
Pagi hari pun datang. Terdengar suara adzan subuh berkumandang. Feroze membuka mata lebih dulu dari Nina. Ia menatap seorang wanita yang tidur dalam pekukannya. Ia tersenyum menatap wanita cantik itu. Hatinya begitu damai saat melihat wajah polos Nina yang tengah tertidur. Ia mengecup lembut kening Nina. Mengusap lembut rambut Nina, lalu memeluknya dengan erat.
"Eeeummm." Nina terbangun karena merasa sesak. Ia membuka mata sangat terkejut melihat Feroze. Dengan reflek, ia mendorong Feroze hingga Feroze terjatuh dari atas tempat tidur.
"Nina ..." Teriak Feroze. "Sakit!" Ferize mengusap kepalanya yang terbentur meja.
"Ahhh Feroze maaf aku reflek tidak sengaja." Dengan terburu-buru Nina beranjak dari tempat tidur.
"Awwwww" nina meringis kesakitan.
"Habibty, kamu kenapa?" Dengan panik, Feroze berlari menghampiri Nina.
"Sakit." Nina merasakan sakit di bagian bawah karena kerjaan Feroze semalam.
"Sakit? Aku harus telepon Dokter." Dengan segera, Feroze meraih ponselnya.
"Hey jangan!" teriak Nina.
"Kenapa?" tanya Feroze.
"Malu lah!" ujar Nina dengan wajah merah nya.
"Haiz! Kamu ini, kenapa harus malu? Kalau sakit ya diperiksa."
"Antar aku ke kamar mandi saja, aku akan berendam air hangat. Itu akan sedikit menbantu."
"yakin? kita panggil Dokter saja ya."
"Tidak usah, Feroze. Antar aku ke kamar mandi saja," jawab Nina.
"Baiklah," Feroze meraih tubuh Nina memapahnya.
Astaga, pria ini kenapa tidak peka sih! Siapin air hangatnya dulu kek gitu! Ini juga bukan digendong saja! gerutu Nina dalam hatinya.
Angan-angan indah seperti dalam novel buyar semua dalam pikiran Nina. Ia pikir, Feroze akan menyiapkan air hangat untuknya mandi, lalu menggendongnya. Memang kenyataan tak seindah khayalan.
Sampai di kamar mandi, Feroze menurunkan tubuh Nina.
"Yakin tidak ingin memanggil dokter?" tanya Feroze.
"Tidak usah. Nanti baikan setelah berendam. Kamu keluar sana." Nina mengusir Feroze.
"Aku mau mandi juga. Untuk apa keluar."
"Aku mau berendam, Feroze."
"Aku akan menggunakan shower, kamu ya berendam saja. Nunggu kamu selesai bisa habis waktu sholatnya."
Nina hanya bisa menghela napasnya. Dengan berjalan perlahan, Nina menyiapkan air hangan di dalam bathtub dengan wajah kesal menatap Feroze yang tengah mandi santai dalam shower yang ditutup.
Tiga puluh menit berlalu, Nina telah keluar dari kamar mandi.
Deg! Deg! Deg! Jantung Nina berdetak dengan cepat saat melihat Feroze dengan pakaian khas Timur Tengah begitu membuat Nina terpesona.
Ya Allah, tampan sekali. Nina menatap Feroze tanpa berkedip.
__ADS_1
Nina mengingat pertama kali ia melihat sosok Feroze di sepertiga malam saat mendengar tilawah nya. Mengenakan pakaian khas Timur Tengah itu membuat Nina merasa Feroze adalah sosok Malaikat gagah dengan lantunan ayat suci Alquran yang begitu membuat memesona.
"Ya Habibty, kamu kenapa?"
"Tampan." Nina tanpa sadar mengatakan itu dengan tersenyum.
"Maksudmu apa?" tanya Feroze.
Nina masih belum sadar dari lamunannya.
"Habibty." Feroze mengguncangkan bahu Nina.
"Ahhhh kenapa?" tanya Nina tersadar.
"Kamu kenapa melamun?" tanya Feroze.
"Tidak apa-apa." Nina tersenyum pada Feroze.
"Yasudah, ayo kita sholat."
Mereka pun menunaikan salat berjamaah pertama kali sebagai suami istri. Setelah sholat, mereka duduk kembali di atas tempat tidur. Feroze menyandarkan kepalanya dipangkuan Nina. Sedangkan Nina mengusap lembut kepala Feroze membuat Feroze tertidur kembali. Nina menatap lembut wajah tampan suaminya. Wajah yang penuh ketegasan dan berkharisma membuat jantungnya bergemuruh.
