
Hari demi hari di lalui Feroze dan Nina. Kehamilan Nina pun sungguh baik dan Nina tidak pernah ngidam aneh-aneh lagi hanya kebiasaannya yang berbeda. Yaitu, justru kini Nina lah yang suka tidur berjalan. Meski tak separah Feroze, Nina hanya akan berjalan, lalu tidur dimanapun. Bahkan ia pernah ditemukan tidur di pinggir kolam renang, di dapur, bahkan di dekat ruang penyimpanan makanan.
Feroze yang khawatir, akhirnya memeriksakan Nina ke Psikolog. Menurut psikolog, Nina hanya merasa khawatir yang berlebihan tentang kehamilannya. Ia diharuskan untuk rileks agar tidak tidur berjalan lagi. Kehamilan Nina memang sudah besar yaitu sudah berusia tujuh bulan, maka dari itu, Nina mulai khawatir.
Setelah periksa, mereka kembali ke rumah. Nina menangis pada Feroze kalau Nina ingin pulang ke Indonesia. Ia ingin melahirkan di sana. Feroze menolak itu, ia tidak ingin jauh-jauh dari Nina. Jika Nina tinggal di Indonesia, mau tidak mau mereka harus berhubungan jarak jauh.
"Habibty, jangan ke Indonesia, ya. Jika kamu pergi, aku bagaimana? Aku bisa-bisa tidur berjalan lagi jika kamu tidak ada. Kamu boleh meminta apapun asal jangan pulang ke Indonesia, ya. Please." Feroze terus memohon pada Nina agar ia tak jadi pulang.
"Aku kangen Mama, Feroze! Sudah tiga bulan aku tidak bertemu. Kamu selalu tidak mengizinkan aku untuk pulang." Nina merasa kesal pada Feroze yang kini sangat berlebihan. Ia berjanji akan mengizinkannya untuk pulang setiap bulan, tetapi saat hamil, Feroze selalu melarangnya pulang.
"Nina, aku hanya khawatir padamu dan kehamilanmu, Dokter sudah mengatakan kehamilanmu sedikit lemah. Kamu tidak boleh pergi jauh-jauh dulu. Sabar, ya, setelah melahirkan nanti, aku tidak akan melarangmu untuk pulang. Sungguh, aku hanya mengkhawatirkan kamu dan anak-anak kita. Sudah ya, jangan menangis lagi. Kita jalan-jalan saja bagaimana?" Feroze menghapus air mata Nina. Mencium kedua mata Nina.
"Kemana?" tanya Nina.
"Kamu mau nya kemana?" tanya Feroze.
"Aku mau umroh," jawab Nina.
Feroze sedikit berpikir. Ia meraih teleponnya. Berbicara dengan seseorang, lalu mematikan panggilannya.
"Tiga hari lagi, ya. Kita harus mengurus visa nya dulu," ujar Feroze menatap Nina.
"Hah? Kamu serius?" tanya Nina terkejut.
"Iya, barusan aku sudah menghubungi Doktermu. Dokter berkata, boleh pergi asal tidak membuatmu lelah. Aku juga sudah menghubungi Fayez untuk menyiapkan Visa. Mungki tiga hari lagi," ujar Feroze.
"Pergi umroh boleh, pulang ke Indonesia tidak boleh!" gerutu Nina.
"Nina, ke Mekkah dan Madina tidak terlalu jauh daripada ke Indonesia. Lagipula, kita pergi umroh hanya tujuh hari, sedangkan jika kamu pergi ke Indonesia, harus sampai melahirkan disana. Aku tidak mau ditinggal olehmu." Feroze memeluk Nina dengan membenamkan kepalanya dibahu Nina.
"Kau menyebalkan, Feroze!" gerutu Nina.
"Tidak apa-apa aku menyebalkan, yang penting kamu selalu berada disampingku." Feroze menciumi pipi Nina.
"Jangan cium aku! Anakmu marah." Nina meraih tangan Feroze, lalu mengarahkan untuk menyentuh perutnya. Feroze tersenyum bahagia merasakan tendangan sang anak.
__ADS_1
"Dia menendang?" tanya Feroze tersenyum bahagia.
"Iya, jika kamu dekat-dekat dan menciumku, dia akan menendang."
"Oh ya?" Feroze tersenyum, ia raih kedua pipi Nina dan mulai menciumi wajah Nina. "Hey, lihatlah, dia milikku." Feroze terus menciumi Nina.
"Feroze hentikan! Dia benar-benar menendang."
Feroze terus meledek Nina dengan menciumi wajahnya. Nina hanya bisa tertawa dengan keisengan Feroze. Nina pun memeluk Feroze.
"I love you ya Habibi."
Feroze tersenyum ia membenamkan kepalanya diceruk leher Nina. Mencium aroma wangi lavender khas kesukaan Nina.
"Kita makan malam diluar, yuk." Feroze mengajak Nina.
"Makan apa?" tanya Nina.
"Kejutan. Ayo siap-siap. Kali ini, kamu boleh menggunakan pakaian sederhanamu itu," ujar Feroze.
"Oh ya? Apa Sultan Feroze tidak akan marah, istrinya diejek orang?"
Mereka pun bersiap. Nina terlihat heran pada Feroze. Ia hanya menggunakan thowf sederhana juga tidak menggunakan barang mewahnya. Hanya menggunakan sepatu sneakers yang dulu dia beli di Indonesia.
