
Acara pun selesai. Semua tamu sudah pergi. Begitu juga para pengantin dan keluarga. Mereka semua kembali ke kamar masing-masing. Begitu juga Feroze dan Nina. Awalnya, Nina menolak sekamar dengan Feroze karena ia masih shock dengan semuanya. Tetapi bukan Feroze namanya jika tidak memaksakan kehendak hingga akhirnya Nina menurut.
Disinilah mereka sekarang. Di sebuah kamar presidential suite. Kamar yang mewah dan megah. Nina masih duduk di sofa bingung harus berbuat apa. Sedangkan Feroze tengah mandi. Feroze keluar hanya dengan handuk dililit di pinggang menunjukkan tubuh Feroze yang atletis. Nina yang melihat terkejut.
"Feroze! Apa yang Kamu lakukan!" Nina melempar bantal sofa kepada Feroze lalu menutup matanya.
"Kau kenapa? Seperti melihat hantu saja."
"Kenapa tidak berpakaian? Cepat pakai baju!" Teriak Nina.
Feroze tersenyum. Ia menghampiri sang istri tercinta. Ia duduk disamping Nina, meraih tangan Nina yang menutup wajahnya. Ia arahkan tangan itu menyentuh dadanya yang kekar itu.
"Aaahahhhhh Feroze!" Teriak Nina berlari keluar kamar.
Feroze tertawa melihat tingkah polos Nina. Sedangkan Nina begitu takut dengan apa yang ia lihat. Jantungnya berdetak dengan cepat. Ia pergi ke dapur mengambil minum dan meneguknya.
"Kenapa harus telanjang gitu sih!" gerutu Nina.
Nina semakin terkejut saat seseorang memeluknya dari belakang. "Baru melihat bagian atas sudah seperti ini, bagaimana lihat yang bawah," ejek Feroze.
"Kau mesum sekali." Wajah Nina merona karena merasakan panas pada wajah dan tubuhnya.
"Mandi, sana. Apa Kamu tidak panas?" tanya Feroze.
"Le---lepaskan aku. Jika kamu memelukku bagaimana aku mandi?"
Dengan cepat, Feroze menggendong Nina ala Bridal.
"Feroze lepaskan."
"Diamlah Tuan Putriku. Aku akan mengantarmu ke kamar mandi."
Nina hanya diam. Ia tahu ia akan kalah jika berdebat dengan Feroze.
Setengah jam berlalu, Nina keluar dengan piyama biru muda serta hijab senada. Ia mencari keberadaan Feroze tetapi tidak ada.
__ADS_1
"Syukurlah tidak ada," ujar Nina tersenyum.
"Ya Habibty, ayo kita makan." Nina terkejut mendengar suara Feroze dari luar. Dengan gontai, ia keluar.
"Lama sekali mandi saja," gerutu Feroze.
"Kamu seperti tidak tahu wanita saja," balas Nina.
Nina terkejut melihat meja yang sudah penuh dengan makanan. Yang lebih spesial adalah semua makanan itu makanan Indonesia favoritenya.
"Bagaimana kamu tahu makanan Favorit ku?" tanya Nina duduk dihadapan Feroze.
"Apa yang aku tidak tahu tentangmu, Habibty? Ukuran dalamanmu saja aku tahu," ledek Feroze.
"Feroze!" pekik Nina dengan wajah meronanya.
"Ayo makan dulu." Feroze memberikan piring yahg sudah ia isi dengan banyak makanan.
"Aku bisa sendiri," tolak Nina.
"Terimakasih."
Merekapun makan malam bersama sebagai suami istri. Feroze begitu memperlakukan Nina dengan special. Membuat Nina tersenyum. Setenlah makan, mereka duduk di ruang tv. Melihat betapa banyaknya berita tentang pernikahan mereka padahal baru beberapa jam mereka menikah.
"Astaga, wajahku ada dimana-mana," ujar Nina.
Feroze membaringkan kepalanya dipangkuan Nina. Nina terkejut. "Feroze, jangan seperti ini."
"Diamlah. Berbaring seperti ini sungguh nyaman. Kau tahu? Aku tidak pernah merasakan nyaman seperti ini sebelum bertemu denganmu. Jadi diamlah." Feroze menutup matanya.
