
Satu bulan sudah Nina memegang gelar Nyonya Feroze. Nina benar-benar dibuat jengkel oleh Feroze. Bagaimana tidak ? Ia benar-benar dilayani bak putri Raja dimana semua sudah disiapkan. Pakaian yang harus ia kenakan sudah diatur oleh pelayan. Alas kaki saat ingin turun dari tempat tidur pun sudah disiapkan bahkan air untuk mandi sudah disiapkan. Awalnya saat mandi pun Nina akan dilayani tetapi ia menolak keras. Ia merasa malu jika seseorang melihat tubuhnya. Jangankan Pelayan, Feroze yang melihat tubuhnya pun, ia masih malu.
Nina benar-benar shock dengan kehidupan barunya. Belum lagi Feroze yang selalu menguncinya saat tidur berjalannya kambuh. Bahkan pernah ia dikunci di dalam lemari. Untunglah Feroze segera bangun saat mendengar teriakan Nina.
"Feroze aku tidak mau bertemu si Tiger." Teriak Nina yang diajak menuju rumah Tiger, harimau putih peliharaan Feroze.
"Habibty, tenang saja dia jinak." Feroze terus menarik tangan Nina.
"Feroze, aku marah ya. Kamu kenapa memaksa begitu sih?" kesal Nina.
"Sejak kamu di sini, kamu tidak pernah mengunjungi Tiger, makanya aku bawa sekarang mumpung aku libur."
"Tapi aku tidak mau! Aku takut."
"Aaarrrggggggg." Terdengar aungan Harimau yang begitu kencang membuat Nina terlonjat kaget.
"Aku tidak mau, Feroze!"
"Jangan takut, kenalan dulu pasti nanti tidak takut."
"Aku benci kamu!" Teriak Nina.
Sampailah mereka di ruangan khusus kandang Tiger. Sebuah hutan mini berukuran tujuh ratus meter persegi yang di desain khusus dibuat dari kaca khusus yang sangat kuat. Di dalam terdapat Tiger, peliharaan Feroze. Tiger sendiri sudah berusia satu tshun tubuhnya sudah mulai besar. Harimau yang sangat gagah perkasa terlihat di layat monitor CCTV hutan mini itu.
"Lihat, Tiger sangat lucu kan? Dia hanya kucing besar, kenapa juga kau takut."
"Kucing besar kepalamu! Jika dia menerkam bisa mati kita," gerutu Nina.
"Yusuf, buka pintunya." Feroze meminta kepada penjaga kandang Tiger untuk membuka pintu kandang.
__ADS_1
Dengan cepat, Yusuf membuka pintu otomatis itu.
"Ayo kita masuk." Feroze menarik tangan Nina.
"Kita masuk? Kau gila, Feroze! Tidak aku tidak mau." Nina menahan tubuhnya. Ia tidak ingin mati diterkam harimau besar itu.
"Tiger jinak, Habibty. Ayo jangan takut." Karena gemas, Feroze mengangkat tubuh mungil Nina.
"Kau jahat Feroze lepaskan aku." Nina terus meronta.
"Aaaaaaaaaa" teriak Nina saat mendengar aungan Tiger hingga ia pingsan.
"Nina, kenapa diam?" tanya Feroze.
"Sheikh, Madame pingsan." ujar Yusuf yang melihat Nina tak sadarkan diri.
"Apa? Astaga, Nina." Feroze dengan segera membawa Nina menuju kamar.
"Pingssn gara-gara bertemu Tiger." Dengan cepat Feroze membawa Nina masuk ke dalam kamar diikuti Ummu.
"Kamu ini, sudah tahu istrimu takut, masih saja dipaksa bertemu Tiger."
"Feroze pikir tidak setakut ini, Ummu."
"Fayez, panggil Dokter Khanza, cepat." titah Ummu.
Dengan segera, Fayez menelepon Dokter keluarga untuk penfhuni perempuan. Sepang lima belas menit, dstanglah Dokter cantik bernama Khanza yang dijemput oleh Fayez.
"Dokter, cepatlah periksa istriku," ujar Feroze pada Dokter Khanza.
__ADS_1
"Tenanglah, Sheikh."
Dokter Khanza pun memeriksa Nina. Seoiluh menit ia memeriksa Nina.
"Madame tidak apa-apa, Sheikh. Ia hanya shock. Maaf Sheikh lain kali jangan dibuat terkejut lagi. Madame sepertinya memiliki riwayat sakit jantung ringan," ujar Dokter Khanza pada Feroze.
"Apa? Sakit jantung? Tidak mungkin. Istriiu adalah wanita yang sehat. Bagaimana bisa ia memiliki penyakit jantung!" Feroze benar-benar emosi saat Dokter mengatakan hal itu.
"Ini hanya diagnosa saya, jika ingin lebih jelas, Sheikh bisa membawa Madame ke rumah sakit untuk medical check up. Saya akan memberi resep, tolong ditebus, ya." Dokter Khanza menulis resep.
"Berikan pada Fayez."
"Baiklah, kalau begitu, saya permisi. Assalamualaikum."
Dokter Khanza pun pergi setelah pamit pads Feroze dan Ummu.
"Fayez, jagalah makanan Madame Nina. Ia memiliki riwayat jantung. Meski hanya ringan, tetapi jika dibiarkan akan semakin parah. Jagalah pola makannya," ujar Khanza pada Fayez.
"Baiklah, aku akan mengatakan pada ahli gizi serta para chef untuk mengatur pola makan Madame," jawab Fayez.
Fayez membukakan pintu mobil untuk Khanza.
"Terimakasih, Fayez." Khanza tersenyum pada Fayez.
Fayez menggenggam tangan Khanza. "Khanza, maafkan aku soal penolakan perjodohan itu."
"Sudahlah, lupakan saja. Kalau begitu, aku pamit dulu." Khanza tersenyum pada Fayez.
Fayez menatap sedih kepergian Khanza. Ia masih mengingat kejadian dua tahun lalu dimana Fayez telah dijodohkan dengan Khanza oleh kedua orang tuanya. Fayez menentang perjodohan itu karena menurutnya perjodohan adalah hal yang kolot. Tanpa melihat dulu, Fayez menolak Khanza. Hingga suatu hari, Fayez mengalami baku hantam hingga terluka, dengan terpaksa ia melarikan diri ke sebuah tempat yang sepi. Saat itu, datanglah Khanza yang baru selesai bekerja di rumah sakit menolong Fayez. Pada pandangan pertama, Fayez jatuh cinta pada wanita cantik dengan rambut panjang itu. Hingga ia tahu bahwa wanita itu adalah Khanza, wanita yang akan di jodohkan dengannya. Fayez benar-benar menyesal telah menolak Khanza hingga akhirnya Fayez mendekati Khanza. Sampai sekarang, Fayez teeus mendekati Khanza tetapi masih belum ada hasil yang baik.
__ADS_1
To be continue ...