Dikau Imamku

Dikau Imamku
BAB 20


__ADS_3

"Mungkin dia kelelahan karena harus menyiapkan lebih dari 3 project untuk 2 hari kedepan."


Aku menghela napas kasar. Seharusnya kemarin aku melarang pria itu membantu ayahku. Ini pasti tidak akan terjadi. Apalagi pria itu memiliki kesibukan di kantor. Pasti pria itu tidak akan kelelahan dan waktu istirahatnya berkurang. Aku jadi merasa bersalah. Ini semua salahku.


"Bertahanlah." Aku berbisik sambil menggenggam tangannya.


*****


Mas Dikau masuk ke dalam ruang gawat darurat dan langsung ditangani dokter. Sedangkan Firman mengurus biaya administrasi, aku menunggu Mas Dikau di luar ruangannya berharap pria itu tidak apa-apa. Aku berdoa dalam hatiku tiada henti mengharap kesembuhannya.


"Bagaimana keadaannya dok?" Tanyaku saat aku melihat seorang dokter keluar dari ruangan mas dikau.


"Kamu keluarganya?" Tanya dokter tersebut padaku.

__ADS_1


"Saya istrinya dok." Ujarku bohong. Aku tidak peduli jika berdosa sekalipun. Aku tak bisa melihat pria yang aku cintai terbaring tak berdaya seperti itu. Aku ingin tahu apa yang terjadi pada Dikau. Setidaknya aku akan tahu bagaimana merawat pria itu.


"Kalau begitu ikut keruangan saya." Perintah dokter, aku mengikuti dokter pria paruh baya itu ke dalam ruangannya yang tak jauh dari ruangan dimana Mas Dikau dirawat.


"Kekebalan tubuh pasien menurun. Ia sepertinya kelelahan."


"Dokter tidak usah terbelit-belit. Saya yakin ada sesuatu yang terjadi pada suami saya. Karena saya sempat melihat darah mengalir dari hidung suami saya" Ujarku tidak sabar.


"Pasien menderita leukemia," aku terdiam mendengar itu, tanpa sadar air mataku menetes. Apa mas Dikau selama ini sakit? Tapi kenapa dia tidak pernah memberitahuku. Kenapa dia menyimpan penyakit mematikan ini sendirian. Mungkin karena kami yang baru mengenal, atau pria itu belum menyadari penyakitnya. Tapi mana mungkin jika ia tidak tahu dengan keadaan tubuhnya sendiri.


"Insya Allah bisa. Suami anda masih pada tahap CML (fase kronis), tyrosine kinase inhibitor dia dapat bertahan selama bertahun-tahun. Jika suami anda tidak menunjukkan kekambuhan, dia tidak perlu melakukan transplantasi sumsum tulang. Tetapi jika suami anda kambuh atau merasakan rasa sakit, sebaiknya melakukan transplantasi sumsum tulang."


"Berarti dia baik-baik saja dok dan tidak memerlukan penanganan khusus."

__ADS_1


"Dia tidak akan mati meninggalkan sayakan dok." Aku berusaha memastikan penyakit mas Dikau walau dokter bilang baik-baik saja. Aku tidak percaya karena banyak sekali orang yang meninggal karena penyakit itu. Leukemia bukan penyakit sembarangan yang harus ditanggapi dengan santai.


"Suami anda masih di tahap awal jadi tidak perlu dikhawatirkan. Hanya pola hidup sehatnya harus di jaga dan dia tidak boleh kecapean." Ujar dokter berusaha meyakinkanku. Bisakah aku percaya? Aku mengangguk pada akhirnya. Walau aku kurang puas.


"Tapi pasien belum bisa pulang dan harus dirawat inap kurang lebih 3 hari untuk memulihkan diri."


"Baik dok, kalau begitu saya pergi."


"Terimakasih dokter."


*****


Aku berjalan gontai menuju kamar mas dikau. Aku tersenyum melihat wajahnya yang terlelap. Aku belum bisa percaya di balik sikap dinginnya ia menyimpan penyakit ini.

__ADS_1


Aku akui kalau aku benar-benar jatuh cinta pada pria ini. Pria yang berusaha aku kejar untuk mendapatkan cintanya walau aku sering mendapatkan penolakan tapi aku tidak pernah menyerah. Aku tidak bisa membayangkan jika aku harus kehilangannya secepat ini. Disaat aku belum bisa menunjukkan rasa cintaku padanya.


Aku menggenggam tangannya erat. Mulai saat ini aku berjanji akan menjaga pria ini dengan seluruh hidupku.


__ADS_2