
SAKIT
Aku duduk di taman kampus. Kemarin Mas Dikau mengatakan akan menjemputku, aku disuruhnya menunggu disini. Pria itu ingin membawaku ke suatu tempat. Aku senang sekali bisa berkencan berdua dengannya.
Aku tidak sabar menunggu hari ini. Bagaimanapun dulu Dikau sering menolakku habis-habisan tapi pria itu sekarang sudah mau menerimanya. Bukankah itu sebuah kemajuan.
Aku sudah menunggunya lebih dari 30 menit tapi ia tidak nampak. Aku gelisah bahkan pesanku tak ada satupun yang di balasnya. Apa yang terjadi padanya? Terlintas di pikiranku untuk mendatangi kantornya.
Aku menghela napas sepertinya menunggu 30 menit lagi tak apa. Jika Mas Dikau tak kunjung datang maka aku akan pergi ke kantornya untuk melihat keadaan pria itu. Jujur aku khawatir, terjadi sesuatu padanya.
Aku memandangi awan di langit yang mulai kelabu. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Untung saja aku bawa payung, paling tidak jika hujan turun nanti aku bisa berlindung di sana.
__ADS_1
Angin berhembus ke arahku. Aku mendesah sambil melantunkan beberapa lirik untuk membunuh bosan. Ternyata menunggu rasanya membosankan.
Aku melirik jam di ponselku ternyata sudah satu jam lebih aku disini. Menunggu pria itu, aku dilema untuk tetap menunggunya atau pulang. Namun hatiku memutuskan untuk pergi ke tempat kerjanya. Aku takut terjadi apa-apa dengan Mas Dikau. Apalagi kemarin Dikau membantu ayahku untuk mengangkat pasir. Aku takut jika Mas Dikau jatuh sakit karena itu.
Aku berlari ke halte. Langsung menaiki bis yang tiba. Aku duduk dengan cemas berharap bisa cepat sampai ke kantor Mas Dikau. Untungnya jalanan tidak macet.
Setelah tiba di kantor Mas Dikau. Aku langsung ke ruangannya. Tanpa mengetuk pintu aku masuk ke dalam. Aku melihat pria itu duduk sambil menelungkupkan kepalanya di meja. Aku berjalan cepat menghampirinya.
"Astaghfirullah," aku terkejut melihat darah yang mengalir dari hidungnya. Dan pria itu terlihat tidak sadarkan diri. Tanpa sadar aku menangis, mataku berkaca-kaca. Tubuhku bergetar kaku, aku bingung mau melakukan apa. Aku tidak akan mungkin kuat menggotong pria itu. Aku menghapus airmataku cepat, aku tidak boleh sedih, aku harus kuat. Aku harus mencari bantuan.
Pada akhirnya aku berlari, tepat saat itu aku bertemu Firman sekertaris Mas Dikau. "Ada apa?" Ujarnya melihat wajahku yang khawatir.
__ADS_1
"Mas Dikau dia pingsan," ujarku sedih, aku menarik tangan pria itu tanpa sadar untuk membawanya cepat ke Mas Dikau. Firman terkejut mendapati mas dikau dalam keadaan tidak berdaya, tanpa aku minta dia langsung membawa mas Dikau keluar aku juga ikut membantunya membawa Mas Dikau walau berat ke dalam mobil. Banyak sekali karyawan yang terlihat khawatir untung saja ada beberapa karyawan laki-laki yang peka untuk menggantikanku menopang tubuh mas dikau yang berat.
Aku gelisah, disepanjang jalan aku tiada henti mengucapkan doa dan merapalkannya. Aku takut jika suatu yang buruk menimpa pria itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Ujar Firman sambil mengemudi.
"Entah, ketika aku datang Mas Dikau sudah tak sadarkan diri." Aku membersihkan darah yang mengotori wajahnya.
"Apa mas Dikau punya penyakit?" Aku bertanya pada Firman yang sudah lama bekerja dengan Mas Dikau.
"Aku tidak tahu. Dia begitu tertutup padaku." Ujar Firman apa adanya.
__ADS_1