"Hal baik apa yang aku lakukan hingga berjodoh dengan Feroze?" Nina tersenyum menatap Feroze yang tengah asyik tertidur. Tak lama, Nina pun tertidur dengan keadaan duduk bersandar dan tangan di atas kepala Feroze.
**
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Feroze dan Nina sudah terbangun dan siap untuk sarapan bersama keluarga. Seperti biasa, Nina mengenakan pakaian yang sederhana sedangkan Feroze selalu dengan pakaian branded yang limited edition.
Feroze menatap Nina dari keseluruhan. Aku harus merubah penampilan Nina. Apa kata orang nanti jika pakaian Nina begitu sederhana bahkan bukan dari brand ternama. Aku seorang Feroze Al-Barokh akan di bilang suami yang pelit. Batin Feroze.
"Feroze, ayo kita keluar," ujar Nina.
"Ish kau ini berlebihan sekali. Aku sudah tidak apa-apa."
"Yakin?" tanya Feroze.
Nina hanya mengangguk.
"Berarti, kita bisa melakukannya lagi nanti malam," bisik Feroze pada Nina.
"Feroze!" Nina memukul dada Feroze.
"Hahahahahaha kau sangat manis, Nina." Feroze mengecup lembut bibir Nina.
"Sudah ah kau menggodaku terus."
"Menggodamu itu sungguh sehat untukku. Seperti beryoga." Bisik Feroze.
"Ternyata Sultan Feroze bisa gombal juga ya."
"Hahahahahaha. Ayo kita keluar." Feroze menggandeng Nina keluar menuju restaurant.
Sampai di restaurant, terlihat semua keluarga sudah berkumpul. Feroze melenggang menggenggam erat tangan Nina. Sedangkan Nina berjalan dengan wajah yang merona.
"Sepertinya semalam sudah ada yang kebobolan nih," ejek Queena menatap tiga pengantin baru.
__ADS_1
"Apa? Semalam aku di tinggal tidur oleh Arsyad," ujar Nadira dengan kesalnya.
"Hah? Kenapa kita sama?" timpal Feroza.
"Apa? Kalian berdua di tinggal tidur? Hahahahah." Queena tertawa terbahak-bahak.
"Adikmu sungguh payah, Balqis." gerutu Feroza.
Nina hanya diam tak menjawab perkataan mereka semua.
"Kkhhhmmm sepertinya pengantin yang ini sudah lepas segel." Ledek Queena menatap Nina.
"Wah kita kalah cepat oleh Kak Nina," sahut Nadira.
"Kak, bagaimana rasanya?" tanya Kania.
"Nia!" Nina melotot pada Kania.
"Kau ini, masih kecil tidak boleh tahu. Sana pergi jangan disini." Queena mengusir Kanian pergi.
"Kak Queena jahat sekali!" gerutu Kania.
"Kak ceritakan malam Pertama kakak? Wah pasti sakit ya," ejek Queena.
"Ish Kalian ini, seperti tidak ada pembahasan lain saja." Wajah Nina memerah karena malu membayangkan kejadian semalam dengan Feroze.
"Ih kak Nina merona," ledek Nadira.
"Nina ..." Feroze menghampiri Nina.
"Kenapa?" tanya Nina.
"Aku ada meeting mendadak. Tidak apa-apa kan aku tinggal sebentar? Meetingnya ada di lantai dua puluh. Dua jam saja, setelah meeting, kita pergi jalan-jalan, ok. Tunggulah. Jika ingin istirahat, pergilah ke kamar. Aku pergi sekarang, ya." Feroze mengecup lembut ujung kepala Nina.
"I---iya." Nina sungguh malu dengan perlakukan Feroze apalagi menciumnya dihadapan yang lain.
Feroze pun pergi.
"Ciyeeeee kak Nina. Ya ampun Feroze ternyata manis banget ya." Ledek Nadira.
"Aku tidak sangka saudara kembarku bisa semanis itu. Kau tahu Nina, dia itu selalu jutek pada parempuan. Tak disangka dia sungguh manis padamu," ujar Feroza.
"Kalian tidak tahu saja, pria jutek itu sangat manis pada Istrinya. Sama lah seperti Abang Alif," ujar Queena.
"Kalau Alif sih memang takut wanita bukan jutek. Coba kalau tidak Gynophobia," ejek Tiffany.
"Kau ini! Abang Alif ku yang terbaik pokoknya!"
"Iya ... Iya ... Abang Alif luar biasa." Ejek Kania.
Mereka pun tertawa bersama penuh canda.
To be continue ...
Bonus visual Feroze dan Nina
__ADS_1