
Kerja Keras
"Bapak baru ingat, tadi bapak meninggalkan pekerjaan bapak. Saking buru-burunya ke rumah untuk ngambil ember." Ujar pria paruh baya yang bernama Damar. Walau sudah tua tapi tubuhnya masih nampak kekar bahkan wajahnya masih terlihat muda. Mungkin karena faktor memiliki keluarga yang bahagia. Dikau menduga itu melihat keluarga ini begitu bahagia dalam kesederhanaan.
Kemudian pria paruh baya itu pamit untuk kembali bekerja. Dikau juga ikut pamit. Namun Dikau tidak pulang diam-diam ia mengikuti ayah Ashimah. Dikau penasaran dengan pekerjaan ayah Ashimah.
Kening Dikau berkerut melihat pria itu membawa ember ke belakang rumah yang ternyata terdapat sungai di sana. Dikau mengamati Damar dari jauh, bahkan ketika Damar turun ke sungai yang berada di bawah seperti jurang. Lalu Damar mencangkul pasir dan memindahkannya ke ember kemudian memanggil ember itu ke atas dan menuangkannya ke mobil pengangkut pasir seorang diri.
Dikau terhentak melihat itu muncul rasa iba. Ia melangkah tanpa ia sadari. Kemudian menggulung lengan panjangnya menuruni jurang itu. Ia tidak peduli jika bajunya akan kotor. Bahkan sepatu kerjanya masih melekat dikakinya.
"Dikau, apa yang kamu lakukan disini?"
"Saya ingin membantu bapak."
"Tidak usah, saya bisa mengerjakan ini sendiri."
"Tidak apa-apa pak. Lagi pula sebentar lagi saya juga akan menjadi anak bapak. Jadi tidak ada salahnya jika saya membantu ayah saya sendiri." Damar tersenyum senang mendengar perkataan Dikau. Ia jadi tidak salah memilih calon suami untuk Ashimah.
"Bapak yang masukkan pasir ke ember biar saya yang mengangkatnya ke mobil angkut."
__ADS_1
"Kamu yakin kuat."
"Bapak saja yang tua mampu. Kenapa saya yang masih muda tidak bisa?" Damar tertawa tanpa sadar. Ia menepuk pundak Dikau lalu mencangkul pasir ke ember yang sebesar ember bekas Chat yang besar itu.
Dikau melakukan hal yang Damar lakukan tadi. Ternyata berat sekali rasanya. Baru kali ini Dikau merasakan kerja berat seperti ini. Tapi ia sangsi untuk terlihat lemah di hadapan mertuanya. Karena Damar saja yang sudah berumur masih sanggup kenapa dirinya tidak.
"Kamu yakin kuat?" Damar menatap Dikau tidak yakin. Ia takut jika pria muda itu sakit karena belum terbiasa melakukan pekerjaan seperti ini.
"Kuat, bapak tenang saja."
"Yasudahlah kalau itu maumu. Lagipula hanya tinggal 5 ember lagi sudah penuh angkutan bapak."
"Iya, habis ini langsung bapak Anter ke pelanggan."
"Bapak nurunin sendiri?"
"Bapak belum sanggup bayar orang nak. Makannya bapak melakukan semuanya sendiri."
"Nanti Dikau ikut ya bantu bapak."
__ADS_1
"Kamu yakin" dikau mengangguk.
Disaat ember penuh, Dikau melihat ada 2 ember kecil di hadapan mereka.
Dikau membulat melihat Ashimah yang ikut kesini.
"Kamu ngapain ke sini?" Tanya Dikau.
"Bantu bapak angkat pasir."
"Kamu pulang aja sana istirahat, kamu pasti sengajakan kesini buat ketemu sama saya." Usir Dikau, ia takut bocah manja itu merusak kerjaan bapaknya.
"Kok mas dikau tau." Ashimah langsung menutup mulut karena merasa keceplosan. Ia malah berpura-pura kesal terhadap Dikau. Dikau memutar bola mata mendengar itu ia sudah bisa menebak apa yang ingin Ashimah lakukan.
"Mas dikau itu yang seharusnya pulang." Usir Ashimah.
"Kalian yang mau bertengkar atau bantu bapak."
Lalu mereka mengangkat pasir bersama. Dikau berulang kali menolong Ashimah yang hampir jatuh saat naik ke atas.
__ADS_1
"Ceroboh." Tapi gadis itu malah tersenyum manis padanya. Sialnya Dikau terpaku dengan gadis itu yang masih belum menyerah ikut membantu walau pada akhirnya gadis itu hanya merepotkannya karena tidak kuat.