Dikau Imamku

Dikau Imamku
BAB 6


__ADS_3

Ashimah berseru senang. Ia berhasil mendapatkan nomer ponsel Dikau dari Pak Habibie. Ini adalah langkah yang tepat untuk PDKT untung pak Habibie tidak mencurigainya. Karena ia mengatakan ia hanya ingin berterimakasih pada Pak Dikau karena mau menjadi sponsor beasiswanya.


Ashimah melihat jam menunjukkan pukul 9 malam. Ia rasa ini waktu yang tepat. Waktu dimana orang menjelang tidur. Ashimah menghubungi Dikau melalui ponselnya.


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam." Dering pertama langsung diangkat.


"Siapa?" Tanya Dikau Singkat. Ashimah terkikik geli. Ia membayangkan wajah kaku Dikau yang menebak-nebak penelponnya.


"Ashimah."


"APA?"


"Dari mana kamu bisa mendapat nomer ponsel saya?"


"Pak Habibie." Terdengar suara desahan disana. Dikau sepertinya kesal tapi tak bisa ia lampiaskan.

__ADS_1


"Ada apa kamu menelpon saya."


"Saya ingin mengucapkan terimakasih." Mendengar itu sambungan langsung tertutup. Ashimah menatap ponselnya marah.


"Dasar sombong."


"Kita lihat saja tuan yang tidak ingin bicara. Kamu akan bertekuk lutut padamu."


"Awas saja nanti jika udah jadi suamiku. Kamu akan kubiarkan jadi suami takut istri." Ashimah meyakinkan dirinya. Ia percaya jika Allah itu maha pengasih lagi maha penyayang. Allah pasti kasihan dengannya yang terus-menerus mengejar jodohnya. Dan saat itu karena Allah sayang padanya maka Allah akan membolak-balikan hati Dikau untuk menyukainya. Ashimah percaya itu.


"Bismillahirrahmanirrahim. Dengan seluruh kekuatan yang Allah punya, pasti Dia akan membantu hamba-nya yang tidak berdaya ini." Setelah mengucapkan itu Ashimah kembali membuka ponselnya.


-Mas Dikau tadi tidak kehujanankan. Mas Dikau harus banyak istirahat. Jangan sakit. Kalau sakit nanti Mas Dikau ngk bisa jagain aku lagi.-


Ashimah tersenyum senang ketika pesan itu berhasil dia kirim. Tapi pesannya tidak di balas. Hanya dibaca saja, karena tanda centang dua berwarna biru itu. Ashimah mengetik lagi.


-Save nomer aku Mas. Ini Ashimah calon istri mas.-

__ADS_1


-Ingat Aku ASHIMAH.-


Ashimah mengetik pesan sekali lagi. Ia tidak peduli. Malunya sudah terputus lagi pula tidak ada salahnya untuk mengusahakan mendapatkan jodoh yang baik bukan. Mana ada wanita yang tidak ingin mendapatkan jodoh yang tidak baik. Walaupun wanita itu buruk sekalipun pasti mereka ingin pria yang baik sebagai kepala keluarga mereka.


Setelah mengetik pesan itu Ashimah menaruh ponselnya. Ashimah kembali menekuri laptopnya. Ia kembali membuat laporan makalahnya. Huh, ia juga harus tumbuh menjadi gadis pintar. Untuk menambah poin plus di mata Dikau Tondo Prasetyo.


"Mas Dikau, tidak akan menyesal jika menikah denganku. Selain pandai mengurus rumah. Aku juga pandai dalam membuat bisnis plan." Ujar Ashimah sambil melanjutkan tugasnya. Ia berjanji akan menjadi lebih baik. Jodoh cerminan kita bukan. Mas Dikau pintar, berarti ia harus pintar.


****


-Mas Dikau nggak perlu balas pesanku. Aku tahu mas Dikau sibuk. Cukup Mas baca pesanku saja, itu artinya mas tidak pernah benar-benar mengabaikanku."


"Karena mas mau meluangkan waktu mas buat membaca pesan tak jelas ini. 😘😘😍😍"


Dikau menyesal membuka pesan dari mahluk astral itu. Rasanya ia seperti di jebak. Dan mahluk ajaib itu benar-benar memiliki positif thinking yang kuat. Hingga menerjemahkan semua bentuk sikapnya menjadi perhatian.


Dikau langsung mematikan ponselnya, namun ia tak menyadari jika bibirnya membentuk senyum kecil. Dikau kembali menyusun proposal yang akan besok ia presentasikan untuk restaurant barunya.

__ADS_1


Apa ia sebegitu menyedihkan di tinggal Febri? Hingga adik tingkatnya mengejar-ngejar dia seperti orang gila.


__ADS_2