
Hari demi hari dilalui seperti biasanya. Satu minggu sudah Feroze dan keluarganya kembali ke Dubai. Perasaan Feroze tiba-tiba berbeda sejak pertemuannya dengan Nina apalagi saat Feroze merasa terkejut bahwa Nina tahu ukuran sepatunya padahal ia tidak memberitahu Nina.
"Ukuran kakimu sama seperti Arsyad juga Irsyad. Aku sering membelikan sepatu untuk mereka jadi aku tahu betul."
Begitulah ucapan Nina saat Feroze bertanya dari mana ia tahu ukuran sepatunya.
Feroze selalu tersenyum di kantornya saat mengingat Nina.
"Aku benar-benar jatuh cinta padanya sepertinya." Feroze tersenyum menggelengkan kepalanya.
Feroze meraih ponselnya mencari nama Balqis.
"Assalamualaikum." Feroze mengucap salam.
"Waalaikumsalam. Feroze, ada apa? tumben meneleponku?" tanya Queena.
"Balqis, aku mencintai saudaramu," ujar Feroze tanpa basa basi.
Feroze adalah tipe pria yang to the poin, dimana jika ia merasakan atau menginginkan sesuatu, ia akan mengatakan tanpa ragu.
"Hah? Siapa? Kania?" tanya Queena.
"Kau pikir aku pedophile suka anak kecil? Aku mencintai Nina," jawab Feroze.
"Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ..." Terdengar Queena seperti tersedak.
"Balqis, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Feroze.
"Kau buat aku terkejut, Feroze!!!" Bentak Queena di ujung telepon.
"Apa yang membuatmu terkejut? Wajar kan aku menyukai Nina? Yang tidak wajar jika aku menyukai Arsyad," jawab Feroze santai.
"Kau tahu? Kak Nina punya kriteria aneh saat memilih pasangannya? Dia akan menerima ...."
"Cinta pada pandangan pertama, kan?" Timpal Feroze. "Aku tidak perduli. Yang aku perdulikan aku akan mengejarnya sampai dia mau menikah denganku. Sekarang, kau berikan nomor ponselnya. Aku akan mulai mengejarnya," ujar Feroze percaya diri.
"Aku baru tahu jika seorang Feroze kepercayaannya tinggi sekali. Baik lah, aku akan membantumu. Tapi ingat, jika setetes saja air mata kak Nina jatuh karena kamu, aku akan menghajarmu, Feroze!" ancam Queena.
"Tenanglah, akan hanya ada tangis Kebahagiaan yang akan ia rasakan," jawab Feroze.
"Aku pegang janjimu," ujar Queena.
"Baiklah, kirimkan segera nomor ponselnya."
Mereka pun menutup teleponnya. Tak lama, terdengar dering chat yang menunjukkan dari Balqis. Feroze tersenyum saat melihat nomor yang dikirim Queena.
Dengan tersenyum ia menyimpan nomor Nina dengan nama "Mine".
"Kau akan jadi milikku, Nina." Feroze tersenyum.
***
Tring. Dering chat milik Nina berbunyi.
Assalamualaikum
Begitulah chat nya.
"Siapa ini? Kenapa nomornya dari luar negeri?" tanya Nina.
__ADS_1
Nina tak menggubrisnya karena merasa tak kenal.
Nina, ini aku, Feroze.
Pesan lain datang. Nina terkejut dengan apa yang ia lihat.
"Apa aku tidak salah lihat?" tanya Nina yang membetulkan kaca mata bulat nya itu menatap lekat isi chat nya.
Tak lama, nomor itu menelepon.
"Aduh, dia menelepon lagi. Angkat tidak ya?" ujar Nina bingung.
"A---Assalamualaikum." Nina dengan gugup mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam. Nina, ini aku, Feroze."
Deg! Jantung Nina berdegup dengan kencang saat mendengar suara berat menawan itu.
"Oh Tuan, ada apa?" tanya Nina mencoba tenang meski gugup.
"Feroze, Nina. Bukan Tuan. Sudah berapa kali aku katakan jangan panggil aku Tuan."
"Ada apa?" tanya Nina.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin meneleponmu," jawab Feroze dengan wajah tersenyum.
"Tuan dapat nomerku dari mana?" tanya Nina.
"Hal mudah untukku mendapatkan informasi tentangmu. Oh ya, aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
"Apa?" tanya Nina.
"Aku menyukaimu dan aku akan mengejarmu," ujar Feroze dengan percaya diri.
"Aku bilang, aku menyukaimu dan akan mengejarmu. Aku tidak perduli kamu suka atau tidak. Tapi yang pasti, ketika aku menyukaimu, itu berarti kamu akan menjadi milikku."
"Ta---tapi?"
