Dikejar Anak Sultan

Dikejar Anak Sultan
part 14


__ADS_3

Pagi pun tiba. Feroze segera menuju hotel untuk menemui Nina. Ia terus mengetuk pintu kamar Nina tetapi tidak ada jawaban.


"Nina ... Nina ..." Feroze terus mengetuk pintunya tetapi tidak ada jawaban.


Feroze pun pergi menuju kamar Queena. Ia memencet bell kamar Queena. Alif membuka pintu.


"Alif ... Balqis mana?" tanya Feroze.


"Ada, tunggu sebentar. Masuklah."


Merekapun masuk. Feroze menunggu di ruang tamu sedangkan Alif pergi menuju kamar memanggil Queena.


"Sayang, ada Feroze mencarimu." ujar Alif pada Queena yang sedang menggendong Baby Ghia.


"Pasti mencari Kak Nina. Apa yang harus aku katakan?" gerutu Queena. "Bang, pegang dulu Baby Ghia. Aku akan menemui Feroze." Queena memberikan Baby Ghianina pada Alif. Lalu Queena menghampiri Feroze.


"Balqis ... Kemana Nina? Kenapa aku ketuk pintu kamarnya ia tidak ada?" tanya Feroze segera berdiri saat melihat Queena.


"Duduklah. Panik sekali." Queena duduk di sofa. "Semalam kak Nina pulang ke Indonesia," jawab Queena santai.


"Apa??? Kenapa bisa?" Tanya Feroze terkejut.


"Sudahlah, Feroze. Kakak tidak mencintaimu. Berhenti mengejarnya."


"Tidak, Balqis. Aku tidak akan berhenti mengejarnya sampai dia menerimaku. Aku akan menyusulnya." Feroze hendak berdiri tetapi ditahan Queena.


"Feroze. Biarkan kakak sendiri. Jangan ganggu dia dulu. Apa Kamu tidak kasihan padanya? Sejak dia bertemu denganmu, dia benar-benar berubah. Dia lebih sering diam dan murung. Beri dia waktu sendiri, Feroze."


Feroze terduduk lesu kembali. "Apa yang harus aku lakukan, Balqis? Aku tidak ingin kehilangan dia." Feroze mengusap wajahnya secara kasar.


"Kalian berdua itu sungguh keras kepala. Yang satu ingin mendekat, yang satu ingin menjauh. Tingkah kalian benar-benar deh." Queena hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Feroze berdiri hendak pergi.


"Kau mau kemana?" tanya Queena.


"Pulang. Tenang saja, Aku tidak akan menyusul Nina." Feroze berjalan dengan gontai pergi meninggalkan kamar Queena.


**


Sejak kejadian itu, Feroze berusaha tidak menghubungi Nina. Ia terus mengingat kata Queena bahwa Nina harus memiliki waktu untuk sendiri.


"Aku tidak akan menyerah, Nina."


Hari pernikahan Arsyad-Nadira juga Irsyad-Feroza pun tinggal beberapa hari. Keluarga Sheikh Hanafi benar-benar sibuk termasuk Feroze saudara satu-satunya Feroza. Ia benar-benar sibuk mengatur segalanya. Ia sengaja menyibukkan diri agar tidak terus mengingat Nina. Namun semua sia-sia. Saat waktu luang, ia kembali mengingat senyuman Nina yang membuatnya sangat rindu.


Feroze meraih ponselnya. Terlihat foto Nina yang sedang makan cookies dengan piyama lucunya. Feroze tersenyum melihat foto candid yang ia ambil. Ia menjadikan wallpaper di ponselnya.


"Aku sangat merindukanmu, ya Habibty." Feroze mencium layar ponselnya.


**


Hari pernikahan dua pasanganpun datang. Semua sudah siap sedia dengan pernikahan ini. Terlihat, tiga keluarga tengah bersiap untuk mengantar anak-anak ke kehidupan barunya. Kedua saudara kembar itu telah bersiap untuk ijab kabul.


Yang pertama ijab kabul adalah Arsyad. Dengan yakin, ia mengikrarkan janjinya dihadapan sang pencipta juga para Malaikat yang berdoa untuk pernikahannya. Setelah itu Irsyad yang berikrar. Seperti Arsyad, Irsyad pun berikrar dengan yakin hingga mereka sah menjadi suami istri. Tak lama, Nadira dan Feroza keluar dengan didampingi oleh Queena, Kania, Nina, Tiffany, Anna juga Amanda.


Nadira begitu cantik dengan gaun berwarna pink dengan bertahtakan mahkota berlian. Begitu juga Feroza yang menggunakan gaun berwarna baby blue dengan mahkota berlian bertengger di kepalanya. Mereka berdua benar-benar seperti Princess dalam kartun. Cantik, anggun dan luar biasa.


