Dikejar Anak Sultan

Dikejar Anak Sultan
part 27


__ADS_3

"Kak, kenapa Kakak seperti ini setelah melihat Kak Kevin. Apa yang terjadi?"


Queena bertanya pada Nina. Ia benar-benar bingung dengan apa yang terjadi di antara Kevin dan Nina. Setahu Queena, mereka berdua adalah sahabat dekat karena itu, Vita mengundang Kevin karena sudah tujuh tahun lamanya mereka berdua tidak bertemu karena Kevin yang tiba-tiba menghilang.


Nina pun menceritakan segalanya pada Queena.


Flashback on


Kevin Dirgantara adalah sahabat Nina sejak kuliah. Wajah tampan dengan lesung pipi serta kacamata membuat Kevin menjadi idaman di kampusnya. Bukan hanya tampan, Kevin juga sangat pintar karena ia adalah salah satu Mahasiswa fakultas kedokteran.


"Nina bobo oh Nina bobo, kalau tidak bobo di cium Kevin." Kevin tertawa terbahak saat menyanyikan Nina bobo dikala Nina merasa sedih.


"Kevin, gak lucu!" ujar Nina kesal saat Kevin bernyanyi seperti itu.


Hubungan mereka memang sangat dekat. Kevin yang mudah bergaul dan periang, bisa dekat dengan Nina yang pendiam. Setiap hari mereka selalu bersama. Entah itu di kampus, ataupun diluar kampus. Nina dan Kevin juga sering berkunjung ke kediaman masing-masing hingga kedua keluarga sudah mengenal mereka.


Banyak yang mengira bahwa kevin dan Nina itu berpacaran, tetapi Nina selalu mengelak karena memang Nina menganggap Kevin hanya sahabat dekatnya. Berbeda dengan Kevin. Kevin memang sejak lama menyukain si gadis cantik berkacamata bulat itu. Menurut Kevin, Nina begitu berbeda dari wanita lainnya. Ia memang sengaja mendekati Nina saat itu. Tetapi, saat ia tahu alasan Nina sampai saat itu tidak memiliki kekasih, akhirnya Kevin mengurungkan niatnya untuk menyatakan cinta pada Nina.


Seperti yang kita tahu, Nina hanya akan percaya cinta pada pandangan pertama. Karena Kevin tahu Nina tidak menyukainya, akhirnya Kevin memendam cinta itu. Hingga akhirnya mau tidak mau Kevin mendapat gelar Sahabat terbaik Nina. Kevin tak masalah dengan gelar itu. Menurutnya, bisa dekat dengan Nina sudah lebih baik untuknya.


"Arin ... " teriak Kevin saat melihat Nina yang baru keluar dari perpustakaan.


Nina yang di panggil tak merasa di panggil karena tidak ada seorang pun yang memanggilnya Arin. Nina pun terus berjalan tanpa menoleh panggilan tersebut.


"Arinina ..." teriak Kevin kembali berlari mengejar Nina.


Akhirnya Nina pun menoleh dan berhenti. "Kenapa tidak berhenti saat aku panggil?" ujar Kevin dengan napas cepatnya karena kelelahan mengejar Nina.


"Kapan kamu memanggilku? Barusan baru kamu panggil aku," jawab Nina.


"Tadi, aku panggil Arin," ujar Kevin kembali.


"Lah, lagian panggil Arin. Aku mana tahu kamu panggil aku. Lagian, belum ada yang panggil Aku Arin," ujar Nina tertawa.


"Ya biar beda aja dari yang lain," ujar Kevin dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.


"Hahahahahaha kamu ini ada-ada saja."


"Mau kemana?" tanya Kevin.


"Pulang. Sudah tidak ada kelas."


"Ke mall, yuk. Nonton, ada film baru," ujar Kevin.


"Film apa?" tanya Nina.


"Harry Potter."


"Serius? Ayo kalau gitu." Nina menarik tangan Kevin.


Nina memang salah satu penggemar Harry Potter. Ketika mendengar film Harry potter, tanpa basa basi langsung di iya kan. Mereka pun pergi menuju mall. Nina begitu bersemangat untuk menonton film favorit nya itu. Sampailah mereka di mall. Nina dan Kevin terus berbincang mengenai film yang akan di tonton.


Sampailah mereka di bioskop. Kevin membeli tiket, sedangkan Nina membeli cemilan. Setelah itu, mereka masuk kedalam bioskop.

__ADS_1


"Aku sudah tidak sabar," ujar Nina begitu gembira.


Mereka pun menonton Harry Potter and The Deathly hallows part 2. Nina begitu excited menontonnya. Emosinya pun berubah-ubah. Berbeda dengan Kevin yang terus menatap Nina. Ia benar-benar merasa lucu pada Nina. Ia bisa menjadi orang lain saat menonton film favoritnya itu.


Kau memang berbeda, Arin. Kevin terus menatap Nina tanpa perduli film yang tengah diputar itu.


Film pun selesai. Nina dan Kevin keluar dari bioskop. Nina terus bercerita tentang film yang ia tonton dengan wajah berbinar-binar. Sungguh membuat Kevin semakin jatuh cinta padanya.


Setelah menonton dan makan, mereka pun berencana pulang. Sebelum pulang, Kevin mengajak Nina ke salah satu taman dekat kediaman Nina.


"Ngapain kita kesini?" tanya Nina.


"Nyantai aja. Duduklah." Kevin mengajak Nina untuk duduk.


Nina pun duduk disamping Kevin. Kevin tersenyum menatap Nina. Nina yang ditatap merasa heran.


"Ngapain liatin aku?" tanya Nina.


"Gak apa-apa. Hanya berfikir kapan, ya kita duduk di pelaminan berdua kaya gini."


