Dikejar Anak Sultan

Dikejar Anak Sultan
part 34


__ADS_3

Queena dan Nina sampai di ruang rawat Feroze. Saat Queena membuka pintu, Nina tiba-tiba berhenti.


"Kenapa?" tanya Queena.


Nina menggelengkan kepalanya cepat.


"Sudahlah, ayo." Queena menarik tangan Nina.


"Assalamualaikum." Queena dan Nina mengucap salam.


"Waalaikumsalam," jawab Feroza dan Irsyad.


"Yang lain kemana?" tanya Queena.


"Pulang. Kak gimana sih itu anak-anak nya ditinggalin kasihan nangis terus," ujar Irsyad.


"Kakak habis menyelesaikan perang dunia ke tiga, tahu! Yasudah, aku pulang dulu. Kalian juga, ayo ikut aku." Queena menarik Irsyad dan Feroza.


Mereka bertiga pergi meninggalkan Nina dan Feroze berdua.


"Balqis, kenapa kamu membawa kita juga? Aku mau menemani Feroze!"


"Diamlah Feroza! Mereka sedang sedikit bermasalah biarkan mereka bicara berdua dulu," gerutu Queena.


"Ada apa dengan mereka?" tanya Feroza terkejut.


"Halah, kalian seperti bukan suami istri saja, sudahlah ayo pulang." Queena masih menarik tangan sepasang suami istri itu.


Sedangkan dalam ruang rawat, Nina masih berdiri menunduk. Ia benar-benar tidak berani menatap Feroze. Sedangkan Feroze, menatap penampilan Nina yang masih sama seperti semalam.


Ya Allah, istriku benar-benar merasa bersalah. Penampilan sungguh berantakan. Batin Feroze.


"Dasar wanita bodoh, sampai kapan mau berdiri di sana? Kemarilah." Feroze memanggil Nina.


Nina menatap Feroze lalu menunduk kembali.


"Cepat kemari!" Feroze menaikan nada suaranya. Nina yang terkejut, sontak menghampiri Feroze.


"Kenapa menunduk? Kemarilah. Duduk disini." Feroze menepuk pinggir tempat duduk.


Nina perlahan menghampiri dan duduk. Ia masih tidak bisa menatap Feroze. Feroze meraih dagu Nina, ia mengangkat wajah Nina agar menatapnya.


"Apa wajahku sangat jelek hingga kamu tidak ingin menatapnya?"

__ADS_1


Sontak Nina menangis sampai sesegukkan. "Maafkan aku ... Maafkan aku ..."


"Astaga, kenapa kamu jadi cengeng seperti ini?" Feroze memeluk Nina.


"Maafkan aku ..." Nina terus menangis.


"Sudahlah jangan menangis. Aku sudah memaafkanmu. Maafkan aku juga yang sudah kasar padamu." Feroze mengusap punggung Nina.


"Aku salah ... Aku salah, maafkan aku, Feroze." Nina terus menangis.


"Sudah Habibty, apa kamu tidak lelah terus menangis?" Feroze terus mengusap pinggung Nina. Mencoba menenangkannya.


Tiba-tiba Nina terdiam. Tubuhnya terkulai lemas.


"Nina... Nina ... Astaga, apa dia pingsan?" tanya Feroze.


Feroze mengubah posisi Nina. Benar saja, Nina pingsan. Feroze benar-benar panik. Ia menekan tombol. Tak lama, suster datang.


"Cepat panggil Dokter, istri saya pingsan. Bawa brankar juga"


"Baik, Sheikh."


Tak lama, Dokter datang dengan suster membawa brankar juga. Fayez yang bingung, ikut masuk.


"Nina pingsan. Cepat pindahkan dia," ujar Feroze panik.


"Baik, Sheikh." Fayez yang hendak mengangkat tubuh Nina, diteriaki Feroze.


"Mau apa? Enak saja ingin menyentuh istriku. Biar suster wanita yang mengangkat Nina. Cepat!"


Dasar Sultan, dalam keadaan darurat saja masih cemburu. Batin Fayez.


Dua suster wanita pun mengangkat tubuh Nina memindahkan ke brankar. Setelah itu, Dokter memeriksa Nina.


"Panggil Dokter Aminah," ujar Dokter pada sister.


"Baik, Dok." Suster pun pergi.


Tak lama, seorang dokter wanita berhijab datang untuk memeriksa Nina. Sedangkan suster lain memasang infus untuk Nina. Setelah beberapa menit di periksa, Dokter wanita itu menghampiri Feroze.


"Bagaimana keadaan istriku?" tanya Feroze.


"Madame mengalami dehidrasi juga lemas karena perutnya kosong. Belum lagi, Madame mengalami tertekan dan strees. Sheikh, jangan biarkan ini terjadi lagi pada Madame. Untuk di awal kehamilan tidak baik Madame mengalami stress dan kurang nutrisi seperti ini," ujar Dokter perempuan.

__ADS_1


"Tunggu, apa yang Dokter katakan? Kehamilan? Istriku hamil, Dok?" tanya Feroze yang merasa tak percaya dengan pendengarannya.


"Iya, Sheikh, kemungkinan tiga minggu. Kita belum bisa memastikan. Kita harus melakukan ultrasound untuk tahu berapa usia kandungan Madame, Kita akan menunggu sampai Madame sadar untuk di periksa dengan ultrasound," ujar Dokter.


"Dok, istri saya hamil?" Tanya Feroze dengan wajah berbinar.


"Iya, Sheikh. Apa Sheikh tidak tahu?" tanya Dokter.


Feroze masih terdiam tak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Sheikh ..." Fayez menepuk bahu Feroze.


Feroze menatap Fayez. "Aku akan menjadi seorang Ayah?" tanya Feroze pada Fayez.


Fayez tersenyum dan mengangguk. "Selamat, Sheikh," ujar Fayez.


"MashaAllah, alhamdulilah ya Allah. Terimakasih sudah mempercayai kami untuk menjadi orangtua." Feroze merasa bahagia mendengar kabar baik ini.


"Dokter, rahasiakanlah kehamilan istriku."


"Baik, Sheikh."


"Fayez, sedekahkan sepuluh persen keuntungan hotel tahun ini, serta gandakan gaji karyawan bulan ini," ujar Feroze begitu bahagia.


"Baik, Sheikh."


"Kalian semua boleh keluar sekarang. Fayez, bawakan makanan terbaik untuk istriku. Ingat, mulai sekarang tambah ahli gizi untuk mengatur makanan yang dimakan istriku."


"Baik, Sheikh."


"Berikan ponselku. Kalian keluarlah."


Fayez memberikan ponselnya, lalu semua pergi keluar.


"Ya Allah, terimakasih masih memberiku hidup. Aku berjanji, tidak akan melakukan hal bodoh lagi. Aku harus memberikan contoh yang baik untuk anakku."


Feroze menatap Nina yang masih terbaring tak sadarkan diri. Ia meraih tangan Nina yang berbaring disampingnya. "Habibty, terimakasih atas hadiahnya." Feroze menciumi tangan Nina.


Setelah itu, Feroze menelepon Feroza untuk memberitahu bahwa Nina pingsan dan menceritakan bahwa Nina sedang hamil. Semua orang begitu bahagia mendengar kabar baik ini. Saat itu juga, mereka kembali menuju rumah sakit.


"Alhamdulilah semua kembali membaik. Habibty, jangan pernah mengulang kesalahan bodohmu itu. Kini, kau sedang mengandung anakku. Aku tidak akan melepaskanmu." Feroze terus menggenggam tangan Nina.


To be continue ...

__ADS_1


__ADS_2