Dikau Imamku

Dikau Imamku
Bab 18


__ADS_3

Setelah berkutat dengan peralatan dapur untuk membuat es teh dan membawa beberapa gorengan pisang yang tadi ibu masak. Aku membawa semua itu ke ruang tamu. Aku nampak mengernyit melihat bapakku yang sudah ada disana. Kapan bapak tiba di rumah? Seingatnya bapak selalu pulang sebelum magrib.


Mereka nampak akrab seperti keluarga. Aku jadi semakin penasaran apa yang Dikau lakukan pada keluargaku. Sehingga mereka akur satu sama lain.


Aku menaruh apa yang kubawa. Memberikan minuman pada orang-orang disana. Sekaligus menyajikan makanan yang ku bawa tadi. Baru saja aku ingin pamit pergi. Ibu menghentikan langkahku.


"Aci kamu mau kemana?"


"Duduk dulu disini. Ada yang ingin Dikau sampaikan."


Aku terpaksa duduk di kursi seberang Dikau. Rumahku sangat sederhana tapi rapi. Kursi yang kami miliki memang tidak sebagus furniture milik orang-orang kaya. Tapi sudah cukup bagus dan layak digunakan.

__ADS_1


"Jadi nak Dikau apa yang ingin kamu sampaikan."


"Kedatangan saya kesini untuk menyampaikan niat baik bapak ibu Ashimah."


"Saya ingin melamar putri bapak dan ibu sebagai istri saya."


"Sebelumnya saya minta maaf karena belum bisa membawa keluarga saya. Karena saya ingin terlebih dahulu mendengar izin bapak ibu. Setelah itu saya akan kembali lagi kesini dengan keluarga saya untuk melamar Ashimah." Dikau dengan suara yang rendah menyampaikan itu. Aku terkagum melihat dirinya yang pandai mengendalikan dirinya.


Aku menatap bapakku yang nampak terkejut ibuku pun begitu. Mereka tampak bingung tapi kemudian mereka langsung merubah raut wajah mereka. Aku berharap Dikau tidak mengatakan pada orangtuaku tentang aku yang suka mengejar-ngejar pria itu untuk menikahiku. Kalau orangtuaku sampai tahu tamatlah riwayatku. Karena telah berbuat gila.


"Karena saya mencintai putri bapak ibu." Ujar Dikau dengan tegas. Aku terkesiap mendengar itu. Aku pikir Dikau akan menceritakan semua kejadian yang telah aku lakukan untuk pria itu. Aku juga bingung sejak kapan pria itu mencintaiku. Aku harus menanyakan ini nanti. Atau Dikau hanya berpura-pura karena ia merasa bersalah padaku. Ah entahlah aku bingung. Yang terpenting aku menikah dengan Dikau urusan dia mencintaku atau tidak itu urusan nanti. Karena aku yakin bisa membuat pria itu bertekuk lutut padaku.

__ADS_1


"Mencintai putri saya saja tidak cukup. Saya ingin putri saya memiliki suami yang sanggup menggantikan saya untuk membimbingnya ke surga. Apakah kamu sanggup melakukan itu?."


Aku bisa melihat mas Dikau terdiam mendengar pertanyaan ayah. Aku menghela napas. Itu pasti adalah hal yang diluar kendali mas Dikau mengingat pria itu bukanlah pria yang Sholeh.


"Saya tidak bisa menjanjikan itu pada bapak. Saya tidak bisa menjanjikan Ashimah ke surga." Semua orang di ruangan ini terdiam mendengar ucapan Mas Dikau termasuk aku. Ruangan terasa hening seketika. Sampai mas Dikau melanjutkan ucapannya lagi.


"Tapi saya hanya bisa menjanjikan akan berusaha bahu membahu dengan Ashimah untuk bisa masuk Ke surga-Nya. Karena saya tidak bisa melakukan itu sendiri. Saya hanya perlu Ashimah disisi saya. Agar semuanya terasa mudah." Aku terharu mendengar itu. Aku tidak pernah mendengar kata seindah itu dari laki-laki manapun.


"Aci apakah kamu menginginkan Dikau menjadi suami kamu?" Tanya bapakku padaku.


Aku mengangguk dengan malu-malu. Aku bisa melihat bapakku tersenyum bahagia melihat tingkahku.

__ADS_1


"Kalau begitu saya izinkan. Selama Ashimah bahagia." Entah kenapa aku merasa senang mendengar itu. Akhirnya harapanku menikah dengan Mas Dikau terkabul juga.


"Terima kasih, pak." Ujar Dikau sambil mencium tangan bapakku.


__ADS_2