Dikejar Anak Sultan

Dikejar Anak Sultan
part 9


__ADS_3

Dokter telah selesai memeriksa Nina. Dengan segera, Feroze menghampiri Dokter.


"Dok, bagaimana keadaannya?" tanya Feroze panik.


"Tuan, tenanglah. Nyonya hanya mengalami demam. Kita beri infus, setelah habis, Nyonya bisa dibawa pulang."


"Alhamdulilah, terimakasih, Dokter."


"Kalau begitu, saya permisi." Dokter pun pergi meninggalkan Feroze.


Feroze berjalan menuju brankar dimana Nina berada. Ia duduk disamping brankar itu, meraih tangan Nina.


"Jika benar kamu terkunci karena aku, aku sungguh merasa bersalah. Maafkan aku, Nina." Feroze benar-benar merasa bersalah. Karena penyakit anehnya membuat Nina celaka.


Tak lama, tangan Nina bergerak. Feroze menatap Nina yang perlahan membuka matanya.


"Habibty ... Habibty ... Kamu sudah sadar ..." Feroze begitu bahagia melihat Nina yang sudah sadar.


"Aku dimana?" tanya Nina.


"Kamu di rumah sakit. Kami menemukanmu di kamar mandi. Nina, apa yang terjadi?" tanya Feroze penasaran.


"Apa kau lupa Tuan? Bukankah kamu yang mengunciku semalam? Tega sekali Tuan mengunciku di kamar mandi. Di sana dingin, Tuan." Nina menangis kembali mengingat kejadian semalam.


Feroze meraih tangan Nina. "Nina, itu bisa aku jelaskan."


"Tuan lepas, kita bukan muhrim." Nina menarik tangannya.


"Maaf, Nina. Aku akan jelaskan apa yang terjadi semalam. Sebenarnya, aku memiliki kebiasaan aneh yaitu suka tidur berjalan. Setiap aku tidur berjalan dan bertemu seseorang, aku selalu menguncinya di sebuah ruangan. Jadi, kemungkinan semalam aku melakukan itu padamu. Jujur aku tidak ingat apa yang terjadi semalam. Tapi itu tetap salahku. Maafkan aku, Habibty." Feroze menggenggam erat tangan Nina.


"Tuan lepas! Bukan muhrim!" Nina menarik tangannya lagi.


Astaga, pria ini benar-benar aneh. Nina memijat kepalanya.


"Habibty, apa kamu sakit kepala?" tanya Feroze dengan wajah khawatirnya.


"Namaku Nina, Tuan. Bukan Habibty," gerutu Nina.


Sakit kepala karena tingkahmu. Batin Nina menatap Feroze.


"Aku memiliki penyakit ini sejak tujuh tahun belakangan ini. Tingkat tidur berjalanku cukup parah. Mataku terbuka tetapi sebenarnya aku sedang tidur. Bahkan bisa melakukan aktivitas. Aku selalu tidak ingat apa yang aku lakukan. Aku sempat mengalami kecelakaan karena berkendara daat tidur berjalan. Pernah tangan terluka karena memasak saat tidur berjalan," ujar Feeoze.


"Apa Dokter tidak bisa melakukan terapi?" tanya Nina. "Setahuku bisa dengan terapi."

__ADS_1


"Kita pernah melakukannya, tetapi gagal." Jawab Feroze.


"Maaf, ini semua salahku. Sebenarnya, ada obatnya. Sekarang ini aku sedang berusaha mendapatkan obat itu," ujar Feroze.


"Apa untuk seorang anak Sultan yang memiliki kekayaan yang luar biasa itu begitu susah mendapatkan sebuah obat? Apa obat itu sangat mahal?" tanya Nina


"Obat ini tidak bisa dibeli dengan uang, Nina."


"Obat apa yang tidak bisa dibeli pakai uang?" tanya Nina.


"Kamu ..." Jawab Feroze tersenyum.


"Hah? Aku?" tanya Nina.


"Iya, kamu. Penyakitku ini karena kecemasan, cemas berlebihan karena belum menikah," ujar Feroze tertawa.


"Kenapa tidak menikah dengan wanita lain? Bukankah mudah untuk seorang Tuan Sultan menikahi gadis manapun?"


