
Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Feroze juga Nina telah siap untuk as ke acara keluarga Al-Barokh menyambut keluarga baru Al-Barokh yaitu Nina dan Irsyad. Bukan hanya Nina, semua keluarga Indonesia ikut ke acara tersebut.
Nina masih menampakkan wajah masamnya karena masih kesal pada Feroze.
Feroze menghampir Nina dan memeluk Nina dari belakang. "Habibty, jangan cemberut begitu. Kamu sudah cantik begini kalau ditambah senyuman pasti lebih cantik. Maafkan aku yang membuatmu kesal. Kamu boleh menghukumku dengan apapun asal jangan marah lagi, ya. Kita akan bertemu keluarga besar Al-Barokh, loh. Masa pengantin baru cemberut. Tersenyum ya, Nina-ku." Feroze mencium pipi Nina dari belakang. "Kamu sungguh cantik." Bisik Feroze.
"Sultan menyebalkan!" Nina menyikut perut Feroze hingga membuat Feroze meringis.
"Nina, kejam sekali suami sendiri disikut." Ferose mengusap perut. "Awww" Feroze terjatuh karena merasa sakit.
Nina berbalik ia terkejut melihat Feroze terjatuh. "Kamu kenapa?" Nina begitu panik melihat Feroze. "Maafkan aku, aku tidak menyikutmu dengan keras, kenapa Kamu seperti ini?"
Nina membawa Feroze untuk duduk di sofa. Ia membuka jas serta kemeja Feroze. Nina terkejut melihat ada beberapa bekas luka tembak di tubuh Feroze. Dengan tangan gemetwr is menyentuhnya.
"I---ini?"
"Luka tembak. Dua bulan sebelum bertemu denganmu, aku mengalami tembakan yang hampir merenggut nyawaku. Kamu bisa melihat ada tiga tempat yang mengalami luka tembakan. Salah satunya yang kamu sikut tadi. Sejak saat itu memang itu agak sedikit nyeri jika tersentuh secara kasar. Tapi, tidak apa-apa hanya ngilu," ujar Feroza tersenyum.
"Maaf ..." Wajah Nina berubah sedih ia menangis.
"Hey kenapa menangis." Feroze beranjak mengusap air mata Nina.
"Maaf aku tidak tahu soal ini."
"Kamu memang tidak tahu, Habibty. Apa kamu ingat bagaimana Irsyad bertemu dengan Feroza? Saat itu Feroza diculik. Saat Feroza diculik, aku mencoba melindunginya hingga si penculik menembakku tiga kali. Alhamdulilah aku masih bisa hidup. Kalau tidak, mungkin Kita tidak akan bertemu. Sudah jangan bersedih. Itu hanya masa lalu. Aku tidak apa-apa sekarang. Ayo kita pergi nanti telat. Keluarga Al-Barokh tidak suka ada yang telat." Feroze beranjak dari duduknya.
Tiba-tiba Nina membantu Feroze mengenakan pakaiannya. "Maaf." Lirih Nina.
Feroze meraih dagu Nina lalu mengecup lembut bibir Nina. "Sudah aku maafkan. Makanya jangan kasar lagi, ya. Kamu itu tidak cocok menjadi kasar." Feroze kembali mengecup Nina.
"Pulang dari makan malam, Kita lakukan seperti yang kemarin malam, ya." Bisik Feroze.
"Mesum." Wajah Nina merona malu.
"Aku sangat suka melihat wajah meronamu itu."
"Sudah ayo, nanti Kita telat." Nina tidak ingin terus digoda hingga menarik Feroze keluar dengan segera.
__ADS_1
Mereka berjalan menuju ruang makan. Acara memang di gelar di kediaman Sheikh Hanafi. Terlihat, rumah sudah ramai.
"Feroze ..." Seorang gadis berlari memeluk Feroze.
"Hey lepaskan! Kau bukan anak kecil lagi!" Feroze melepas paksa gadis itu.
"Jahat sekali, mentang-mentang sudah menikah!" gerutu gadis itu.
Gadis itu menatap Nina. Menatapnya dari atas sampai bawah. "Jadi ini, wanita yang merebut calon suamiku."
Nina terkejut mendengar perkataannya.
