Dikau Imamku

Dikau Imamku
BAB 5


__ADS_3

"Cukup Mas baca pesanku saja, itu artinya mas tidak pernah benar-benar mengabaikanku"


-


-


Ashimah masuk ke dalam rumahnya. Ia bersyukur sampai rumah dalam keadaan selamat walau ia harus kebasahan. Ini adalah resiko memberikan payung pada pria itu. Tapi Ashimah tidak menyesal karena itu tidak sebanding dengan apa yang pria itu lakukan demi masa depannya.


"Kamu nggak pake payung, kak." Tegur ibunya.


Ashimah cengengesan, "Ashimah lupa bawa Bu." Ashimah tahu berbohong itu dosa. Tidak mungkinkan dia bilang payungnya ia berikan pada seorang laki-laki. Ibunya pasti akan marah padanya. Lebih baik berbohong, berbohong demi kebaikan bolehkan. Batin Ashimah terus bertengkar.


"Dasar ceroboh." Omel ibunya.


"Lain kali periksa dengan teliti. Sekarang lagi musim hujan. Jangan sampai kamu sakit. Keluargamu itu bukan keluarga yang punya. Lebih baik mencegah dari pada mengobati. Kasian bapakmu tiap hari kerja." Omel ibunya.


"Iya Bu. Ashimah janji lain kali Ashimah akan bawa payung."


"Cepat sana ganti baju. Terus makan, ibu ngak mau kamu sakit."

__ADS_1


"Siap Komandan!!"


*****


Dikau awalnya ragu untuk mengenakan payung merah ini. Tapi melihat hujan yang tak kunjung reda. Akhirnya ia terpaksa membentangkan payung itu.


Dikau berjalan dengan payung yang melindunginya dari hujan itu. Mobilnya terlihat dekat, Dikau tersenyum ia tidak akan terlambat rapat jika begini.


Dikau menutup payungnya dan melempar payung itu ke kursi belakang. Dikau mendesah berarti ia harus mengembalikan payung itu pada Ashimah. Kenapa gadis itu begitu ingin mendekatinya? Padahal ia sudah menolaknya. Apalagi kata-kata gadis itu tadi yang bilang.


"Tak apa jika aku kehujanan dan jatuh sakit, kalau kamu yang kehujanan dan sakit. Maka tidak akan ada yang bisa menolongku lagi." Dikau menggelengkan kepalanya, bisa-bisanya dia berpikir seperti itu. Mungkin gadis itu sudah gila.


Dia mungkin boleh patah hati. Tapi ia tidak boleh patah semangat untuk membangun masa depannya. Dikau menuju ruang rapat, setiap sebulan sekali akan selalu ada rapat pengembangan dan inovasi produk. Baginya waktu adalah uang. Bahkan ia tidak akan segan-segan memecat karyawan yang tidak mengalami peningkatan kinerja dalam waktu 6 bulan.


"Saatnya bekerja."


*****


Ashimah berseru senang. Ia berhasil mendapatkan nomer ponsel Dikau dari Pak Habibie. Ini adalah langkah yang tepat untuk PDKT untung pak Habibie tidak mencurigainya. Karena ia mengatakan ia hanya ingin berterimakasih pada Pak Dikau karena mau menjadi sponsor beasiswanya.

__ADS_1


Ashimah melihat jam menunjukkan pukul 9 malam. Ia rasa ini waktu yang tepat. Waktu dimana orang menjelang tidur. Ashimah menghubungi Dikau melalui ponselnya.


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam." Dering pertama langsung diangkat.


"Siapa?" Tanya Dikau Singkat. Ashimah terkikik geli. Ia membayangkan wajah kaku Dikau yang menebak-nebak penelponnya.


"Ashimah."


"APA?"


"Dari mana kamu bisa mendapat nomer ponsel saya?"


"Pak Habibie." Terdengar suara desahan disana. Dikau sepertinya kesal tapi tak bisa ia lampiaskan.


"Ada apa kamu menelpon saya."


"Saya ingin mengucapkan terimakasih." Mendengar itu sambungan langsung tertutup. Ashimah menatap ponselnya marah.

__ADS_1


"Dasar sombong."


__ADS_2