Dikejar Anak Sultan

Dikejar Anak Sultan
part 33


__ADS_3

Keesokan hari pun tiba. Semua orang terkejut dengan perginya Nina dan sikap Feroze. Queena yang tahu segalanya hanya menghela napasnya menggelengkan kepalanya. Ia berjalan keluar. Meraih ponselnya.


"Musa, bawa Kak Nina ke Cafe sebrang rumah sakit. Katakan, aku ingin bertemu dengannya."


"Baik, Nyonya."


Queena mengirim pesan ke seseorang.


Cafe xxx satu jam lagi.


Setelah itu, Queena kembali masuk.


"Bisakah aku berbicara berdua dengan Feroze?" tanya Queena pada semuanya.


"Baiklah."


Semua keluar. Hingga hanya ada Feroze dan Queena. Queena menatap tajam Feroze.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Feroze.


"Aku benar-benar ingin menenggelamkan kalian berdua!" Kesal Queena. "Susah payah aku membuat Kak Nina sadar dengan kesalahannya, sekarang kamu yang mencari masalah! Sudahlah kalian pisah saja! Kalian berdua hanya bisanya saling menyakiti." Queena mendengus kesal.


"Kau tahu Feroze? Sejak kamu masuk rumah sakit, Kak Nina menunggumu disini tanpa pergi kemana pun. Untuk makan saja, kita harus memaksanya." Queena benar-benar kesal pada Feroze. "Bahkan selama tujuh jam kak Nina berdoa di masjid sendirian demi mendoakanmu untuk sembuh. Tujuh jam Feroze dia duduk di masjid tanpa bergerak sedikitpun. Kau tahu berapa banyak air mata nya jatuh sejak ia tahu kamu berada di rumah sakit?"


Queena meraih ponselnya memberikan pada Feroze. Queena memberikan video yang dikirim Musa. Video dimana Nina menangis semalaman di pantai. Feroze melihat dan mendengar semua teriakan Nina yang merasa bersalah.


"Dia menyesal dan merasa bersalah. Ia benar-benar menerima hukuman yang ia lakukan, Feroze. Dia memang salah, aku juga marah padanya. Tapi, kini dia menyesal. Maafkan dia, Feroze. Dia sangat mencintaimu. Dia hanya dihantui masa lalu yang belum selesai. Tetaplah disampingnya, Feroze. Kamu adalah kekuatannya."


Mata Feroze berkaca-kaca. Mengingat wajah Nina yang sembab dan terlihat lelah sebelum Feroze mengusirnya.


"Apa dia masih di Villa?" tanya Feroze. "Aku ingin bertemu dengannya."


"Sabarlah, aku akan membawanya padamu. Ingat, jika kamu mengusirnya lagi, akan aku bawa dia pulang! Tidak akan aku ijinkan kau menemuinya lagi." Ancam Queena.


**


Satu jam berlalu, Nina telah sampai di Cafe sebrang rumah sakit. Ia masuk mencari keberadaan Queena.


"Kak ..." Queena melambaikan tangannya pada Nina.

__ADS_1


Nina pun menghampiri Queena, lalu duduk disamping Queena.


"Astaga kak, ini penampilan masih seperti kemarin saja." Queena menggelengkan kepalanya melihat Nina yang begitu berantakan.


"Mau bicara apa?" tanya Nina lesu.


"Bukan aku yang mau bicara, tapi seseorang."


Nina menatap heran pada Queena. "Siapa?" tanya Nina.


"Pas banget. Dia yang akan bicara dengan Kakak." Queena menunjuk seseorang yang berjalan menghampiri mereka.


Deg!


Jantung Nina berdegup kencang.


"Kevin ..."


Kevin tersenyum pada Nina. Ia duduk dihadapan Nina.


"Baiklah, aku akan pergi dulu. Kak, setelah berbicara, kembalilah ke rumah sakit. Suamimu mencarimu."


Queen pun pergi meninggalkan Kevin dan Nina.


"Kevin, aku ..."


"Ssstttttt dengarkan aku bicara dulu," ujar Kevin.


Nina hanya mengangguk.


"Aku sudah mendengar semuanya dari Queena. Nina, tujuh tahun kita tidak bertemu, kenapa kamu menjadi bodoh? Kamu ingin bercerai dengan pria yang kamu cintai hanya demi janjimu padaku? Come on Nina. Kamu tahu kenapa aku tidak pernah kembali ke tanah air? Aku ingin kamu bahagia menemukan cintamu, Nina. Lupakan segalanya di masa lalu. Keadaanku, bukan karena kamu. Ini pilihanku sendiri. Dulu, memang aku sangat mencintaimu. Tapi, untuk menikah, aku ingin menikah dengan wanita yang mencintaiku dengan tulus dan aku tahu itu bukan kamu. Jadi, jangan merasa kamu mengingkari janjimu padaku. Karena aku pun tidak pernah menganggapnya serius."


Nina terus menatap Kevin.


