
Ashimah mengikuti langkah Dikau memasuki rumah milik pria itu. Rumah yang di tempati Dikau ialah Rumah yang terdiri dari tiga lantai dan menggunakan material kayu sebagai lantai, jendela-jendela dengan ukuran besar, dan taman yang berada di atas. Desain rumah ini diberi nama "Rumah Kotak Kayu".
Ashimah terkagum-kagum melihat desain rumah ini. Rumah yang hampir seluruh bangunannya identik dengan kayu, membuat kesan natural terlihat mewah namun nyaman.
"Ayo masuk," ujar Dikau ketika Ashimah nampak diam mengagumi rumahnya.
"Jangan seperti orang norak, nanti kamu juga akan tinggal disini bersama saya setelah menikah." Ucapan Dikau membuat Ashimah sadar dari lamunannya. Ia cemberut merasa akhir-akhir ini perkataan Dikau sangatlah tajam dan menyakitkan. Apa ini watak asli pria itu? Ashimah tidak bisa membayangkan jika ia akan hidup bersama orang ini. Walau memang pada awalnya pria ini suka menolaknya dengan keras dan bodohnya dia yang tetep ngotot berusaha mengejar Dikau.
__ADS_1
"Sekarang duduk." Ashimah menuruti perintah Dikau. Pria itu juga duduk di sofa depannya.
"Seperti yang tadi saya katakan. Bahwa kamu tidak akan bisa lepas dari saya. Maka saya putuskan untuk membuat surat perjanjian pra pernikahan. Jika salah satu dari kita melanggar surat tersebut maka ia akan mendapatkan hukuman seperti yang tertulis di sana." Ashimah membulatkan matanya tak percaya dengan perkataan Dikau. Ia merasa takjub bisa-bisanya pria itu melakukan perjanjian di pernikahan mereka. Apa pria itu mulai meragukan cintanya dan tidak percaya pada dirinya? Lagi pula untuk apa surat perjanjian? Emang pria itu pikir pernikahan ini main-main.
"Firman bawa kesini suratnya." Teriak Dikau pada Firman untuk mengambilkan surat yang tadi Dikau minta untuk dibuatkan.
Firman datang membawa selembar map coklat. Map itu diberikan kepada Dikau. Setelah menerima surat itu Dikau menyuruh Ashimah membacanya.
__ADS_1
"Mas Dikau untuk apa membuat surat seperti ini. Ashimah berjanji tidak akan meninggalkan Mas Dikau sampai saat kita menikah." Ujar Ashimah dengan nada sungguh-sungguh.
"Ucapanmu belum cukup kuat untuk dijadikan alasan agar tidak meninggalkanku. Karena suatu saat nanti kamu akan punya 1000 alasan disaat tahu kehidupanku yang lebih dalam lagi." Balas Dikau dengan nada serius, tersirat suatu hal misterius yang Dikau sembunyikan. Pria itu seperti menyembunyikan hal yang tidak diketahui Ashimah. Pasti bukan karena Febri karena perihal itu sudah menjadi rahasia umum di kampusnya siapa saja pasti sudah tahu kisah tersebut.
"Saya perlu hitam di atas putih untuk mengekang kamu. Ashimah." Ashimah menelan ludah gugup. Dikau yang saat itu berada di hadapannya sungguh berbeda dengan Dikau yang dikenalnya kemarin.
"Tapi apa yang Mas Dikau tulis tidak masuk akal. Masa kalau Aci selingkuh Aci harus bayar denda 100 Milyar. Itu namanya pemerasan, uang darimana Aci dapat segitu." Firman yang sedari tadi berdiri di samping Dikau yang duduk, ia menonton perdebatan antara keduanya tersenyum geli. Apalagi dengan ucapan Ashimah yang sangat memelas jika ia tidak suka dengan perjanjian yang dibuat tuannya itu.
__ADS_1
"Jadi kamu berniat selingkuh dari saya." Dikau langsung mencela ucapan Ashimah.
Ashimah menggelengkan kepalanya tanpa sadar. "Bukan gitu maksudnya Mas.. tapiii..."