
"Bagaimana Ashimah?" Ashimah mengigit bibirnya. Jika ia menolak tentu ibu bapaknya akan kecewa padanya. Karena Dikau selama ini selalu berbuat baik pada keluarganya.
"Bukankah kamu tulus mencintai saya." Bisik Dikau. Mau tidak mau Ashimah mengangguk hal itu membuat Dikau bersorak kesenangan. Lalu mereka bangkit menyambut kedua orang tua Ashimah.
"Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian terlihat seperti habis bertengkar?" Tanya ibu Ashimah. Kemudian Dikau menjelaskan sesuatu yang membuat orang tua Ashimah tersenyum maklum.
*****
"Mas Dikau curang!" Seru Ashimah menantapnya Dikau sengit. Pria itu menyeringai, saat ini mereka berdua di dalam ruang rawat inap. Kedua orang tua Ashimah sudah keluar.
"Aci belum memaafkan mas!"
"Dosa loh menyimpan dendam sama calon suami." Ujar Dikau, mereka sedang duduk berdua dengan kursi yang bersebrangan.
__ADS_1
"Biarin lagian mas hobi menjebak Aci."
"Yang penting kita jadi menikah."
"Tapi.."
"Sampai kapan kau akan menunda-nunda pernikahan kita."
"Ah.. itu" Ashimah gelagapan, memang benar apa yang Dikau katakan. Seharusnya dia dan Dikau sudah menikah sejak kapan tahu. Namun ia hanya sedikit ragu menikah dengan Dikau. Bukankah dia sudah menerima konsekuensinya jika menikah dengan Dikau termasuk masalalunya yang buruk. Tidak ada yang bisa Ashimah lakukan lagi selain pasrah. Ashimah hanya takut jika Dikau akan melakukan kesalahan yang fatal.
"Percaya sama saya Ashimah. Saya mencintai kamu. Kalau kamu mencari alasan apapun lagi untuk menghentikan ini, saya hanya ingin mengatakan sesuatu tidak ada manusia yang sempurna. Jika kamu mencari yang sempurna tentu itu tidak ada dalam diri saya. Kesempurnaan hanya milik Allah. Maafkan saya dan masalalu saya Ashimah." Dikau mendekat ke arah Ashimah. Bersimpuh di bawah kaki gadis itu. Matanya berkaca-kaca menatap Ashimah.
"Salahkah jika saya mencintai kamu?"
__ADS_1
"Salahkah jika saya mengharapkan kamu? Apakah tidak ada harapan lagi untuk saya?" Ashimah bungkam mendengar itu. Apalagi tatapan frustasi Dikau membuatnya tak tega. Ia merasa jahat karena telah memperlakukan Dikau seperti ini. Ia tidak pernah tahu jika pria itu kalut. Ia tidak pernah tahu jika pria itu begitu mencintainya. Mengingat sikap angkuh Dikau yang selalu pria itu perlihatkan.
"Beritahu saya Ashimah. Bagaimana cara mencintai kamu? Beritahu saya bagaimana caranya agar kamu menerima saya apa adanya?" ucap Dikau putus asa. Ia tidak tahu lagi bagaimana caranya agar Ashimah tetap tinggal di sisinya..
"Haruskah saya menggunakan cara yang keras. Menyeretmu ke KUA (Kantor Urusan Agama) sekarang juga. Untuk menjadikanmu milik saya."
"Jawab Ashimah apa yang harus saya lakukan?" Ujar Dikau dengan nada bergetar.
Melihat Dikau semakin kacau dan bersimpuh dikaki nya sambil menangis. Membuat Ashimah tidak tega. Entah datang dari mana datangnya keberanian itu. Ashimah bergerak memeluk tubuh tegap itu. Membawanya ke dalam kehangatan. Lalu membisikkan sesuatu yang membuat Dikau tenang.
"Berjanjilah untuk tetap menjadi Dikaunya Ashimah." ucap Ashimah di telinga Dikau dengan lembut.
***
__ADS_1
jangan lupa follow Instagram author @wgulla_