"Menyembuhkan penyakit tidur berjalanku bukan sekedar menikah, tapi aku mencari wanita yang bisa menghilangkan kecemasanku, membuatku nyaman. Jujur, aku menemukan itu semua padamu, Nina. Saat melihat senyumanmu, aku merasa tenang." Feroze tertawa kecil. "Sebelumnya, aku merasa semua wanita itu gila harta. Banyak wanita yang mendekatiku hanya karena aku pria kaya raya yang memiliki segalanya. Hingga aku bertemu gadis yang selalu makan cookies dan orange juice pada jam sebelas malam. Gadis yang begitu sederhana dengan pakaian sopannya juga bukan wanita yang gila barang branded. Senyuman yang sangat anggun serta memiliki suara yang sangat lembut. Kau tahu? Aku mencintaimu pada padangan pertama." Feroze tersenyum.


Deg deg deg deg jantung Nina berdegup dengan cepat saat mendengar pernyataan cinta Feroze.


"Ah kenapa aku menyatan cintaku di rumah sakit? Tidak romatis banget," ujar Feroze menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Queena, kenapa kamu disini?" tanya Nina terkejut melihat Queena dengan kursi rodanya.


"Feroze sialan! Kau buat kita panik. Membawa kakaku tanpa memberitahu siapapun!" Queena memukul Feroze karena kesal.


"Hey Balqis, hentikan. Aku hanya teramat panik pada Nina, makanya aku bawa buru-buru. Lagipula aku sudah share loc padamu, kan!"


"Kak, bagaimana bisa kamu demam? Lembut lagi, ya?" tanya Queena.


"Tanyakan padanya kenapa semalaman mengunciku di kamar mandi," ujar Nina.


"Feroze! Jangan bilang kau tidur berjalan lagi?"


Feroze hanya tersenyum malu menggaruk kepalanya.


"Astaga." Queena menggelengkan kepalanya. "Asal kakak tahu ya, aku juga pernah di kunci di gudang oleh nya. Untung saja gudang penyimpanan makanan ringan. Coba kalau di chiller, bisa mati aku. Pernah ada satu pelayan yang di kunci di chiller olehnya. Untung saja cepat di temukan kalau tidak, sungguh malang pelayan itu."


"Separah itu?" tanya Nina terkejut. "Queen, aku jadi takut, bagaimana jika setelah menikah aku setiap malam dikunci di ruangan aneh, bagaimana nasibku?" ujar Nina menghela napas.


"Apa? Setelah menikah? Jadi, Kakak setuju menikah dengan Feroze?" ujar Queena yang tersenyum dengan perkataan Nina.

__ADS_1


"Eh nggak, a---aku gak terima dia," ujar Nina gugup.


"Kalian bicara apa? Jangan bicara pakai bahasa Kalian," ujar Feroze bingung.


"Kak Nina bilang ...."


"Queena kau salah dengar!" ujar Nina panik.


"Kak Nina sepertinya menemukan pria yang bisa buat jatuh cinta pada pandangan pertama, nih," ejek Queena.


"Queen, apaan sih!" Wajah Nina merona.


"Habibty, apa kamu demam lagi? Wajahmu sungguh merah." Feroze menyentuh pipi Nina yang merah itu.


"Habibty? Hahahahahaha." Queena terbahak mendengar panggilan Feroze.


"Queena ..." Ujar Feroze dan Nina berbarengan.


"Pulang, ya, sayangku, kan harus istirahat." Usir Nina pada Queena.


"Uh yang mau berduaan saja mengusirku, ya," ejek Queena kembali.


"Queena, jom lah balik. Uncle Tian dan Aunty Vita dah di luar. You mesti istirahat," ujar Alif yang baru masuk.


"Nah, kan. Alif, bawa Queena pulang, ya. Terimakasih loh udah menjenguk," ujar Nina tersenyum dengan wajah kesal juga.


"Ok ok aku pulang. Jangan lupa ceritakan padaku, ya. Bagaimana anak Sultan ini tiba-tiba bisa datang kesini," ejek Queena.


"Queen..." Nina benar-benar malu diejek Queena.


"Hahahahahaha ok aku pulang. Cepat sembuh, ya, Habibty." Queena menahan tawanya lalu memeluk Nina.


"Bocah nakal." Nina menepuk pelan kepala Queena.


"Hati-hati di jalan." Nina melambaikan tangannya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Queena pun pergi dari ruang IGD.


To be continue ...

__ADS_1


__ADS_2