Arsyad dan Irsyad menggunakan tuxedo yang sama benar-benar sama. Mereka ingin mengerjai para istrinya untuk memilih apakah Mereka benar-benar tahu siapa suami mereka.


"Ayo, Nadira dan Feroza, temukan suamimu," ujar Queena pada kedua mempelai wanita itu.


Dengan tersenyum, Nadira dan Feroza memilih. Nadira berada di sebelah kiri, Feroza berada di sebelah kanan. Hingga akhirnya kedua saudara kembar itu berlutut memasangkan cincin berlian di tangan para istrinya karena mereka telah benar memilih suaminya.

__ADS_1


"Meski mereka benar-benar mirip, tapi hati Mereka berbeda. Hati kami dan suami kami sudah menyatu. Meski ada ribuan pria yang memiliki wajah yang sama, tetap saja, hati kami akan kembali ke hati pasangannya," ujar Nadira dan juga Feroza.


Semua orang bertepuk tangan riuh dengan kata-kata mempelai wanita.


"Bagaimana aku tidak bisa mengenali senyuman manis ini," ujar Nadira pada Arsyad.


"Bagaimana aku tidak bisa mengenali tatapan cinta ini," ujar Feroza pada Irsyad.


Berbeda dengan mereka, satu pasangan lain masih dilema dalam hubungan mereka, yaitu Feroze dan Nina. Sudah setengah tahun Feroze mengejar Nina, namun respond Nina masih sama. Ia masih terus menghindari Feroze.


"Nina, kita harus bicara sekarang!" Feroze menarik tangan Nina.


"Feroze, lepas!" Nina mencoba melepaskan genggaman tangan Feroze tetapi semua sia-sia.


Feroze membawa Nina masuk kedalam mobil, lalu ia mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi melintasi jalanan Dubai.


"Apa kau gila, Feroze? Berhenti!" ujar Nina ketakutan.


"Jika aku gila memang kenapa? Kau yang membuatku gila, Nina! Kenapa kau tidak bisa menerimaku? Katakan? Apa alasanmu tidak menerimaku?" tanya Feroze.


"Berhenti, Feroze!" Teriak Nina.


"Tidak! Katakan dulu, apa alasanmu menolakku?". Ujar Feroze.


"Karena aku, tidak layak untukmu, Feroze!" ujar Nina menunduk.


Seketika, Feroze mengerem mobilnya.


"Feroze! Apa kau gila? Jika mobil belakang menabrak kita, kita bisa mati." Nina begitu ketakutan.


"Apa yang kamu katakan tadi?" tanya Feroze.


Nina terdiam.


"Aku tidak pantas untukmu, Feroze. Kita berbeda. Aku hanyalah gadis biasa, sedangkan kamu??" Nina menundukkan kepalanya.


"Karena pemikiran bodoh ini, kamu menolakku?" tanya Feroze menujuk kepala Nina. "Astaga Balqis, kenapa kamu memiliki saudara yang bodoh seperti ini!" Feroze menatap Nina.


"Nina, lihat aku. Aku tidak perduli siapa kamu. Mau kamu anak raja, mau kamu orang biasa, aku tidak perduli! Yang aku perduli adalah aku mencintaimu. Aku ingin hidup bersamamu. Nina, katakan dengan jujur apa Kamu mencintaiku?" tanya Feroze dengan tatapan yang dalam pada Nina.


Nina hanya diam. Ia tak menjawab pertanyaan Feroze.


"Nina, aku mohon. Kali ini jujurlah, dengarkan kata hatimu. Apa kamu juga mencintaiku?" tanya Feroze kembali.


"I---iya, tapi ...."


Belum mengatakan apapun, Feroze sudah membungkam bibir Nina dengan sebuah ciuman. "Aku tidak ingin mendengar kata selain kaya iya. Kamu milikku sekarang, Nina. Kamu milikku." Feroze memeluk Nina dengan erat.


"Tapi, apa kata orang nanti?" tanya Nina.


"Aku tidak perduli dengan apa kata orang. Aku hanya perduli dengan perasaan kita berdua. Aku sangat mencintaimu, Nina." Feroze memeluk erat Nina.


Nina menangis dengan kejadian ini. Hatinya serasa lega karena sudah mengungkapkan hal yang mengganjal di hatinya.


Feroze melepaskan pelukannya. "Ayo kita kembali, aku ingin menikahimu sekarang juga," ujar Feroze menyalakan mobilnya kembali.


"Apa??? Apa kau gila?" Pekik Nina terkejut dengan apa yang dikatakan Feroze.


"Aku memang gila. Aku ingin mengikatmu dengan pernikahan, jadi kamu tidak akan pergi lagi dariku.


"Tapi???"


"Sudahlah tidak ada kata tapi. Kita menikah sekarang."

