
Empat tahun berlalu, kehidupan semua orang begitu berubah terutaman kehidupan Feroze dan Nina. Tak hanya Feroze dan Nina, kehidupan semua orang berubah begitu indah. Seperti Feroza dan Irsyad yang memiliki seorang putri berusia dua tahun bernama Syarifa Cinta Irsyad. Lalu Arsyad dan Nadira yang memiliki seorang anak Laki-laki bernama Muhammad Rasyad. Semua begitu heran pada kedua pasangan itu. Kedua pasangan itu menikah dengan DNA kembar, tetapi justru anak mereka tidak kembar. Meski begitu, mereka semua bahagia.
Begitu juga dengan Nizam dan Amanda yang sudah menikah sejak dua tahun lalu juga Kania dan Kevin yang baru saja menggelar pernikahannya. Kehidupan semua orang begitu bahagia dengan kisahnya masing-masing.
"Umma .... Lihatlah, Mecca merusak mobilku." Terdengar teriakan Medina yang memenuhi istana Sultan Feroze.
Memang, sejak dua tahun yang lalu, Feroze dan Nina memutuskan untuk tinggal berpisah dengan kedua orang tua Feroze. Mereka ingin memiliki rumah sendiri dengan keluarga kecilnya itu.
Medina berlari memeluk kaki sang Umma yang tengah sibuk membuat makan siang.
"Astagfirullah, ada apa lagi, ini?" tanya Nina yang sedang membuat adonan pie.
"Umma, Mecca membanting mobilan yang Baba berikan minggu lalu. Lihat!" Medina menangis sembari menunjukkan mobilnya yang sudah terbelah menjadi dua.
"Mulai drama!" sindir Mecca dengan tatapan dinginnya.
Mecca dan Medina memang memiliki sifat yang jauh berbeda. Medina yang ceria dan mudah mengekspresikan emosinya, sedangkan Mecca memiliki sifat yang dingin. Ia benar-benar susah untuk mengekspresikan perasaannya.
"Mecca, apa yang terjadi?" tanya Nina.
"Med mengatakan mobilnya sangat kuat tidak mudah hancur. Maka dari itu, aku mencobanya dengan menjatuhkan dari lantai tiga. Nyatanya tetap hancur," jawab Mecca dengan datarnya.
"Hey, panggil aku Medina! Kenapa kamu selalu memanggilku Med Med!" gerutu Medina.
"Terserah aku!" jawab Mecca melipat tangannya di dada.
Nina hanya memijat pelipisnya. Ia sungguh heran dengan sikap Mecca. Entah darimana sifat dinginnya itu. Padahal dirinya dan Feroze tidak memiliki sifat yang dingin. Mecca mengingatkan pada sikap Eriska dan Queena. Bahkan Ghianina sendiri anak dan cucu dari mereka memiliki sifat yang begitu manis dan ramah.
Nina menghampiri Mecca. Ia berjongkok mensejajarkan dengan tinggi Mecca. "Mecca sayang, tidak baik menghancurkan mainan orang, apalagi mainan saudara kembarmu. Minta maaf, ya pada Medina. Umma tahu, Mecca anak baik, 'kan?" Nina mengusap kepa Mecca dengan berbicara sangat lembut.
"Ok, sorry." Mecca pun pergi tanpa mengatakan apapun lagi.
Nina hanya tersenyum menggelengkan kepalanya.
"Umma, bagaimana dengan mobilku?" tanya Medina yang masih menangis.
"Habibi, jangan menangis lagi. Nanti bilang sama Baba untuk beli yang baru, ya. Sekalian kita jalan-jalan. Sudah, jangan menangis." Nina menghapus air mata Medina.
"Jalan-jalan? Yeay aku mau Umma. Ye ye ye." Medina berlari dengan begitu bahagiannya.
Nina tersenyum melihat tingkah manis anak-anaknya. Ia pun melanjutkan membuat makan siangnya. Sejak tinggal terpisah, Nina selalu masak dengan tangannya sendiri. Meski banyak pelayan, ia ingin bagian dapur adalah tempat kekuasaannya. Para pelayan hanya akan membantu menyiapkan dan memotong bahan saja. Feroze pun menjadi ketergantungan dengan makanan Nina. Ia benar-benar tak ingin makan apapun yang bukan masakan Nina.
Seperti saat pertemuan dan pesta, ia hanya akan minum dan tidak pernah makan. Menurutnya, makanan orang lain begitu hambar hingga ia tidak akan makan makanan orang lain. Bahkan saat ke luar kota atau ke luar negeri pun, ia akan membawa Nina atau membawa makanan yang Nina buat. Sungguh sikap Feroze itu sangat berlebihan, tetapi Nina hanya bisa menerima itu.
__ADS_1
Seperti sekarang, Nina tengah membuat Matchbous atau yang biasa kita kenal nasi kebuli, lalu salad buatan Nina dan juga membuat pie buah sebagai makanan penutup. Karena sebentar lagi, Sultan Feroze akan sampai setelah perjalanan dari Doha.
