta Ashimah untuk tidur di lengannya. Ia sudah mempersiapkan ini sedari dulu. Ia ingin memanjakan Ashimah dengan cara nya sendiri. Agar gadis itu nyaman dengan nya.
__ADS_1
"Taadda!!" Dikau mengeluarkan sebuah buku dan tablet. Pria itu tersenyum penuh kesombongan.
"Itu buat apa?" Tanya Ashimah bingung. Ia bingung dengan jalan pikiran suaminya itu. Dikau sangatlah ajaib dan banyak drama. Bahkan kemarin saja sampai rela masuk rumah sakit. Seharusnya dikau itu menjadi artis saja. Lebih cocok mengingat akting nya sangat bagus dan tidak pernah gagal. Bodohnya dia yang sering kali di bohongi pria yang telah menjadi suami nya itu.
"Seperti janjiku kemarin. Aku ingin menjadi pria yang manis dan tidak kasar. Maka dari itu ayo kita buat list bulan madu kita. Apa saja yang akan kita lakukan lalu kita kerjakan sama-sama." Terang Dikau dengan lembut. Tangannya mengelus rambut Ashimah sayang. Ia tak menyangka ia bisa move on dari Febri dan menikah dengan Ashimah.
"Ini terdengar aneh." Ucap Ashimah. Sedangkan Dikau tertawa. Lalu menciumi wajah Ashimah dengan bibirnya. Rasanya ia ingin melakukan lebih seperti bercinta dengan penuh gairah sampai menjelang subuh lalu sampai malam lagi tapi ia berusaha menahannya. Sabar ini bukan waktu yang tepat. Ia tidak ingin Ashimah takut padanya. Jadi Dikau berusaha untuk pendekatan dulu. Apalagi Ashimah nya ini masih polos.
**
jangan lupa follow Instagram author ♥️ @wgulla_
__ADS_1