"Hahahahahaha Feroze, lihatlah wajah terkejutnya. Sungguh lucu."
"Kau ini." Feroze melotot pada gadis itu. "habibty, kenalkan. Ini Adiba, adiknya Mahira. Dia adalah sepupuku." Feroze memperkenalkan Adiba pada Nina.
"Hi Nina. Kenalkan aku Adiba. Jangan dimasukkan dalam hati, ya. Tenang saja, Feroze milikmu." Bisik Adiba.
"Sudah sana jangan mengganggu istriku." Feroze mengusir Adiba.
"Huuuu dasar pelit. Bye Nina." Adiba pergi meninggalkan Feroze dan Nina.
"Wah lihatlah gaun yang dikenakan kakak Ipar, ini bukannya desain terbaru Mahira? Indah sekali dipakai Kakak Ipar. Lihat juga tas dan sepatunya, ini barang terbaru LV limited edition juga. Selera Kakak Ipar benar-benar keren." ujar para sepupu Feroze yang memuji penampilan Nina.
Nina benar-benar merasa tidak nyaman menjadi sorotan para keluarga.
"Aku permisi dulu, ya ..." Nina berjalan menuju meja dimana Queena dan yang lain disana.
"Wow ini kak Nina? Ya ampun pangling banget pakai barang branded."
"Diam Kania!"
"Ish sudah cantik jangan marah-marah."
Nina memijat keningnya karena kesal.
"Kenapa?" tanya Queena.
__ADS_1
"Kesal pada Sultan muda itu. Sungguh tidak nyaman menjadi pusat perhatian seperti ini karena barang-barang bodoh ini!"
"Sabar, Kak. Ini sudah resiko menjadi istri orang penting. Penampilan seperti ini bukan hanya untuk pamer di kalangan atas. Tetapi menjaga harga diri juga. Feroze melakukan ini mungkin karena dia tidak ingin Kakak di ejek oleh keluarganya. Terima saja, Kak," ujar Queena pada Nina.
Nina hanya merebahkan tubuhnya di kursi. "Ini alasan kenapa aku bersikeras tidak ingin menikah dengan Feroze. Aku benci jadi orang lain." Nina beranjak lalu pergi dengan wajah kesal.
"Kak Nina ... Jangan sampai perubahan hidupmu menjadi alasan kalian bertengkar." Queena hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Nina pergi menuju halaman belakang. Tak ada seorangpun disana. Ia duduk di kursi ayun disana. Menikmati angin malam.
"Nona, kenapa anda disini?" Tiba-tiba seseorang menghampiri Nina.
"Musa ... Tidak apa-apa, saya hanya tidak terlalu suka keramaian. Disini sangat menenangkan," ujar Nina. "Kamu sedang apa disini?" tanya Nina.
"Saya sedang berkeliling memeriksa keamanan, Nona."
"Oh begitu ..."
"Apa Nona membutuhkan sesuatu? Biar saya ambilkan."
"Tidak perlu, Musa. Kamu bisa melanjutkan patrolimu."
"Baiklah, Nona. Saya permisi." Musa pun kembali berjalan berkeliling. Sesekali menatap Nina yang diam.
"Ya Habibty, kenapa Kamu disini? Orang-orang sedang mencarimu. Ayo kita masuk lagi." Ferize menarik tangan Nina.
"Aku bosan disana. Kamu bisa kembali ke dalam. Tinggalkan aku disini." Nina melepas genggaman tangan Feroze.
"Ayo, Nina. Jangan seperti ini. Keluarga akan menyangka kamu tidak sopan meninggalkan pertemuan keluarga begini." Feroze kembali menarik tangan Nina.
Dengan terpaksa, Nina mengikuti Feroze.
Dasar mehyebalkan!
Nina kembali masuk kedalam meski ia benar-benar tidak nyaman. Nina hanya bisa memasang senyuman tanpa menjawab pertanyaan para kerabat. Queena hanya bisa menggelengkan kepalanya, pasti akan bertengkar dehgsn Feroze karena Nina benar-benar tidak bisa berbaur.
Benar saja, setelah para tamu pulang, dengsn segera Feroze menarik tangan Nina berjalan menuju kamar.
__ADS_1
Apa yang akan dilakukan Feroze ya???
Tunggu episode selanjutnya ...