
"Feroze." Nina terkejut melihat siapa yang ada di dalam Lift.
Dengan cepat, Feroze menarik tangan Nina, membawa Nina masuk kedalam lift.
"Tu---tuan, ke---kenapa disini? Bukannya ada di Dubai?" tanya Nina dengan terkejut.
"Apa kamu tidak apa-apa? Aku dengar kamu bersih-bersih, aku sungguh khawatir, lalu aku terbang kemari untuk melihatmu," ujar Feroze menyentuh kedua pipi Nina.
"Hah?" tanya Nina terkejut.
Mendengar aku bersin saja dia langsung kesini? Astaga anak Sultan beneran ini. Batin Nina masih tak percaya.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Feroze dengan wajah panik sembari menyentuh kedua pipi Nina.
Nina meraih tangan Feroze, melepaskan dari pipinya. "Maaf Tuan, bukan Muhrim."
"Oh maaf maaf aku hanya khawatir," ujar Feroze melepaskan tangannya.
"Aku tidak apa-apa, Tuan. Sebenarnya, aku alergi bunga, jadi saat banyak bunga di ruanganku, aku bersin-bersin," ujar Nina.
"Apa? Kamu alergi bunga? Nizam sialan, dia mengerjaiku!" kesal Feroze. "Maaf Nina, aku tidak tahu, aku tidak akan mengirim bunga lagi."
Ting! Pintu lift terbuka. Dengan cepat Feroze membawa Nina keluar dengan menggenggam tangan Nina, membuat Nina malu dipandang semua karyawannya.
"Eh siapa itu yang dengan Ibu Nina? Astaga, ganteng banget," ujar salah satu karyawan perempuan di kantor Nina.
Semua orang ramai membicarakan Nina. Pasalnya, selama mereka bekerja di perusahaannya, tidak ada seorang pun yang pernah melihat bos nya itu jalan dengan pria.
"Tuan, tolong lepaskan tangan saya, kita bukan Muhrim," ujar Nina dengan jantung yahg berdegup kencang.
"Astaga, maaf ..." Feroze melepaskan tangannya. "Ayo, masuk." Feroze membukakan pintu mobil untuk Nina.
"Eh aku bawa mobil sendiri," ujar Nina menolak.
"Ayolah, Nina. Aku sudah jauh dari Dubai untuk menemuimu, untuk mengantarkan pulang saja apa tidak boleh?" tanya Feroze. "Dari bandara aku langsung kesini, loh," ujar Feroze dengan wajah memelasnya.
Nina menghembuskan napasnya. "Baiklah." Nina pun masuk. Wajah Feroze bersinar.
"Pak, pulang ke rumah, ya," ujar Nina.
"Baik, Non." Jawab pak Reno, supir kediaman Eriska.
Feroze memang meminta bantuan Queena untuk menjemput di bandara.
Sepanjang perjalanan Feroze dan Nina terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. Seperti biasa, kota Jakarta akan sekalu macet di jam pulang kantor. Seperti sekarang yang dirasakan Nina dan Feroze.
"Kenapa macet sekali?" tanya Feroze.
"Namanya juga Jakarta, kalau tidak macet, Dubai namanya," ujar Nina.
__ADS_1
"Oh apa kamu pernah ke Dubai?" tanya Feroze.
"Pernah, beberapa kali ke Dubai dan Abu Dhabi," jawab Nina.
"Apa kamu menyukai UAE?"
"Heeemmmm lumayan," jawab Nina ywng meraih botol minum lalu meneguk air.
"Jadi, saat kita menikah, tidak masalah dong tinggal di Dubai?"
"Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ..." Nina tersedak mendengar perkataan Feroze.
"Are you okay?" tanya Feroze panik.
"Tuan kalau bicara jangan sembarangan," ujar Nina.
"Sembarangan apa? Perkataanku yang mana yang sembarangan?" tanya Feroze.
"I---itu soal menikah," ujar Nina gugup.
"Apa yang sembarangan? Memang benar aku akan menikahimu cepat atau lambat, jadi pasti kamu akan tinggal di Dubai bersamaku," jawab Feroze dengan percaya dirinya, tak lupa meraih botol minum Nina, lalu meneguknya juga tepat dimana Nina meneguknya tadi. mata Nina terbelalak melihatnya.
