
Tujuh hari berlalu, Feroze dan Nina sudah kembali sehat. Semua keluarga juga sudah kembali ke Indonesia.
"Pokoknya aku mau Tiger kembali!" Teriak Nina yang merengek pada Feroze.
Feroze benar-benar tak habis pikir pada Nina. Sebelumnya, ia takut pada Tiger, hingga Feroze memberikan pada kebun binatang. Sekarang, Nina justru merengek ingin Tiger kembali kerumahnya.
"Habibty, bukankah kamu takut dengan Tiger? Jika aku bawa lagi terus kamu pingsan, bagaimana?"
"Tidak! Aku ingin Tiger di sini. Cepat bawa dia kembali!"
"Tidak bisa, Habibty. Aku sudah memberikan pada kebun binatang. Kita cari peliharaan lain saja, ya." Feroze terus membujuk Nina.
"Kau jahat, Feroze. Aku ingin Tiger, bukan yang lain." Nina mulai menangis.
Feroze dibuat bingung oleh istrinya itu. Semakin hari, semakin aneh saja tingkahnya. Feroze pun pergi keluar kamar. Ia mencari Fayez.
"Fayez ..." Teriak Feroze.
"Sheikh, ada apa?"
"Kamu minta Tiger kembali pada kebun binatang," ujar Feroze.
"Sheikh, mana bisa begitu? Binatang yang sudah diberikan pada kebun binatang, tidak bisa diambil kembali."
"Ahhh lakukanlah. Ini keinginan Nina. Apapun kamu lakukan ganti konpensasi. Pokoknya, aku mau segera Tiger berada di kandangnya." Feroze pun pergi meninggalkan Fayez yang merasa bingung.
"Bukannya Madame takut dengan Tiger? Kenapa sekarang ingin melihat Tiger?" Fayez hanya menggelengkan kepalanya.
Di dalam kamar, Nina masih merasa kesal karena tidak didengar keinginannya. Feroze mengahampiri Nina yang sedang mengomel itu.
"Ya Habibty, kau nampak menggemaskan ketika marah-marah seperti itu." Feroze mencubit kedua pipi Nina.
"Lepas, Feroze!" Denga kesal, Nina melepas tangan Feroze yang berada di kedua pipinya.
Feroze meraih Nina, lalu membaringkannya. Sedangkan Feroze berbaring disamping Nina, menghadap Nina mengusap lembut pipi Nina.
"Kenapa istriku menjadi pemarah seperi ini? Sayangku, dengarlah. Apapun yang kamu mau, aku akan menurutinya. Tapi, semua butuh waktu. Bersabarlah. Beberapa hari lagi Tiger akan sampai di rumah kita. Itu agak sulit, Nina. Jangan marah lagi, ya. Aku sungguh tak tahan melihatmu marah. Kamu sungguh seksi." Feroze mengecup bibir Nina.
"Mesum!" Nina memukul pelan dada Feroze.
__ADS_1
Feroze tergelak mendengar umpatan Nina. Feroze mengusap perut Nina. "Anak Baba, jangan meminta yang aneh-aneh, ya. Meski meminta yang aneh-aneh setidaknya sabar karena semua butuh waktu. Jangan buat Ummu mu marah. Baba sungguh tak tahan melihat Ummu mu marah."
Nina tersenyum mendengar Feroze berbicara dengan kedua anaknya. Menurut Nina terkesan sangat manis.
"Begitu, dong tersenyum. Ini baru Nina-ku." Feroze mengcium kening Nina.
"Feroze, aku mau spaghetti Bolognese."
"Baiklah, akan aku minta pada chef untuk membuatnya."
"Tidak, aku mau kamu yang buat."
"Hah? Aku?" Feroze menunjuk dirinya sendiri.
Nina mengangguk.
"Tidak. Aku tidak bisa masak. Nanti malah jadi racun untukmu dan anak-anak kita." Tolak Feroze.
"Ayolah ya Habibi." Bujuk Nina dengan mata puppy nya dengan rayuan memanggil Feroze 'Habibi' akhirnya Feroze kalah.
"Baiklah, tunggu ya." Feeoze kembali mengecup kening Nina. "Apapun akan aku lakukan untukmu."
Feroze pun pergi menuju dapur. Di dapur, semua orang begitu terkejut dengan kedatangan Sheikh muda nya.
"Chef, kemarilah." Feroze memanggil salah satu Chef.
"A---ada apa, Sheikh," tanya Chef gugup. Ini kali pertama ia berhadapan dengan Sheikh mudanya.
"Ajarkan aku membuat spaghetti Bolognese," ujar Feroze.