__ADS_1


Feroze pun dengan segera kembali ke hotel. Sampai di hotel, Feroze menarik tangan Nina menuju hall.


"Feroze, Nina, darimana saja kalian?" tanya semua orang pada Feroze dan Nina.


"Bisakah kita bicara? Tapi tidak di sini. Aku ingin berbicara tentang hubunganku dan Nina," ujar Feroze.


Semua orang pun mengikuti Feroze yang berjalan menuju ruang istirahat.


"Ummu, Baba, aku ingin menikahi Nina. Sekarang." ujar Feroze yakin.


"Apa?" teriak semua terkejut termasuk Vita yang tiba-tiba pingsan.


"Mama ..." Nina melepas genggaman tangan Feroze menghampiri sang Mama.


"Kamu sih ada-ada saja, sudah ah jangan bercanda!" gerutu Nina pada Feroze.


"Siapa yang bercanda? Aku serius. Baba, dimana penghulu tadi?" tanya Feroze.


"Habibi, jangan bercanda kamu." Ummu mencoba berbicara pada Feroze.


"Aku tidak bercanda, Ummu. Nina sudah mengatakan ia mencintaiku. Aku tidak mau membuang waktu lagi. Aku ingin mengikatnya dengan pernikahan sekarang juga." Feroze benar-benar keras kepala.


"Aku tidak mau, Feroze!" tolak Nina.


"Kau sudah mengatakan Ya, Nina. Itu berarti tidak ada penolakan."


"Kau sungguh menyebalkan, Feroze! Aku tidak mau menikah sekarang!"


"Mau menikah kapan, Nina? Kapanpun kau mau, aku akan turuti. Tapi, kau harus tinggal di Dubai sampai kau siap menikah. Fayez!" Feroze memanggil Fayez.


"Ada apa, Sheikh?" tanya Fayez.


"Ambil semua barang Nina, yang paling utama Passportnya. Jangan biarkan dia keluar dari Dubai ataupun negara ini. Siapa yang membantunya, habisi dia!"


"Feroze! Apa yang kamu lakukan!" Bentak Baba.


"Aku hanya mempertahankan orang yang aku cintai," ujar Feroze santai.


"Bukan begini caranya, Feroze! Ini pemaksaan namanya," sahut Queena.


"Aku tidak perduli. Hanya ada dua pilihan, Nina. Menikah sekarang, atau tinggal disini sampai kau siap menikah. Ketika kau mengatakan kau mencintaiku, itu berarti kamu sudah menjadi milikku. Aku ingin menikahimu karena aku ingin memilikimu dengan cara halal. Sekarang, semua terserah padamu." Feroze melipat kedua tangannya diatas perut dengan menatap Nina yang masih menyadarkan Vita.


Apa yang harus aku lakukan? Feroze benar-benar gila!.


"Tunggu Mamaku sadar, kita akan menikah." Hanya itu yang bisa Nina jawab. Ia akhirnya pasrah dengan semuanya. Ia tidak ingin ada keributan lagi.


Feroze tersenyum bahagia. "Fayez, panggil penghulu tadi. Dalam satu jam, aku harus menikah dengan Nina," ujar Feroze pada Fayez.


"Balqis, antar Nina untuk berhias. Tidak perlu berlebihan. Cukup buat wajahnya fresh. Untuk Tante eh Mama Vita, tenang saja. Ada Dokter disini yang sudah bersiap," ujar Feroze.


Dan Feroze pun benar-benar menikahi Nina di hari yang sama dengan pernikahan si kembar. Kini, ada tiga pasangan dan empat keluarga yang bahagia. Meski semua sangat terkejut dengan keputusan tiba-tiba Feroze. Sampai Vita pingsan mendengar Feroze akan menikahi putri satu-satunya itu.


Feroze benar-benar tidak ingin kehilangan Nina lagi hingga ia langsung menikahi Nina meski hanya pernikahan secara agama karena tidak ada persiapan sama sekali. Nins pun hanya pasrah dengan ide gila Feroze itu. Karena Nina diancam akan ditahan di Dubai oleh dirinya.


Bukan hanya keluarga yang terkejut, semua undangan pun terkejut dengan keputusan sang Sultan muda untuk menikahi seoramg gadis biasa dengan mendadak. Berita menikahnya Feroze dan Nina menjadi berita utama di Negara United Arab Emirates.


To be continue ...


Apakah setelah menikah kehidupan Feroze dan Nina akan bahagia? Huh tidak semudah itu Ferguso. Menikah dengan seorang Sultan, tidak sesimple yang dibayangkan.


Nantikan kelanjutan kisah cinta Feroze dan Nina, ya. Jangan lupa untuk like, komen, vite, rate serta Favorite ya.


Salam manis dari Mrs. A

__ADS_1


__ADS_2