
Waktu dimana resepsi pernikahan Nina dan Feroze pun datang. Dengan berpenampilan adat Sunda yang diinginkan Nina, Feroze dan Nina tampak memesona. Dengan pakaian khas adat Sunda berwarna biru muda, Nina begitu cantik dengan mahkota khusus yang dibuat Feroze untuk Nina. Sedangkan Feroze, begitu gagah dengan jas dan pakaian tradisional Sunda itu.
"MashaaAllah kau sungguh cantik, ya Habibty." Feroze memeluk Nina dari belakang mereka sedang berada dihadapan cermin.
Nina membalikkan tubuhnya dan tersenyum. "Kamu juga sangat tampan, ya Habibi." Nina meraih kedua pipi Feroze yang ditumbuhi janggut tipis itu.
Feroze terus menempel pada Nina. "Aku sungguh tidak rela membagi kecantikanmu ini. Ini semua milikku."
"Sayang, jangan seperti ini. Nanti pakaian kita berantakan." Nina mencoba melepas pelukan Feroze namun semua nihil, Feroze justru semakin erat memeluknya.
Tak lama, pintu diketuk. "Ah mengganggu saja!" gerutu Feroze.
Ia berjalan membuka pintu yang ternyata Irsyad. "Cepatlah, Feroze. Jangan bermesraan terus. Ini waktunya kalian masuk hall," ujar Irsyad.
"Baiklah. Tunggu." Feroze kembali menghampiri Nina. "Habibty, ayo ini waktunya." Feroze meraih tangan Nina, lalu ia gandeng.
Mereka berjalan menuju hall. Terlihat semua keluarga sudah menunggu didepan pintu hall yang masih tertutup itu.
"Ya Allah anak Mama cantik sekali." Vita begitu bahagia menghampiri Nina.
"Kak Nina sungguh cantik," ujar Queena juga Nadira
"Aku iri aku iri," sahut Feroza.
"Sudahlah jangan mengganggu istriku." Feroze meraih Nina dalam pelukannya.
Semua orang hanya tertawa melihat tingkah sang Sultan muda itu.
"MashaaAllah semoga engkau dijauhkan dari mata jahat (ain)" Ummu mengecup lembut ujung kepala Nina.
__ADS_1
"terimakasih, Ummu." Nina memeluk Ummu dengan erat.
"Baba ..." Nina mencium tangan Baba Hanafi.
Mereka semua bersiap. Nina dan Feroze pun sudah siap di depan pintu dengan saling menggandeng. Pintu hall pun dibuka. Cahaya dalam hall telah redup dan menyisakan lampu sorot yang menyorot Nina dan Feroze. Pembawa acara pun yang bukan lain adalah Kania mulai berbicara mengenai pernikahan Nina dan Feroze yang terkesan tiba-tiba. Banyak orang yang merasa kagum pada sosok Feroze yang tak gentar mengejar cinta Nina meski terus ditolak. Feroze memang sengaja mengumumkan itu, karena ia ingin menunjukkan pada dunia bahwa sosok Nina adalah sosok luar biasa yang bisa membuat seorang Feroze Al-Barokh pria yang terkenal sulit di dekati wanita bisa mengejar wanita luar biasa seperti Nina.
"Dan yang perlu hadirin tahu, saat Kakak kami Kak Arinina mengatakan bahwa ia juga mencintai Sultan Feroze, saat itu juga Sultan Feroze menikahi Kakak kami yang berbarengan dengan pernikahan saudara kembarnya Arsyad dan Irsyad. Menurut Sultan Feroze, ia tidak ingin membuang waktu lagi untuk memiliki Kakak kami hingga akhirnya ia menikahi kak Nina."
"Wah Sultan Feroze benar-benar pria idaman," ujar salah satu undangan.
"Iya, sudah jarang pria yang seperti dia. Kebanyakan hanya PHP," sahut yang lain.
"Awalnya Kak Nina menolak, tetapi Sultan Feroze mengancam sampai Kak Nina siap menikah, ia akan menyekap Kak Nina di Dubai. Sultan tidak akan membiarkan Kak Nina meninggalkan Dubai."
Semua orang riuh bertepuk tangan. Mereka benar-benar dibuat kagum dengan sosok Feroze.
"Dan pada akhirnya Kakak kami setuju menikah. Kini, sudah dua bulan mereka menjadi pasangan suami istri. Kita doakan semoga keluarga Kakak kami Kak Nina dan Sultan Feroze menjadi keluarga yang Sakinnah Mawwadah Warahmah, cepat diberi momongan yang lucu-lucu dan semoga berjodoh sampai ke jannah. Aamiin."
Semua orang mengaaminkan doa baik itu.
"Sekali lagi, selamat menempuh hidup baru Arinina dan Feroze."
Semua undangan pun bertepuk tangan dan acara pun dimulai. Seperti resepsi pada umumnya, para undangan saling mengantri mengucapkan selamat. Undangan tidak begitu banyak mereka undang karena tidak ingin riuh atas keberadaan keluarga Sultan Hanafi. Hanya keluarga dan sabahat serta kolega dekat yang diundang.
"Kenapa melelahkan sekali, sih resepsi disini." Bisik Feroze pada Nina yang sedang bersalaman dengan undangan.
"Nikmati saja. Ini satu kali seumur hidup." Bisik Nina tersenyum.
Karena melihat Nina yang begitu bahagia, Feroze pun rela harus berdiri dan bersalaman dengan para tamu yang berjumlah ratusan orang itu. Tetapi, tiba-tiba wajah Nina berubah ketika seorang tamu pria berjalan dengan tongkat menghampirinya. Wajah yang awalnya ceria penuh kebahagiaan, berubah terkejut dengan apa yang ia lihat.
__ADS_1
"Arin, selamat atas pernikahannya." Pria tampan berkaca mata itu mencoba menjabat tangan Nina.
Nina menatap pria tersebut dengan wajah terkejut tak percaya. Ia masih terus menatap pria itu. "Kevin ..." Lirih Nina. Nina pun membalas jabat tangan Kevin, namun dihalangi Feroze.
"Maaf ia tidak boleh bersentuhan dengan pria lain." Feeoze menjabat tangan pria itu.
Kevin pun tersenyum pada Feroze. "Selamat atas pernikahannya. Jagalah Arinina dengan baik. Ia adalah wanita luar biasa," ujar Kevin menatap Nina yang menatapnya balik lalu pergi.
Nina menatap sedih kepergian Kevin sampai wujudnya tak terlihat lagi.
"Feroze, aku lelah. Aku ingin istirahat dulu," ujar Nina tanpa menatap Feroze.
"Baiklah, ayo aku antar ke ruang istirahat,"
"Tidak perlu. Aku jalan sendiri saja. Kamu disini dulu." Nina pun pergi dengan segera.
Sampai di ruang tunggu, Nina duduk dan tiba-tiba tangisannya pecah. Ia menyentuh dadanya yang merasa sakit.
"Kevin ..." Lirih Nina terus menangis.
"Kak ..." Queena menghampiri Nina.
"Kevin, Queena. Dia kembali ..." Nina menangis memeluk Queena.
"Tenanglah, Kak." Queena memeluk Nina mencoba menenangkan Nina.
Siapa Kevin? Tetap setiap membaca Novel Dikejar Anak Sultan ya ....
To be continue ...
__ADS_1