
Dikau menghembuskan napas kasar, "Minggu depan atau sekarang?" Ancam Dikau sambil menghentikan langkah Ashimah lalu mendekat ke arah Ashimah menghimpit tubuh Ashimah ke dalam dekapanya. Karena banyak orang yang mengamati dirinya, Ashimah terpaksa mengatakan "Minggu depan," pria itu tidak pernah lihat tempat untuk mengancamnya.
"Mas Dikau Ashimah mohon untuk tidak menyentuh Ashimah sebelum kita menikah, seperti tadi." Ujar Ashimah ketika Dikau melepas pelukannya.
"Kenapa?" Ujar Dikau tanpa dosa. Ashimah menatap Dikau kesal, pria itu pernah belajar agama tidak sih. Bukannya dia sekolah di universitas Islam sama seperti dirinya.
"Itu termasuk Zina mas. Ada hadist yang melarang pria dan wanita bersentuhan jika mereka belum menikah. Dosa tau nggak," Dikau hanya menaikan alisnya mendengar itu. Dikau tidak peduli.
Ashimah mendengus kesal karena Dikau nampak biasa saja. Pria itu malah menundukkan tubuhnya mendekatkan wajahnya ke arahnya. "Kalau begitu kita menikah sekarang. Agar saya bisa bebas menyentuh kamu. Termasuk mencium bibir kamu yang mengundang saya untuk menciumnya sekarang juga disini." Ashimah membelalakkan matanya mendengar itu. Reflek ia langsung menutup mulutnya.
Dikau terkekeh kemudian memundurkan tubuhnya. "Jangan banyak bicara jika kamu saja terus menghindar. Jangan salahkan saya jika saya tidak bisa menahan hasrat untuk tidak menyentuh kamu. Jika kamu terus-menerus mencari alasan untuk menunda pernikahan kita." Sindiran itu telak membuat Ashimah malu. Dikau menyindirnya karena ia terus mengulur waktu pernikahan mereka.
"Besok temani saya menemui ibu saya untuk membicarakan perusahaan ayah saya." Ashimah mengangguk mendengar itu. Kemudian ia mengikuti langkah kaki Dikau yang membawanya pergi entah kemana.
"Kamu suka nonton?" Tanya Dikau.
"Suka," Jawab Ashimah.
__ADS_1
"Saya tidak suka, sepertinya menonton sangat membosankan." Balasan pria itu membuat Ashimah dongkol. Ia mengelus dadanya sabar. Kalau tidak mau menonton untuk apa meminta pendapat darinya, jika pada akhirnya pria itu tidak menginginkannya. Untung saja ia cinta pada mahluk tampan ini. Jika tidak sudah pasti sudah ia tinggalkan sekarang juga.
"Bagaimana kalau ke karaoke saja?"
"Terserah, Aci nurut mas Dikau" jawab Ashimah tidak peduli.
"Sepertinya tidak usah. Bahaya jika kamu makin terpesona dengan suara indah saya." Ashimah menggeleng-geleng tidak percaya dengan ucapan Dikau. Saat itulah sebuah pesan masuk di Instagramnya ternyata dari Alan. Sudut bibir Ashimah tersenyum membalas pesan pak dokter itu.
AlanER
Hay
Ashimah_Kyla
AlanER
Minta nomer WhatsApp kamu
__ADS_1
Ashimah_Kyla
085642180007
"Jangan bermain ponsel disaat sedang bersama saya." Dikau langsung merebut ponsel Ashimah dan menaruh di saku jasnya. Ashimah merenggut tidak suka dengan perlakuan Dikau. Baru saja ia memegang ponsel tapi begitu cepat juga ia kehilangan benda itu.
"Sepertinya kita ke toko buku saja,"
"Apa?" Ashimah menatap Dikau tidak percaya. Tapi pria itu dengan semangat masuk ke dalam toko buku. Ashimah mengehela napas kasar. Kenapa dia bisa menyukai pria itu?
"Mas Dikau?" Panggil Ashimah mengejar langkah Dikau.
"Iya," jawab Dikau sambil memilih-milih buku yang akan di belinya.
"Lain kali aku yang nentuin kita mau pergi kemana gitu boleh ngk?" Dikau mengangguk. "Tentu saja." Ashimah tersenyum senang, namun ketika Dikau tidak memperhatikannya ia menyeringai. Kali ini ia akan buat Dikau kalah darinya.
"Aci boleh beli novel ngak?"
__ADS_1
"Jangankan novel, toko buku ini aja kalau kamu mau bisa saya beli." Nohkan siapa juga yang ngak akan terpesona dengan pria yang murah hati ini walau bibirnya tajam setajam silet. Ashimah tersenyum kemudian memilih buku yang dia idam-idamkan. Enaknya punya calon suami kaya.