
Ashimah berjalan cepat untuk mencapai halte. Bis yang akan dia naiki sudah sampai. Mata kuliah hari ini sangatlah melelahkan dan buruknya waktunya di tambah sehingga dia harus telat pulang.
Napas Ashimah tersenggal. Badanya seperti lari maraton, kakinya berdenyut. Mungkin karena dia harus menuruni tiga lantai dan masih di tambah jarak kelas ke halte lumayan jauh.
Senyum Ashimah mengembang berhasil mencapai gerbang kampus. Halte tepat berada di seberangnya. Bis yang ditunggunya juga masih disana. Dikerahkan seluruh kekuatannya untuk menghadang bis itu. Sialnya banyak sekali kendaraan yang lewat. Ia kesulitan untuk menyebrang.
__ADS_1
Ashimah memalingkan wajahnya ketika mendengar namanya di panggil. Matanya membulat mendapati Dikau Tondo Prasetya berjalan mendekat ke arahnya. Sudah hampir dua Minggu mereka tidak bertemu. Jantung Ashimah berdebar tanpa sadar. Rasa rindu itu datang menjalar di hatinya. Dikau terlihat lebih tampan dari biasanya walau hanya mengenakan kemeja putih dan celana kain hitam. Ashimah terpesona.
Dikau tersenyum membalasnya. Sontak Ashimah tersadar ia memalingkan wajah. Segera untuk menyebrang. Nasibnya sial! Bis yang akan di tumpanginya pergi. Ashimah berdecak ini semua karena dia terpesona pada Dikau. Bisa-bisanya ia terpesona padahal ia sendiri yang sudah berjanji untuk tidak akan berdekatan dengan pria itu lagi.
"Ashimah." Suara maskulin itu membuat punggungnya menegang. Ia berjalan cepat meninggalkan Dikau. Ternyata pria itu malah mengejarnya. Ashimah mempercepat langkahnya. Namun dengan sigap pria itu menarik tangannya. Membuat ia terlonjak tubuhnya diputar paksa dan bertabrakan dengan dada bidang milik Dikau.
__ADS_1
"Untuk apa bapak mengejar saya?" Alis Dikau mengernyit mendengar panggilan Ashimah. Sejak kapan ia menjadi bapak gadis itu.
"Apa bapak tidak mengerti dengan apa yang pernah saya katakan untuk tidak bertemu lagi? Apa bapak tuli tidak bisa mendengar perkataan saya waktu itu? Apa bapak bu-" belum sempat Ashimah melanjutkan ucapannya. Dikau mengeluarkan sebuah kotak perhiasan yang di dalamnya terdapat cincin.
"Terserah kamu mau mengatakan jika saya itu bodoh, tuli, buta, bisu atau apapun itu. Yang terpenting adalah saya bisa terus mencintai kamu. Ashimah, jangan pernah menolak saya untuk memiliki kamu seutuhnya." Mereka tidak sadar jika menjadi tontonan orang-orang yang berbisik-bisik dan memandang iri terhadap Ashimah. Bahkan Ashimah baru menyadari jika mereka bertengkar di pinggir jalan.
__ADS_1
Pria itu mendekat lalu berbisik, "Masih ingat perjanjian kita dulu. Kalau kamu berani menolak harus membayar denda 10 milyar." Ashimah menegang mendengar itu. Ia tidak akan lupa peristiwa dimana ia masih tergila-gila dengan Dikau. Bahkan menyetujui tanda tangan tanpa berpikir panjang. Karena yang ada dipikirannya adalah menjadi milik Dikau.
"Ternyata kamu sama saja. Tidak pernah berubah masih suka mengancam." Ucap Ashimah sambil menatap tajam Dikau. Kemudian ia berbalik meninggalkan Dikau. Baru beberapa langkah ia menyebrang. Ia mendengar suara teriakan. Lalu tubuhnya terlempar. Suara ban berdecit membuatnya berpaling, saat itu ia melihat kaki Dikau di lindas motor. Mata Ashimah melotot tanpa sadar ia menangis. Rasa khawatirnya mengalahkan egonya, ia merasa bersalah karena telah membuat Dikau celaka. Ashimah berlari menghampiri Dikau. Pria itu terbaring sambil menahan sakit. Orang-orang mengerubungi Dikau.