Nina memang senang memperpadukan makanan Timur Tengah dengan makanan Indonesia ataupun makanan negara lainnya, karena ia ingin keluarganya tidak pilih-pilih makanan. Ia juga tidak akan memasak banyak makanan karena menurutnya hanya akan membuang makanan. Maka dari itu, ia hanya akan membuat dua sampai tiga menu saja.
Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Terdengar mobil yang datang. Nina tersenyum karena ia tahu, itu adalah Feroze. Ia beranjak dari duduk, lalu berjalan menghampiri Feroze.
"Assalamualaikum." Feroze begitu bahagia memeluk dan mencium Nina dengan mesranya.
"Waalaikumsalam. Sayang, jangan seperti ini. Nanti anak-anak lihat."
"Mau bagaimana lagi? Aku sangat merindukanmu. Sudah tiga hari tak memelukmu serasa satu tahun." Feroze terus memeluk pinggang Nina. "Kau tampak begitu cantik, ya Habibty."
"Astaga, Sultan Feroze semakin hari semakin manis saja mulutnya." Nina mengalungkan tangannya di leher Feroze.
Dengan cepat Feroze mencium bibir Nina. Nina pun membalas ciuman Feroze. Ia pun tak bisa berbohong bahwa ia sangat merindukan Feroze.
"Yeeee Baba pulang."
Terdengar teriakan Medina yang membuat Nina terkejut dan mendorong tubuh Feroze hingga Feroze hampir terjatuh. "Nina!" gerutu Feroze.
Nina hanya tertawa kecil. "Maaf, aku terkejut mendengar suara Medina."
"Anak ini, sungguh mengganggu Babanya bermesraan saja!" gerutu Feroze.
"Assalamualaikum, Hero."
"Waalaikumsalam. Baba."
"Bagaimana kabarmu dan Kakak mu?"
"Baik, Baba."
"Assalamualaikum, Baba." Mecca meraih tangan Feroze dan menciumnya. Lalu pergi lagi.
"Waalaikumsalam ...." Feroze menatap heran dengan sikap anak perempuannya itu. "Mau kemana dia?" tanya Feroze.
"Mau kemana lagi? Pasti ke kandang si Miaw," jawab Nina.
Jangan pernah berpikir Miaw adalah sebuah kucing angora yang manis dan lucu. Pada nyatanya, Miaw adalah anak harimau putih yang baru saja Mecca pelihara. Baru enam bulan Mecca memelihara Miaw, itupun karena Tiger yang meninggal karena terserang virus aneh.
"Habibty, apa kamu sudah masak? Aku sungguh lapar dan merindukan masakanmu. Selama dua hari aku tersiksa karena terpaksa makan makanan diluar."
"Tentu, Sayang. Ayo cuci wajah dan tanganmu dulu."
__ADS_1
Mereka berempat pun makan bersama begitu hangat. Nina yang begitu telaten menyuapi Medina, sedangkan Feroze yang memaksa ingin menyuapi Mecca meski Mecca menolak bahwa ia bisa makan sendiri.
Sesibuk Feroze, ia selalu meluangkan waktu untuk keluarganya.
"Besok kita jalan-jalan, ok. Kalian mau kemana?" tanya Feroze.
"Mall"
"Perpustakaan negara"
Mecca dan Medina berkata berbarengan.
"Mall!" Medina menatap tajam Mecca.
"Library!" Mecca menatap Medina dengan tatapan datarnya.
Mecca memang sangat unik. Baru berusia empat tahun, ia sangat menggilai perpustakaan. Bahkan saat usia tiga tahun, ia sudah bisa membaca. Mecca yang mengagumi tentang astronomi. Ia berkata, cita-citanya ingin menjadi astronot. Jadi, bisa dibayangkan betapa pintarnya Mecca. Beda dengan Medina yang sampai sekarang membaca pun masih terbata. Meski begitu, Medina jauh lebih hebat dalam berbahasa. Medina meski baru berusia empat tahun, ia sudah bisa berbicara lima bahasa. Yaitu bahasa Indonesia, English, Arab, French dan Spanish. Medina selalu berbicara Perancis dan Spanish dengan Ghianina. Ghia sama seperti Medina yang hebat dalam berbahasa asing. Bahkan Nina sampai sekarang belum bisa berbicara bahasa Arab.
"Kita ke mall saja, ya," ujar Feroze.
"Yes!" Medina bersorak.
"Baba selalu begitu! Keinginan Medina yang dikabulkan!" gerutu Mecca.
"Sayang, Baba bukan tidak ingin menurutimu, kita bisa pergi ke toko buku, membeli buku yang kamu sukai. Jika perlu, Baba buatkan perpustakaan untukmu." Feroze mengusap lembut kepala Mecca.
"Sungguh?" tanya Mecca datar.
"Tentu, Sayang. Sudahlah, jangan marah lagi."
"Huh siapa yang marah? Tidak!" Mecca pergi menuju kamarnya.
Feroze hanya tertawa melihat tingkah anak perempuannya itu. Begitu juga Nina. Mecca memang sangat sulit mengekspresikan emosinya. Meski begitu, tatapan matanya tak bisa berbohong. Saat kedua orang tua nya memberikan apa maunya, matanya sungguh berbinar meski wajahnya terlihat datar.
To be continue ...
bonus visual
__ADS_1