
Setelah meeting, Feroze mengajak Nina menuju mall terbesar di Dubai. Ia menutup mall tersebut karena tidak ingin ada gangguan saat mereka sedang berbelanja.
"Kenapa mall ini sepi? Bukankah ini mall terbesar di sini?" Nina bertanya-tanya karena merasa aneh mall itu tutup.
"Aku sengaja menutupnya. Aku malas diganggu saat berbelanja. Lagipula, mall ini milikku. Aku bebas melakukan apapun di sini," ujar Feroze.
Sultan mah bebas. Batin Nina.
"Kita mau kemana?" tanya Nina.
"Mendaki gunung," jawab Feroze.
"Ini kan mall bukan gunung?"
"Belanja lah Nina. Kamu tahu kan mall tempat untuk berbelanja."
Feroze mengajak Nina ke brand Louis Vuitton untuk memilih barang untuk Nina.
"Pilihlah yang kamu suka," ujar Feroze duduk di sofa yang sudah disediakan.
Nina menatap Feroze dengan wajah bingung. Ia berjalan lalu duduk di samping Feroze. "Aku tidak berniat berbelanja. Lagipula, aku baru menjahit enam pakaian minggu lalu. Jadi, tidak perlu berbelanja lagi. Aku pikir kamu yang akan belanja."
"Kau harus mengganti semua pakaianmu dengan brand ini atau brand kenamaan lainnya," ujar Feroze. "Dan tidak usah menggunakan pakaian lamamu lagi."
"Loh kenapa? Itu semua pakaian kesukaanku." Protes Nina.
"Itu semua terlalu sederhana untumu. Ingatlah, kamu adalah istri dari Feroze Al-Barokh. Aku tidak ingin kamu diejek orang hanya karena menggunakan pakaian sederhana."
"Feroze, Kamu tahu kan aku tidak suka brand dunia ini. Aku sudah katakan padamu. Kenapa sekarang kamu memaksaku?"
"Tidak ada bantahan, Nina! Kamu pilih sendiri, atau aku beli seluruh barang di toko ini untukmu?"
"Aku tidak mau!" tolak Nina. Ia berdiri, lalu pergi meninggalkan Feroze sendiri keluar dari toko itu.
"Nina, tunggu." Feroze mengejar Nina yang sedang kesal itu.
"Kamu kenapa sih? Aku hanya ingin mengajakmu berbelanja. Ayo ikut aku." Feroze menarik paksa tangan Nina.
"Feroze sakit! Lepaskan." Nina mencoba melepas genggaman tangan Feroze.
"Diam!" Bentak Feroze dengan tatapan marahnya.
__ADS_1
Nina benar-benar terkejut dengan sikap Feroze itu. Karena takut, akhirnya ia menurut mengikuti Feroze. Mereka kembali ke toko tadi.
"Pelayan, pilihkan semua pakaian, sepatu juga tas termahal disini. Antar kerumah Saya." Setelah berkata seperti itu, Feroze membawa Nina keluar.
Feroze terus menggenggam tangan Nina dengan kuat membuat Nina meringis kesakitan. Tak lama, Feroze membawa Nina masuk ke sebuah toko gaun.
"Selamat siang, Sheikh." Pelayan menyapa Feroze.
"Dimana Mahira?" tanya Feroze.
"Ada, Sheikh, mari ikuti Saya."
Feroze dan Nina pun mengikuti pelayan. Mereka duduk menunggu Mahira. Mahira adalah sepupu Feroze sekaligus desainer terkenal di UAE.
"Feroze, mimpi apa aku sampai didatangi seorang Feroze. Apa kabar?" Mahira mencium pipi kanan kiri Feroze membuat Nina terkejut.
Siapa wanita itu? Berani sekali mencium pipi Suamiku. Gerutu Nina dalam hatinya.
"Nina, kemarilah. Perkenalkan, ini Mahira. Dia adalah sepupuku. Dan Mahira, ini Nina. Dia adalah istriku."
"Senang bertemu denganmu, Nyonya Feroze." Mahira bersalaman dengan Nina.
"Terimakasih." jawab Nina.
"Baiklah, ayo Nina kita coba gaunnya." Mahira mengajak Nina untuk mencoba gaun.
"Bagaimana menjadi Nyonya Feroze? Aku sungguh terkejut kemarin saat tahu tiba-tiba Feroze melangsungkan pernikahan. Sejak kapan kalian kenal?" tanya Mahira pada Nina.