Nina terkejut mendengar perkataan Kevin. "Ngaco! Kita mana cocok di pelaminan. Aku akan jadi bridesmaids calonmu saja."


Kevin hanya tersenyum getir. Ternyata Nina memang susah di taklukan.


"Ayo kita pulang." Kevin berdiri mengajak Nina pulang.


Mereka pun berjalan menuju parkiran dimana motor Kevin di parkir. Nina berhenti saat melihat pedagang es podeng di sebrang jalan.


"Vin, aku kesana dulu, ya. Mau beli es podeng." Nina berlari ke sebrang jalan untuk membeli ea kesukaannya.


"Aarrrggggg." Teriak Kevin ywng ternyata kaki kirinya tertindas truk itu.


"Kevin ..." Teriak Nina histeris.


**


"Kita harus segera mengamputasi kakinya. Kakinya sudah hancur. Jika dibiarkan, hahya akan membusuk," ujar Dokter menjelaskan.


"Ya Allah Kevin." Mama Kevin begitu histeris mendengarnya.


Bukan hanya Mamanya, Nina oun begitu terkejut dan merasa sangat bersalah pada Kevin. Karena menolongnya, Kevin harus kehilangan satu kakinya.


"Tante maafkan Nina. Semua karena Nina." Nina memeluk Mama Kevin dengan perasaan bersalah.


Mama Kevin hanya bisa memeluk Nina. Mamanya tahu betapa Kevin sangat mencintai Nina. Mamanya hanya bisa diam. Dia sangat ingin marah pada Nina, tetapi ini semua pilihan Kevin menolong Nina.


Setelah operasi selesai, Nina menunggu Kevin di ruang rawat inap nya. Setelah dua hari, Kevin pun sadar.


"Kevin ... Kevin ..." Nina begitu bahagia melihat Kevin yang sadar.


"Arin ..." Panggil Kevin dengan lemah.


**

__ADS_1


Dua bulan berlalu, ia masih sedikit merasa sedih dengan keadaannya. Hingga ia memutuskan pindah ke Inggris untuk melanjutkan pengobatan serta melanjutkan kuliahnya.


"Apa kamu benar-benar akan meninggalkanku?" tanya Nina yang bersedih karena keputusan Kevin.


Kevin hanya mengangguk.


"Arin ..." Panggil Kevin.


"Kenapa?" tanya Nina.


"Aku akan pergi dan entah kita akan bertemu lagi atau tidak."


"Kevin, jangan berkata seperti itu. Apa kamu marah padaku jadi kamu tidak ingin bertemu lagi denganku?" tanya Nina yang sudah meneteskan air mata.


Kevin menghapus air mata Nina. "Tidak, aku tidak marah padamu. Hanya saja ..."


Kevin terdiam menunduk.


"Hanya apa?" tanya Nina.


Kevin menatap Nina begitu dalam. "Jika aku terus bersamamu, aku takut akan sakit hati jika melihatmu menikah dengan pria lain," ujar Kevin.


"Maksudmu apa?" tanya Nina.


"Arin ... Maafkan aku. Sejujurnya, sejak lama aku mencintaimu. Awalnya, aku akan tetap berjuang untuk mendapatkanmu meski kamu hanya menganggapku sahabat. Aku tidak keberatan karena kesempatanku masih banyak sebelum kamu dipinang orang. Tapi sekarang, keadaanku yang seperti ini jujur aku mundur untuk menjadikanmu pasanganku. Aku tidak layak untukmu. Jadi, sudah ku putuskan untuk melupakanmu dan segalanya. Hiduplah bahagia, Arin." Kevin mengusap kepala Nina.


Nina meraih tangan Kevin. Menggenggam dengan sangat erat. "Kevin, aku mau menikah denganmu."


Kevin tersenyum. "Terimakasih, aku tidak ingin kamu menerimaku hanya karena kasihan padaku."


"Kamu adalah pria baik, pria tampan dan pintar. Siapa yang akan menolak menikah denganmu? Menikahlah denganku, Kevin."


"Tapi kamu tahu aku harus pergi ke Inggris. Apa kamu mau menungguku?" tanya Kevin.


Nina mengangguk. "Aku berjanji padamu akan menunggumu. Kapan pun kamu ingin menikah denganku, aku akan siap. Aku janji, tidak akan menikah dengan pria manapun."


"Termasuk jika kamu menemukan cinta pandangan pertamamu?" tanya Kevin.


Deg! Jantung Nina berdetak sangat kencang. Perkataan Kevin seoerti menusuk di jantungnya.


"Jawab, apa kamu akan setia jika kamu menemukan cinta pandangan pertamamu?"


"Iya. Aku akan tetap menunggumu." jawab Nina yakin.


"Baiklah, aku pegang perkataanmu."


Flashback off


Queena yang mendengar merasa terkejut. Ia tak menyangka Nina bisa membuat janji seperti itu.


"A---aku sangat bodoh, Queena. Kenapa aku lupa janjiku pada Kevin?" Nina terus menangis membayangkan janjinya pada Kevin.


"Kak, jangan merasa seperti ini. Ini semua takdir dari Allah. Kakak sudah menunggunya selama tiga tahun dan hilang kontak selama tujuh tahun. Itu bukan salah Kakak jika Kakak menikah dengan pria impian Kakak. Sudahlah kak, jangan merasa bersalah." Queena terus mencoba menenangkan Nina.

__ADS_1


Nina benar-benar merasa bersalah pada Kevin. Ia telah melanggar janjinya sendiri pada Kevin. Ia merasa sangat bodih karena terbuai oleh cintanya Feroze sampai lupa pada janjinya sendiri.


To be continue ...


__ADS_2