"Na, jujur. Sejak dulu ada satu harapanku terhadapmu. Aku sangat ingin melihat cinta di mata mu. Karena aku tidak menemukan itu sama sekali di matamu sejak kita kenal. Aku selalu bertanya apakah benar kamu bisa mendapatkan cinta pada pandangan pertama? sungguh aku tidak percaya itu. Hingga suatu hari, aku mendapat undangan resepsi pernikahanmu dari Mamaku. Sungguh aku merasa penasaran siapa pria beruntung yang mendapatkan cintamu. Aku juga penasaran apakah kamu mencintainya? Hingga akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan datang ke acara resepsimu." Kevin tersenyum pada Nina.


"Saat pintu hall dibuka, aku melihatmu bergandengan tangan dengan pria yang sangat gagah. Dan aku sungguh terkejut, aku menemukan cinta dimatamu saat menatap suamimu. Sungguh aku merasa bahagia saat melihatnya. Bukan hanya itu, ketika semua orang bersalaman denganmu dan Feroze, aku melihat begitu cintanya Feroze padamu. Aku pernah berfikir, apakah ada yang akan mencintaimu melebihi aku? Ketika aku melihat bagaimana perlakuan Feroze padamu, aku percaya bahwa cintanya Feroze melebihi apapun. Jika aku berani mempertaruhkan kakiku, percayalah, ia akan berani mempertaruhkan segalanya untukmu."


Nina mulai menangis ketika disinggung nama Feroze.

__ADS_1


"Nina, jangan pernah meninggalkan Feroze. Ia adalah pria yang sangat mencintaimu. Jangan pernah pikirkan aku, meski sebelah kaki ku palsu, tapi aku masih memiliki wajah yang tampan. Belum lagi, aku seorang dokter bedah. Stok wanita yang akan mencintaiku masih banyak," ujar Kevin tertawa.


Kevin meraih ponselnya. Ia memberikan pada Nina. Nina terkejut melihat sebuah foto di ponsel Kevin.


"Kania??? Ini Kania adikku, kan?" tanya Nina terkejut.


Kevin tersenyum. "Iya, Kania Putri. Kekasihku."


"Apa? Kalian pacaran? Sejak kapan? Kenapa aku tidak tahu?" tanya Nina terkejut.


Kevin tertawa.


"Awal aku kenal dengannya di sosial media. Bagaimana kita bisa berkenalan itu sungguh lucu hingga kita bisa saling jatuh cinta. Entah mungkin ini yang namanya Takdir. Aku selalu berdoa agar memiliki pasangan sebaik dirimu. Aku tidak mendapatkanmu, justru mendapat adikmu yang lucu itu. Yang lebih penting, dia itu cerewet beda darimu yang pendiam. Aku sungguh dibuat tergila-gila padanya," ujar Kevin.


Nina masih tak percaya dengan perkataann Kevil. Kania dan Kevin?


"Sudahlah, jangan bingung seperti itu. Kembalilah pada suamimu. Jangan memikirkan janjimu itu, ya. Karena adikmu yang akan menebusnya," ujar Kevin tertawa.


"Vin, terimakasih atas segala yang kamu lakukan untukku. Jika Kania memang yang terbaik untukmu, sungguh aku akan berdoa semoga kalian berjodoh."


"Terimakasih, calon Kakak ipar," ujar Kevin tertawa.


"Kkhhhmmmm sepertinya sudah selesai urusan kalian." Queena datang menghampiri Kevin dan Nina.


Kevin tersenyum. "Semua sudah selesai. Apa aku boleh kembali ke tanah air? Aku sungguh merindukan peri kecilku," ujar Kevin.


Queena memutar bola matanya. "Awas saja jika kau menyakiti adikku. Akan aku patahkan kakimu yang satu lagi." Ancam Queena.


"Hahahahahaha. Calon Kakak iparku yang satu ini sungguh mengerikan. Baiklah, aku pergi sekarang, ya. Sampai bertemu kembali kakak-kakak iparku yang cantik."


Kevin berdiri, lalu pamit pergi meninggalkan Queena dan Nina.


"Lihat, itulah Takdir yang Allah berikan. Janji Kakak akan digantikan oleh Kania."


"Aku sungguh masih tidak percaya. Bagaimana bisa Kania dan Kevin?" tanya Nina.


"Ah sudahlah, saat bertemu Kania, kita tanya. Sejujurnya, aku juga baru tahu Kevin dan Kania memiliki hubungan." Queena tertawa. "Sudahlah ayo kita bertemu Feroze." Queena menarik tangan Nina, namun Nina tidak beranjak.


"Feroze akan mengusirku lagi," ujar Nina takut.

__ADS_1


"Segini doang nih nyali Kak Nina? Kakak itu sudah menghancurkan perasaan Feroze, jika kakak merasa bersalah, ya harus terima konsekuensinya, lah. Ayo ..." Queena menarik tangan Nina. Nina pun ikut meski ia masih takut bertemu Feroze.


To be continue ...


__ADS_2