"Aku sepupu dari Arsyad dan Irsyad. Aku bertemu Feroze saat Feroze mengunjungi keluarga Om dan Tante" jawab Nina.
"Oh kamu keponakan dari Eriska Putri?" tanya Mahira kembali.
"Iya," jawab Nina.
Setelah itu, Mahira memilihkan beberapa gaun untuk Nina.
"Cobalah satu per satu lalu tunjukkan pada Feroze," ujar Mahira.
"Harus banget ya coba semua?" tanya Nina.
"Feroze itu suka hal yang sempurna. Jadi, cobalah lalu tunjukkan pada Feroze."
__ADS_1
Mau tidak mau akhirnya Nina pun mencobanya. Setelah itu menunjukkan pada Feroze. Hingga akhirnya Feroze memilih gaun berwarna hitam untuk Nina setelah mencoba lima belas gaun.
Nina benar-benar dibuat kesal oleh Feroze. Ia sangat tidak suka dengan kemewahan yang Feroze berikan. Bahkan Feroze benar-benar membawa Nina ke seluruh toko di mall tersebut. Ia membeli banyak barang untuk Nina.
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Sudah lima jam mereka berkeliling mall hanya untuk membeli barang-barang baru untuk Nina.
"Aku lelah, Feroze."
"Kita ke salon dulu ya untuk meriasmu," ujar Feroze.
"Aku bisa merias diriku sendiri. Ayo pulang aku sudah capek." Rengek Nina.
"Yakin bisa merias sendiri? Katanya capek."
"Pulang sekarang atau aku marah padamu. Sejak siang kita di sini bahkan kamu tidak memberiku makanan atau hanya minuman." Gerutu Nina.
"Astaga aku lupa. Kamu mau apa? Aku belikan."
"Aku mau pulang sekarang!"
"Ok kita pulang sekarang. Hafiz, siapkan mobil. Kita pulang sekarang."
Mereka pun berjalan keluar mall lalu masuk dalam mobil. Sepanjang jalan Nina bersandar pada pintu mobil. Ia merasa lelah juga kesal pada Feroze. Feroze benar-benar keras kepala dan pemaksa.
Dasar, wajah saja tampan tapi sifat benar-benar menyebalkan. Kenapa aku mau menikah dengannya! Gerutu Nina dalam hatinya.
Karena begitu kesal, Nina sampai tertidur. Feroze yang tahu Nina kesal hanya tersenyum. Ia meraih kepala Nina, lalu menyandarkannya dibahu Feroze.
"Hafiz, kita kembali ke rumah. Tidak perlu menginap di hotel lagi." ujar Feroze
"Baik, Sheikh."
Tak berselang lama, mereka sampai di rumah. Feroze tidak membangunkan Nina. Ia justru menggendongnya. Feroze memberi kode pada semuanya untuk diam tidak bersuara sepanjang Feroze membawa Nina menuju kamar. Para Pelayan benar-benar tak percaya bahwa seorang Feroze benar-benar perhatian pada istrinya.
Bagaimana tidak perhatian dan memperlakukan Nina dengan baik? Ia sangat sulit mendapatkan Nina. Butuh kesabaran, waktu dan tenaga selama enam bulan untuk mengejar Nina. Sekarang ia sudah memilikinya, ia harus memperlakukannya dengan baik.
Sampailah di kamar sang Sultan muda. Kamar yang benar-benar besar dan megah. Desain modern dengan dominan warna hitam dan putih. Feroze membaringkan Nina di tempat tidur king size nya itu. Melepas hijab Nina, lalu melepas sepatu Nina dan menyelimutinya.
Feroze melepas Shemaghnya. Menyimpan di atas meja, lalu mengganti Thawf nya dengan pakaian casualnya. Setelah mengganti pakaiannya, ia berbaring disamping Nina. Ia mengusap lembut wajah Nina.
"Maaf Habibty, mungkin aku berlebihan. Aku tidak perduli perkataan orang lain tentangmu. Aku hanya tidak sanggup jika orang lain merendahkanmu hanya karena penampilanmu yang sederhana. Kamu lebih berharga dari apapun dan aku tidak ingin kamu direndahkan. Aku tidak ingin kamu sedih atau terluka hanya karena perkataan orang lain. Semoga kamu mengerti apa yang aku lakukan hanya untuk kebaikanmu." Feroze mengecup lembut kening Nina lalu memeluk erat Nina hingga ia juga sama-sama tertidur.
__ADS_1
To be continue ...