"Tidak ada kata tapi. Aku tidak perduli kamu suka atau tidak. Tapi yang pasti, cepat atau lambat kamu akan menjadi milikku. Bersiaplah, Arinina. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam ... Eh tapi tunggu, Tuan ... Tuan ... Halo ... Ish! Kenapa dimatiin sih! Kan belum selesai bicara!" gerutu Nina. "Apa aku tidak salah dengar? Feroze menyukaiku? Ah tidak Nina tidak, pasti ini khayalanmu." Nina menggelengkan kepalanya merasa tak percaya.
Tring! Pesan masuk
[Unkonw number]
Mengejarmu dimulai esok hari. Bersiaplah, ya Habibty.
"What?" Nina terkejut melihat isi chat nya.
"Ini sungguhan Feroze Al-Barokh anak Sultan Hanafi? Kenapa percaya diri sekali?" tanya Nina yang keheranan dengan tingkah Feroze.
**
Esok hari pun tiba. Seperti biasa, Nina sampai di kantor pukul sembilan pagi.
"Selamat pagi, Bu." Para karyawan menyapa Nina.
"Selamat pagi," jawab Nina dengan senyuman.
__ADS_1
Nina pun membuka pintu ruangannya.
"Astagfirullah ..." Nina terkejut melihat apa yang ada didalam ruangannya. Seketika Nina bersih-bersih.
"Hachu ... Hachu ..." Nina terus bersin tanpa henti. Ia kembali keluar menutup ruangannya.
"Hachu ..."
Ponsel Nina berdering. Terlihat nama Tuan Feroze di sana. Nina pun mengangkatnya.
"Hachu ... Hachu ... Hachu ..." Nina terus bersin.
"Assalamualaikum, Nina."
"Waalakum ... Hachu." Nina bersin kembali.
"Halo Nina ... Nina ... Apa yang terjadi? Apakah kamu sakit?" tanya Feroze panik.
"Aku ... Hachu ..."
Tuuttt ... Ttuuuttt ... Ttuuuttt ...
"Loh kok dimatiin?" tanya Nina bingung.
"Hachu ..." Nina kembali bersin.
"Terry ... Terry ..." Nina memanggil sang Asisten.
"Ada apa, Bu?" tanya Terry.
"Itu siapa yang kirim bunga banyak banget? Kamu tahu kan aku alergi bunga?" ujar Nina terus bersin.
"Hehehehehehe Terry tidak tahu, Bu. Terry baru sampai," ujar Terry tersenyum canggung.
"Kebiasaan ya telat. Coba kamu tanya siapa yang kirim bunga-bunga itu. Setelah itu pindahkan kemanapun sampai tak tercium oleh hidungku. Sementara aku pakai ruangan samping. Cepat, ya" Nina menepuk bahu gadis muda berusia dua puluh dua tahu ini.
"Ok Boss," jawab Terry memberi hormat.
"Siapa juga yang kurang kerjaan memberi begitu banyak bunga padaku." Nina yang tengah duduk meraih kaca matanya lalu membuka laptopnya.
Tak lama, Terry datang. "Bu, ini ada surat di salah satu bunga di ruangan Ibu," Terry memberikan sebuah surat yang masih dalam amplop.
Nina menerimanya. "Terimakasih, Terry. Kamu bisa kembali ke ruanganmu."
"Permisi, Bu." Terry pun pergi.
Nina membuka surat dari amplop berwarna hitam itu.
Aku tidak tahu bunga apa yang kamu suka, jadi aku pilihakan semua tipe bunga untukmu. Sebelum memberitahuku apa bungan kesukaanmu, aku akan terus mengirim semua bunga itu setiap hari. Semoga harimu menyenangkan -Feroze-
"Feroze? Astaga. Dia mau membunuhku kali ya." Nina meraih ponselnya mencoba menelepon Feroze. Tetapi nihil, nomornya di luar jangkauan.
"Ish kemana dia? Bisa gawat jika dia kirim bunga sebanyak itu setiap hari. Bisa kambuh terus alergiku," gerutu Nina.
Nina mengetuk-ngetuk jarinya di meja. "Aahhh kenapa jadi memikirkan dia, sih, fokus Nina." Nins kembali fokus pada laptopnya.
Sepanjang hari Nina sibuk di ruangannya karena akan ada pekerjaan besar yang akan dia handle. Hingga waktu pulang kerja pun datang. Nina bersiap untuk pulang. Ia melepas kaca matanya, melipat laptopnya dan menyimpannya di dalam tas. Lalu, Nina bersiap untuk pulang. Ia keluar dari ruangannya berjalan menuju lift masuk kedalam menekan tombol lantai satu.
Pintu lift terbuka, betapa terkejutnya Nina dengan apa yang ia lihat.
__ADS_1
"Feroze ..."
To be continue ...