"Sudahlah, ayo kita pergi." Feroze menggenggam tangan Nina jalan keluar kamar menuju mobil.
Feroze membuka pintu mobil untuk Nina. Kali ini, mereka menggunakan Ferrari GTC4Lusso berwarna merah hati. Ini adalah mobil termurah yang menurut Feroze ia gunakan.
"Astaga, mobil seharga dua belas miliyar disebut paling murah? Bagaimana dengan mobil Brio-ku ?" gumam Nina yang menggelengkan kepalanya.
Feroze ingin mengajak Nina makan malam di street foods. Maka dari itu, Feroze mengatakan ingin berpakaian sederhana dan menggunakan mobil yang paling murah. Tetap saja untuk sang Sultan 'sederhana' pasti masih terlihat mewah untuk sekelilingnya. Nina hanya bisa tersenyum melihat tingkah sang suami.
Feroze hanya ingin membahagiakan Nina untuk makan di street foods Asian di jalan Al Sufouh, Dubai. Feroze pernah kesana bersama Feroza dan karena diajak oleh Queena. Feroze ingin, Nina makan sepuasnya tanpa perlu harus melakukan table manner. Disana juga banyak menjual makanan Asia dimana pasti Nina sangat suka.
Setelah menempuh perjalan satu jam, sampailah mereka disana. Nina begitu bahagia melihat stand makanan yang begitu banyak. Sejak menikah dengan Feroze, Nina selalu dibawa ke restaurant mewah dengan berbagai macam aturan saat makan. Kali ini, Feroze membebaskan Nina untuk makan apapun tanpa harus menjaga image nya.
__ADS_1
Mereka duduk di salah satu kursi yang tersedia. Pelayan datang menghampiri Nina juga Feroze. Dengan bersemangat, Nina mememsan makanan dan minuman enak disana. Feroze hanya tersenyum melihat sang istri bahagia.
"Bagaimana kau tahu tempat ini? Dengan life style mu, mana mungkin makan di tempat ini," tanya Nina.
"Aku pernah kemari beberapa kali bersama Feroza dan Balqis. Ini ide Balqis, aku hanya ikut. Ya beberapa hari lalu aku lewat sini dan ingat pasti kesayanganku ini akan bahagia makan disini. Makanya aku ajak kesini."
"Aku memang bahagia diajak kesini. Terimakasih ya Sayang," Nina terus tersenyum bahagia karena bisa makan enak.
"Mudah sekali membuatmu bahagia." Feroze mengusap hidung Nina karena gemas.
"Memang. Kamu saja yang membuatnya sulit."
Feroze hanya tertawa mendengar perkataan Nina. Karena memang benar, Feroze mempersulit dirinya jika ingin membahagiakan Nina. Dari memberikan mobil baru, berlian, makan di restaurant mewah, atau menginap di hotel mewah. Padahal, Nina sungguh tidak suka itu semua.
Tak lama, pelayan membawa pesanan Nina. Nina memesan makanan yang ia suka seperti minuman boba, korean spicy wings chicken, veg roll, noodles, dan beberapa cemilan lainnya. Nina makan begitu lahap. Ia benar-benar merasakan apa itu makan saat ini. Meski ia bisa makan apapun di rumah Feroze, tetapi tetap saja, makanan di luar akan terasa lebih enak.
Bukan hanya Nina, Feroze pun memakan makanan yang dipesan Nina. Feroze terpaksa memakannya karena Nina selalu makan setengah dari yang ia pesan.
Setelah makan malam yang mengenyangkan perut Nina, mereka menuju villa milik Feroze yang tak jauh dari sana. Villa tempat favorit Nina karena berlokasi di pinggir pantai. Mereka masuk ke dalam villa, lalu masuk kedalam kamar untuk istirahat.
Mereka berbaring dengan Nina bersandar dipelukan Feroze. Sedangkan Feroze terus memgusap perut buncit Nina. Sesekali bermain di area lain yang membuat Nina kesal.
"Apa kamu bahagia?" tanya Feroze.
"Sangat bahagia. Terimakasih, Habibi. Kamu selalu memberikan yang terbaik untukku. Aku sangat sangat mencintaimu."
"Saat bahagia bisa mengatakan sangat mencintaiku, giliran sedang kesal, sangat membenciku." Feroze menarik hidung Nina.
"Sakit, Sayang. Lepaskan." Nina memukul tangan Feroze yang menarik hidungnya.
Cup! Feroze mengecup kening Nina. "Bahagialah selalu, Habibty. Katakan saja apapun yang membuatmu bahagia, aku akan menurutinya. Kecuali, pergi ke indonesia dan meninggalkanku. Aku tidak akan menurutinya. Aku akan melakukan apapun asal kamu selalu berada disampingku." Feroze memeluk dan mengecup lembut kening Nina.
"Baiklah, Sultan Feroze Al-Barokh, aku tidak akan meninggalkanmu selain ke toilet."
Feroze tertawa mendengar perkataan Nina. Semakin hari, Feroze semakin mencintai Nina hingga tidak ingin lepas darinya. Bahkan Nina selalu ikut ke Hotel ataupun ke perjalanan bisnisnya. Karena untuk Feroze, jika ia tak melihat Nina, perasaannya selalu tak tenang dan tak bisa fokus pada hal lain.
__ADS_1
Uhhhhh manisnya Sultan Feroze 😍
To be continue ...