
Feroze masih terus mengejar Nina meski Nina terus menolak. Banyak cara sudah Feroze lakukan untuk mendapatkan cinta Nina.
"Astaga, wanita ini sungguh susah sekali didekati. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Feroze benar-benar merasa putus asa mengejar Nina.
Nina memang baik, tapi Nina hanya membalas seadanya saja seperti kepada orang asing. Itulah yang membuat Feroze merasa putus asa. Seperti perjuangannya sia-sia saja.
[Assalamualaikum.]
[Selamat pagi, ya Habibty. Apa kabarmu?]
[Jangan lupa sarapan, ya. Karena pura-pura tidak cinta itu butuh tenaga.]
[Semoga harimu menyenangkan.]
Begitulah pesan yang selalu Feroze kirim setiap hari dan menyedihkannya, Nina bahkan tidak pernah membalas pesan Feroze.
Seperti sebelumnya, setiap hari selalu ada kiriman bunga palsu untuk Nina juga makan siang terbaik untuk Nina. Tetapi sekarang, Nuna bahkan tidak memakan makanan tersebut. Sejak hari dimana Queena melahirkan, sikap Nina semakin menjauh dari Feroze. Sejak saat itu, komunikasi mereka semakin jauh yang membuat seorang Feroze Al-Barokh benar-benar dibuat jengkel.
"Atur ulang semua dekorasi hotel! Saya tidak ingin melihat pemandangan yang sama! Cepat siapkan juga pesta terbaik untuk lamaran Feroza. Jika ada saja sedikit masalah, kalian akan saya pecat! " Bentak Feroze pada staff nya karena merasa jengkel sudah tiga hari pesan bahkan teleponnya tidak di respond Nina.
Dua hari lagi Feroza akan dilamar Irsyad. Karena itu, Feroze cukup sibuk karena mereka akan mengadakannya disalah satu hotel milik Feroze.
"Nina! Kau sungguh membuatku kacau!" Feroze mengacak rambutnya karena kesal.
**
Malam hari pun tiba. Semua keluarga Eriska telah sampai di Dubai. Mereka semua disambut dengan sangat luar biasa. Pengawasan ketat, mobil-mobil mewah yang akan dipakai pun terlihat luar biasa.
Feroze, Fayez serta Musa yang menyambut keluarga Eriska.
"Selamat datang, Om dan Tante." Feroze menyambut.
"Terimakasih, Feroze."
"Mari semua, Kita langsung ke rumah. Semua orang sudah menunggu."
Nina tampak berjalan paling belakang. Entah memang keinginannya atau ingin menghindar dari Feroze.
"Fayez, urus mereka. Aku ada urusan." Feroze berbisik pada Fayez.
"Baik, Sheikh."
Dengan berjalan cepat, Feroze menghampiri Nina lalu menariknya pergi berlainan arah dengan yang lain.
"Tuan, apa yang kamu lakukan? Kamu mau bawa aku kemana?" tanya Nina panik karena dibawa Feroze.
"Diamlah!" ujar Feroze yang membawa Nina masuk kedalam mobilnya.
Entah kemana Feroze mengajak Nina pergi. Nina begitu panik dengan dibawanya dirinya oleh Feroze.
"Tuan, bawa aku kembali ke keluargaku."
Feroze menghiraukan Nina.
"Tuan aku mohon, jangan seperti ini, Tuan."
"Panggil aku, Feroze, Nina!" Bentak Feroze.
Nina benar-benar terkejut saat Feroze membentaknya.
Feroze menepikan mobilnya.
"Maaf Nina, aku tidak berniat membentakmu." Feroze menatap Nina yang menunduk.
__ADS_1
"Nina, kenapa Kamu menghindar dariku? Menolak makan siang dariku? Kenapa tidak pernah membalas pesanku dan tidak mengangkat teleponku. Kenapa Nina? Kau tahu? Itu membuatku gila!" Feroze meraih kedua bahu Nina.
"Tuan, lepaskan." Nina meringis kesakitan.
"Katakan kenapa!"
"Tuan, aku sudah katakan padamu, aku tidak bisa menerimamu. Kamu bisa mencari gadis lain. Aku tidak bisa," jawab Nina yang menunduk.
"Kenapa, Nina? Apa kurangku? Aku sudah melakukan yang terbaik untukmu. Apa aku masih belum pantas untukmu? Aku harus apa lagi agar kamu bisa mencintaiku?" tanya Feroze.
"Maaf, Tuan. Rasa cinta tidak bisa dipaksakan. Aku tidak mencintai Tuan."
"Bohong, tatap mataku dan katakan kau tidak mencintaiku!"
Nina terdiam ia bingung harus melakukan apalagi agar Feroze menjauh darinya.
"Tatap aku, Nina!" Bentak Feroze.
Feroze meraih dagu Nina, dengan cepat ia mencium bibir Nina. Nina begitu terkejut hingga mendorong Feroze lalu menamparnya.
"Br*ngsek!" Nina keluar dari mobil Feroze dengan keadaan menangis.
"Ahhhhhh Feroze bodoh!" Feroze memukul stir mobilnya.
Dengan cepat, Feroze keluar dari mobil mengejar Nina.
"Nina tunggu ..." Teriak Feroze.
Nina yang mendengar teriakan Feroze justru berlari kencang menyebrang jalanan.
"Shit!" Feroze kehilangan jejak Nina.
Nina menangis entah pergi kemana. Nina meraih ponselnya.
"Queena ..."
"Jemput aku, aku tidak tahu ini dimana," ujar Nina yang terus menangis.
"Katakan di dekat Kakak ada apa gitu yang tertulis?" tanya Queena.