Nina menghela napasnya. Ia tersenyum. Aku lupa kalau sekarang dia adalah Imamku. Nina pun dengan memberanikan diri mengusap kepala Feroze. Feroze tersenyum saat Nina menyentuh kepalanya. Pertama kali Nina menyentuhnya tanpa paksaan ataupun karena khilaf.
Feroze bangkit duduk. Ia menatap Nina. Menyentuh pipi Nina dengan lembut lalu mengecup lembut kening Nina. "Aku mencintaimu, Habibty." Feroze memeluk Nina dengan gentle nya. Meski sedikit tegang karena ia tidak pernah mendapat pelukan, ia mencoba untuk menerimanya. Bagaimanapun juga sekarang Feroze adalah Suaminya. Ia juga sangat mencintai Feroze.
Dan tiba-tiba Feroze mengangkat tubuh Nina. "Feroze!" pekik Nina.
__ADS_1
Feroze mengecup cepat bibir Nina. Nina benar-benar dibuat merona oleh Feroze yang membuat Feroze semakin gemas pada Nina. Feroze membaringkan Nina diatas tempat tidur yang sudah bertaburan bunga mawar itu.
"A---apa yang ingin kamu lalukan?" tanya Nina gugup.
"Menurutmu apa?" tanya Feroze yang berada di atas tubuh Nina.
Nina mendorong pelan tubuh Feroze, lalu ia duduk. "A---aku belum siap." Ninan menunduk.
"Kenapa? Setiap pasangan yang sudah menikah halal kan melakukannya?" tanya Feroze.
"Aku tahu, tapi ... Kita belum menikah secara negara. Jadi, tunggu sampai pernikahan kita legal, ya."
Feroze mendengus kesal. "Kau tahu kan Nina menolak suami meminta itu berdosa? Apa menikah dihadapan Hukum lebih penting daripada di hadapan Allah?" tanya Feroze.
Nina hanya terdiam. Benar yang dikatakan Feroze. Nina mencoba tenang.
"Apakah aku boleh melihat istriku seutuhnya?" tanya Feroze.
"Hah?"
"Lepaskanlah hijab ini. Aku sudah menjadi suamimu masa masih mengenakan hijab saja di depanku. Lepaskan, ya. Kamu pasti cantik tanpa hijab dengan rambutmu." Feroze mengusap kepala Nina dengan lembut membuat Nina terhipnotis.
Nina menganggu hingga Feroze tersenyum. Dengan perlahan, Feroze membuka hijab Nina. Warna rambut hitam pekat itu benar-benar indah meski terikat. Feroze buka ikatannya membuat rambu lurus indah itu terurai dengan indah. Rambut panjang sepinggang dengan warna hitam pekat berkilau membuat penampilan Nina begitu cantik dan anggun dengan leher jenjangnya.
"MashaAllah begitu cantik dirimu." Feroze begitu terpesona dengan kecantikan Nina.
Feroze mengusap rambut halus itu. Sesekali menciuminya. Nina hanya diam. Ia masih gugup dengan segalanya. Feroze mengusap lembut pipi Nina yang sudah memerah itu. Feroze mendekatkan wajahnya lalu mengecup lembut bibir Nina. Tubuh Nina dibuat panas dingin oleh Feroze.
"Aku akan melakukannya dengan lembut." Bisik Feroze di telinga Nina.
Nina hanya bisa menutup matanya. Menerima semua perlakuan Feroze padanya. Malam indah mereka dimulai dengan penyatuan cinta mereka. Nina serahkan segalanya pada Feroze sekarang. Ia percaya, Feroze akan menjadi suami yang baik juga bisa membimbingnya mejadi wanuts ysng lebih baik lagi.
"Aku mencintaimu, Nina. Aku berjanji akan terus mencintaimu. Menjadikanmu satu-satunya wanita di hidupku. Menjadi pelindungmu, menjadi sandaranmu, menjadi kepercayaanmu. Akan aku lakukan segalanya untukmu, ya Habibty." Feroze mengecup lembut kening Nina. Dan Nina memeluk erat tubuh Feroze.
To be continue ...
__ADS_1