"Maaf, Tuan. Saya ...."
"Sssssttttt jangan meneruskan perkataanmu itu. Kita baru mulai pendekatan, tidak perlu terlalu terburu-buru untuk menolakku."
"Ssstttt."
Nina pun diam, sesekali ia melirik Feroze. Terlihat, ia seperti kelelahan, mungkin karena penerbangan yang cukup memakan waktu.
Satu jam berlalu, mereka sampai di kediaman Nina.
"Assalamualaikum." Nina mengucap salam.
"Waalaikumsalam." Vita tiba-tiba terkejut melihat Feroze.
"Loh, ini kan?"
"Assalamualaikum, Tante. Saya Feroze." Feroze menjabat tangan Vita.
"A---anak Sultan Hanafi?" tanya Vita tak percaya.
"Iya, Tante," jawab Feroze tersenyum.
"Kenapa ada disini? Bukannya sudah pulang minggu lalu?" tanya Vita yang heran melihat Feroze.
"Apakah saya boleh duduk?" tanya Feroze tersenyum.
"Oh astaga, Tante lupa, ayo silahkan duduk." Vita mempersilahkan duduk.
__ADS_1
"Nina, apakah ada kopi dirumahmu?" tanya Feroze.
"Ada."
"Tolong buatkan, ya, kopi tanpa gula, kopinya dua sendok teh, airnya seratus lima puluh mili dengan suhu air sembilan puluh lima derajat, diamkan kopi selama tiga puluh detik sebelum diaduk," ujar Feroze.
What? Dasar anak Sultan gak ada ahlak, main minta saja sebelum ditawarin mana banyak permintaan. Batin Nina.
"Nina, cepat buatkan," ujar Vita.
Nina pun pergi menuju dapur membuat kopi untuk Feroze.
"Jadi, Feroze kemari apakah ada urusan?" tanya Vita.
"Saya kemari hanya ingin bertemu Nina," ujar Feroze tersenyum.
"Ketemu Nina? Apa kalian kerjasama dalam bisnis?" tanya Vita lagi.
"Tidak, Tante. Saya sedang mengejar Nina untuk menjadi calon istri saya," jawab Feroze santai.
"Apa? Mengejar Nina?" tanya Vita terkejut hingga berdiri.
"Mama..." Panggil Nina.
Vita menghampiri Nina. "Apa benar Feroze sedang mengejarmu?" tanya Vita yang tak percaya.
Nina hanya mengangkat kedua bahunya lalu pergi memberikan kopi pada Feroze. Feroze menerima dan meneguknya.
"Hemmm suhu air hanya delapan puluh derajat, kopinya dua sendok makan jadi sedikit lebih pekat rasanya. Tapi, untuk pemula, bolehlah, terimakasih Nina," ujar Feroze tersenyum.
"Sama-sama," jawab Nina.
"Tante, apa boleh saya menginap disini? Saya cukup lelah dengan perjalan dari Dubai kesini. Untuk ke hotel cukup jauh dari sini, saya ingin mandi," jawab Feroze.
"Hah? Menginap?" tanya Vita menatap Nina.
Nina menggelengkan kepalanya.
"Ah oh boleh, Nina, bereskan kamar tamu di sebelah kamarmu," ujar Vita pada Nina.
"Ma ..." Nina menatap mananya dengan tatapan kesal.
"Hehehehehehe cepat, Nina." Vita menepuk tangan Nina untuk segera menyiapkan kamar untuk Feroze.
Dengan gontai, Nina berjalan keatas untuk menyiapkan kamar tamu.
"Tamu menyebalkan. Astaga, dibalik fisik menawannya, dia memiliki sifat yang menyebalkan! Kenapa kamu bisa jatuh cinta pandangan pertama dengannya, Nina!" Nina mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri. "Belum lagi sekarang dia mengejarku. Ya Allah ribet sekali sih yang namanya cinta. Aarrgggg!"
To be continue ...
__ADS_1