"Me---mengajarkan Sheikh?" tanya Chef tak percaya.
"Iya, cepatlah siapkan segalanya. Istriku tidak boleh menunggu lama."
"Ba---baik, Sheikh."
Semua Chef menyiapkan bahan membuat spaghetti. Para Chef mengajari Feroze dari cara merebus mie, membuat saosnya dan menghidangkannya. Beberapa kali ia coba. Yang awalnya mie terlalu lembek, saos yang keenceran, lalu saos yang gosong dan terlalu asin, hingga dua jam berlalu, akhirnya jadilah satu piring spaghetti bolognese buatan Feroze.
"Huft, finally ..." Feroze mengusap peluh di keningnya.
__ADS_1
Feroze mencuci tangannya, membasuh wajahnya agar terlihat fresh. Setelah itu, ia membawa satu piring spaghetti dengan orange juice ke kamarnya.
"Ya Habibty, spaghetti nya siap," ujar Feroze yang masuk kedalam kamar.
Terlihat, Nina tengah tertidur.
"Apa? Dia tertidur? Come on!" gerutu Feroze.
Feroze meletakkan nampan itu di meja. Ia berjalan menuju tempat tidur. Ia duduk disamping Nina yang tengah tidur menyamping ke kanan.
"Nina... Nina... Bangun. Spaghetti nya sudah siap." Feroze membangunkan Nina, namun Nina tak juga bangun.
"Nina ..." Feroze mengguncangkan bahu Nina.
Nina membuka matanya. "Feroze! Kenapa menganggu tidurku?" Nina begitu kesal karena tidurnya diganggu.
"Habibty, spaghetti yang kamu inginkan sudah jadi," ujar Feroze.
"Aku tidak mau! Aku sudah tidak berselera. Kamu terlalu lama membuatnya. Sekarang aku ngantuk ingin tidur saja. Awas ya mengganggu tidurku!" Nina berbalik memunggungi Feroze dan menarik selimutnya.
Sedangkan Feroze, ia hanya terbengong. Sudah dua jam dia berusaha membuat spaghetti, tetapi tak dimakan Nina. "Sabar Feroze, sabar. Itu bukan Nina. Itu anak-anak mu yang mengerjaimu." Feroze mengusap dadanya yang serasa ingin meledak karena begitu kesal. Semua perjuangannya sia-sia.
**
pagi hari pun tiba. Seperti biasa, terdengar Nina yang mengalami morning sickness. Dengan sabar, Feroze mengusap punggung Nina. setelah selesai, Feroze mengusap wajah Nina dengan handuk.
"Sudah?" tanya Feroze.
Nina hanya mengangguk. Setelah itu, Feroze menggendong Nina menuju tempat tidur. ia meletakkan Nina dengan begitu hati-hati.
"Aku buatkan teh jahe hangat, ya. Tunggu sebentar." Feroze pergi menuju dapur. Meski terlihat masih bingung, Feroze terus membuat teh jahe hangat untuk Nina. Ia sungguh merasa kasihan pada sang istri yang harus mengalami hal tidak enak selama mengandung buah hatinya. Karena itu, Feroze begitu sabar menghadapi Nina yang tingkahnya aneh karena ia tahu bahwa itu hormon bawaan bukan dari Nina sendiri. Feroze juga selalu berusaha membahagiakan Nina dengan cara apapun. Itu sebagai bukti bahwa rasa sakit mengandung, akan dibayar Kebahagiaan oleh Feroze.
Setelah berhasil membuat secangkir teh jahe hangat, Feroze kembali ke kamar. Terlihat Nina masih menyadarkan tubuhnya dengan mata tertutup. Feroze duduk disamping Nina. ia mengusap lembut pipi Nina. Nina membuka matanya.
"Habibty, minumlah dulu agar perutmu sedikit enakan." Feroze menyuapi sendok demi sendok untuk Nina hingga habis.
"Enak," ujar Nina tersenyum.
"Sungguh?" tanya Feroze tersenyum.
__ADS_1
Nina hanya mengangguk tersenyum pada Feroze. Nina bergeser, ia meminta Feroze untuk duduk disampingnya. Dengan cepat, Feroze duduk disamping Nina. Nina memeluk tangan Feroze. Meraih tangan Feroze untuk mengusap perutnya yang cukup sakit seperti melilit karena mual yang berlebihan. Dengan lembut, Feroze mengusap perut Nina. Tak lupa Feroze bertilawah. Feroze membaca surah Maryam sambil terus mengusap perut Nina. Nina begitu merasa tenang dengan perlakuan Feroze hingga ia tertidur kembali dengan meyandar dibahu Feroze.
To be continue...