"Aku tidak tahu ..." Nina terus menangis tidak fokus dengan apapun.
"Tunggu di sana, Kakak jangan pergi kemanapun. Sebentar lagi seseorang akan menjemput Kakak. Tunggulah."
Mereka pun memutuskan panggilannya.
Queena meraih ponselnya.
"Halo, Musa. Cari Kak Nina. Lihatlah dari GPS ponselnya. Cepat jemput dia dan bawa kemari."
"Baik, Nyonya."
Musa pun segera mencari jejak Nina. Setelah ketemu, ia menjemputnya.
"Nona Nina?" tanya Musa.
"Siapa kamu?" Tanya Nina Nina takut.
"Jangan takut, Nona. Perkenalkan, saya Musa, utusan Nyonya Queena untuk menjemput Nona."
Nina masih merasa takut pada Musa. Musa yang paham, akhir meraih ponsel dan menelepon Queena.
"Halo, Nyonya, saya sudah bersama Nona Nina. Tapi, Nona tidak percaya Saya utusan Nona."
__ADS_1
"Berikan ponselmu padanya."
Musa memberikan ponselnya pada Nina.
"Halo..."
"Kak jangan takut. Musa memang utusan yang aku suruh menjemput Kakak. Ia akan mengantar Kakak padaku."
"Baiklah."
Nina pun akhirnya mau pergi bersama Musa. Selama perjalanan, Nina hanya memandang jendela dengan tatapan kosong. Musa menepikan mobilnya.
"Nona, minumlah." Musa memberika sebotol air mineral pada Nina.
"Terimakasih," ujar Nina yang meraih air minteral tersebut.
Musa pun kembali melanjutkan perjalanan menuju kediaman Sheikh Hanafi. Seperti tadi, Nina hanya terdiam sesekali menyekat air matanya yang terjatuh. Ia merasakan sakit dalam hatinya saat mengingat bagaimana Feroze menciumnya dengan paksa.
"Dasar lelaki b*jingan." Umpat Nina karena kesal.
Satu jam berlalu, sampailah Nina di kediaman Sheikh Hanafi. Musa membukakan pintu mobil untuk Nina.
"Mari, Nona." Musa mengajak Nina masuk.
Terlihat semua orang sedang berkumpul.
"Nina, darimana saja, kamu?" tanya Eriska.
"Kak, ayo kita ke kamar." Queena yang tahu sudah terjadi sesuatu pada Nina akhirnya membawa Nina ke kamarnya.
Di dalam kamar, Nina menangis dipelukan Queena. Ia menceritakan segalanya pada Queena termasuk Feroze yang menciumnya dengan paksa.
"Sialan si Feroze! Berani sekali dia memperlakukan Kakak seperti itu! Akan aku habisi dia!" Queena benar-benar marah dengan apa yang terjadi pada Nina.
"Queena, sudahlah, jangan diperpanjang. Besok adalah hari lamaran Irsyad. Aku tidak ingin karena kejadian ini, lamaran menjadi masalah. Biarkan saja, aku hanya meminta, setelah lamaran, aku pulang duluan. Aku tidak ingin berlama-lama disini."
"Baiklah, kita akan pulang setelah acara lamaran Irsyad."
"Tidak! Kalian sudah membuat janji bersama Sultan akan liburan bersama. Kalian tidak boleh membatalkannya. Biar aku pulang sendiri saja," ujar Nina.
"Tapi kak ..."
"Sudahlah, aku akan baik-baik saja. Terimakasih karena sudah mengkhawatirkan Kakak." Nina memeluk erat sang adik.
Setelah bercerita pada Queena, perasaan Nina sedikit lega. Ia pun tertidur setelah Queena keluar dari kamarnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Terlihat Feroze sudah kembali dengan keadaan panik. Ia masuk kedalam kamarnya terlihat Queena duduk diatas tempat tidurnya. Queena menghampiri Feroze.
"Balqis, apa Nina di sini? Aku kehilangan jejaknya." Feroze sangat panik.
Plak!
Queena menampar Feroze dengan wajah yang sangat marah.
"Berani sekali kau menyakiti kakakku! Aku sudah katakan padamu jangan pernah menyakitinya!" Bentak Queena pada Feroze.
"Balqis, maafkan, aku. Aku tahu aku salah. Aku khilaf."
"Otakmu dimana, Feroze! Kau tahu, Kak Nina tidak pernha disentuh pria. Ia benar-benar menjaga dirinya dan kamu seenaknya saja menyentuhnya bahkan menciumnya. Kau gila, Feroze!"
"Aku memang gila, Balqis! Aku sangat mencintainya. Tapi, dia tidak pernah merespondku meski hanya sedikit saja!" Feroze terduduk di sofa dengan menunduk. "Aku tahu aku salah, aku benar-benar khilaf. Aku tidak bisa menerima Nina menolakku. Aku sangat mencintainya, Balqis. Sejak hampir lima bulan ini aku mendekatinya tapi semua sia-sia. Aku benar-benar frustasi." Feroze meneteskan air matanya.
"Kau tahu aku tidak pernah dekat dengan wanita. Aku tidak pernah berani menyentuh wanita bahkan tidak pernah menyakiti wanita. Aku benar-benar dibuat gila oleh Nina. Aku benar-benar tidak ingin ditolak Nina. Aku benar-benar takut kehilangan Nina. Aku ingin terus bersama dia, Balqis."
__ADS_1
Queena hanya terdiam ia bingung harus memihak pada siapa. Di satu sisi, ia tidak ingin menyakiti Nina, disisi lain, ia juga tidak bisa menyalahkan Feroze. Benar-benar cinta yang rumit.
To be continue ...