Dikau Imamku

Dikau Imamku
Bab 33


__ADS_3

Ashimah bersyukur jika ponselnya tertinggal bersamanya di kasur pria itu. Itu artinya dia punya peluang besar untuk kabur dari tempat ini. Ia jadi punya cara untuk menghubungi Firman, sekertaris Dikau. Agar pria itu menyelamatkannya.


Mumpung Dikau entah pergi kemana. Ashimah tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia harus pulang dan pergi dari sini sebelum ayahnya mencarinya. Ia tidak ingin ayahnya berpikir buruk dengan Dikau. Karena tidak memulangkannya.


To: Firman


Tolong aku dikunciin Mas Dikau di kamarnya fir.


From: Firman


Saya lagi di kantor mengurus beberapa berkas. Coba kamu keluar dari balkon kamar Dikau. Karena disana juga langsung terhubung sama tangga bawah.


Ashimah tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia langsung bergegas ke balkon. Apa yang dibilang Firman benar, bahwa balkon itu berbeda dengan rumah-rumah lainnya. Karena langsung terhubung ke kolam renang dan tangga yang menuju bawah. Aneh sekali rumah yang dibuat Dikau apa pria itu tidak takut di maling. Mungkin saja biar lebih mudah jika memiliki dua tangga di dalam dan diluar.


Ashimah tersenyum senang kalau begini kabur bukanlah hal yang sulit. Baru saja ia ingin keluar, tangannya di cekal seseorang. Belum juga kabur tapi sudah ketahuan. Ashimah merutuki kebodohannya yang terlalu semangat.


"Mencoba untuk kabur?" Ashimah menelan ludahnya mendapati Dikau yang tidak tau sejak kapan masuk ke kamar. Ia menggeleng kecil.


"Bagus," Dikau langsung menutup pintu balkon itu lalu menguncinya. Dikau menarik tubuh Ashimah, menggotongnya lalu melempar Ashimah ke kasur dengan kasar.


"Mas, Aci mau pulang." Rengek Ashimah ketika jatuh di kasur. Ia takut jika Dikau akan melakukan hal yang lebih padanya. Berdua di dalam kamar dengan pria yang bukan mahram itu tidak baik. Ia takut Dikau lepas kendali.


"Saya sudah izin ayah kamu. Kalau kamu mau menginap disini." Mata Ashimah langsung membola mendengar itu. Bagaimana bisa ayahnya dengan mudah memberikan izin kepada Dikau? Apa yang Dikau katakan pada ayahnya? Ashimah menjadi panik.


"Tapi mas,"


"Jangan banyak bicara. Saya tahu kamu sedang berusaha untuk melarikan diri dari sayakan."


"Kalau ia kenapa?"


"Lagian kalau mas mau nikahi saya, mas punya apa? Mas pasti ngak bisa kasih nafkah aku. Aku ngak mau makan pake uang haram." Tantang Ashimah ketika Dikau semakin merapatkan tubuhnya ke Ashimah. Ia merasa terdesak merasakan jarak sedekat ini. Demi tuhan inikan ngak boleh, ini termasuk zina tidak? Ashimah menelan ludahnya menahan rasa takut. Takut jika Dikau akan berbuat lebih jauh.


"Siapa bilang semua uang saya haram? Perusahaan ayah saya hanya sebagian kecil dari harta yang saya punya saat ini. Jadi misal saya menjualnya tidak masalah kamu tidak akan hidup miskin." Ucapan Dikau telak membuat Ashimah terdiam.


Dikau menyeringai "Kalau begitu kita menikah lusa," ujar Dikau telak tanpa ingin di bantah.

__ADS_1


"Apa?" Ashimah langsung mendorong dada Dikau kuat dengan tangannya ternyata berhasil. Ashimah langsung mundur ke sandaran ranjang. Bergerak menjauh dari Dikau.


"Kita menikah." Ucap Dikau sekali lagi. Ia berusaha untuk mendekat ke arah Ashimah.


"Tidak mau," Ashimah mencari ponsel yang tadi ia taruh di kasur tapi ia tidak menemukannya. Ia ingin menelpon siapapun untuk menyelamatkannya, sungguh ini kali pertama ia terjebak dalam situasi seperti ini.


"Bukannya dulu kamu yang mengejar-ngejar saya." Ashimah menelan ludah, bukannya ia tidak mau menikah dengan Dikau tapi ia tidak ingin menikah secepat ini. Ashimah mencari ponselnya kembali, ternyata gerakannya itu terlihat oleh Dikau.


"Mencari ini sayang," ujar Dikau menyeringai. Sedetik kemudian pria itu membanting ponselnya ke lantai.


"Tidakkkk," teriak Ashimah ketika melihat Dikau menghancurkan ponselnya. Itu satu-satunya ponselnya, tanpa sadar Ashimah menangis. Sekarang ia tidak punya ponsel lagi, padahal ayahnya membelikan untuknya susah payah, ia juga harus ikut membantu ayahnya mengangkat pasir hanya untuk bisa membeli ponsel itu.


"Kamu jahat hiks..hiksss.. aku benci kamu." Dikau seakan tak peduli dengan tangisan bahkan airmata dari Ashimah.


Dikau bergerak menghimpit Ashimah kembali. "Kamu tahu kenapa saya membanting ponsel kamu?" Ashimah menggeleng tidak mengerti ia terisak, ia takut melihat wajah Dikau saat ini. Yang tidak menunjukan wajah lembut tapi kasar dengan tatapan tajam. Ia juga masih marah karena pria itu menghancurkan barangnya, dia tahu dikau kaya bukan berarti pria itu bisa seenaknya.


"Karena kamu menghubungi Firman. Sekali lagi saya tahu kamu meminta tolong dia, maka saya tidak akan segan-segan menghancurkan Firman seperti ponsel itu." Ashimah menggeleng, ia tidak ingin itu terjadi. Ini salahnya dan Firman tidak salah apa-apa. Ia tidak ingin Firman menanggung kesalahan yang sama sekali tidak ia perbuat. Isaknya semakin kencang.


"Jangan lakukan itu, Firman tidak melakukan kesalahan apapun. Dia hanya mau membantu Aci."


"Kalau begitu turuti apa kata saya. Jika kamu tidak ingin Firman celaka," ancam Dikau.


Ashimah terdiam, ia masih mencerna apa yang Dikau katakan. Namun ia langsung tersentak ketika merasakan pelukan hangat tangan Dikau di pinggangnya dan hembusan nafas Dikau di bahunya.


"Kita tidur, dan jangan mencoba untuk kabur." Mau tidak mau Ashimah menurut. Ia tidak punya alasan untuk menolak. Walau jantungnya terus berdebar merasakan sentuhan Dikau. Ini kali pertama ada pria yang melakukan hal ini padanya. Tapi tubuhnya masih bergetar, ia masih memikirkan ponselnya yang bernasib malang disana.


"Tenanglah, saya tidak akan berbuat jauh. Kecuali jika kamu melawan saya. Maka saya tidak akan segan-segan membuat kamu hamil. Soal ponsel nanti saya berikan yang baru," ujar Dikau ketika ia melihat gerik mata Ashimah yang masih menatap ponselnya yang telah ia rusak.


Ashimah terdiam, ia bergidik ngeri mendengar ancaman Dikau. Ia tidak ingin hamil di luar nikah bagaimanapun alasannya. Pasti orangtuanya akan membencinya jika itu terjadi.


Ashimah hanya bisa pasrah, ia memejamkan matanya. Meski terasa sulit tapi ia tetap mencoba. Sayup-sayup ia mendengar suara Dikau bernyanyi. Ini kali pertama Ashimah mendengar Dikau bernyanyi. Merdu sekali suaranya. Walau Ashimah tidak tahu apa artinya, karena Dikau menyanyikan lagu daerah. Ashimah menikmati lagu itu. Hingga ia tidak sadar lagu itu membuatnya terlelap dalam dekapan Dikau.


"Biasonyo kito baduo


Diramang ramang malam ko"

__ADS_1


"Cingkariak babunyi ditangah malam


Babisiak bisiak sayang"


"Jari manari galau pun pai


Den patiak gitar baok banyanyi


Untuang-untuang lai batamu sayang


Mandakek lah di hati"


"Den jago janji jo kato harok


Den timbang juo jo raso sayang


Nyampang kok hiduiak batamu elok


Usah lah cameh ondeh diak sayang"


"Harok-harok denai hiduiak di rantau


Samantaro adiak denai tinggakan


Lah bausaho denai pagi jo patang


Rasaki alun juo takambang"


"Lah bausaho denai mancari untuang


Padiah padiah juo malah kironyo


Pokok lah habiah galeh tauncang


Badan den sansai kama batenggang

__ADS_1


Yo sansai... yo lenyai.. marasai"


"Kamu milikku Ashimah, hanya saya,"


__ADS_2