Dikejar Anak Sultan

Dikejar Anak Sultan
part 32


__ADS_3

Setelah banyak berbincang, Feroza dan Nina kembali ke rumah sakit. Feroza sudah mendapat telepon dari Irsyad bahwa Feroze sudah dipindahkan ke ruang rawat. Mereka pun menuju kesana. Terlihat keluarga berada di luar.


"Kenapa tidak di dalam?" tanya Nina.


"Hanya dua orang yang boleh menunggu di dalam. Di dalam ada Kak Queena dan Ummu," ujar Irsyad.


"Apakah aku boleh masuk?" tanya Nina.


"Masuklah. Kamu kan istrinya," ujar Feroza.


Nina pun berjalan masuk. Ia ketuk pintu, lalu masuk kedalam.


"Assalamualaikum." Nina mengucap salam.


"Waalaikumsalam," jawab Queena dan Ummu.


"Nina, kemarilah." Ummu memanggil Nina.


"Ummu, pulanglah bersama Baba. Sejak subuh Ummu dan Baba belum istirahat. Biar Nina yang menjaga Feroze dengan Fayez. Ummu ajak juga yang lain. Mereka pasti lelah sejak sampai belum istirahat," ujar Nina.


"Ummu masih ingin menemani Feroze, Nina."


"Ummu, Nina tahu Ummu mengkhawatirkan Feroze. Tapi, Ummu lihat kondisi Ummu. Pulang, ya. Besok bisa kesini lagi. Nina janji saat Feroze sadar, Nina akan menelepon." Nins terus membujuk Ummu.


"Baiklah Ummu pulang. Berjanjilah saat Feroze bangun, kamu harus menelepon Ummu."


"Tentu, Ummu." Nina mencium tangan Ummu.


"Baiklah, ayo Balqis."


Queena hanya mengangguk. Ummu pun keluar untuk pulang. Nina menghampiri Queena. Ia meraih tangan Queena.


"Queena, maafkan aku. Aku sadar aku memang salah. Selama Feroze dioperasi, aku memikirkan segalanya. Aku tidak akan bahagia selain dengan Feroze. Meski dia aneh dan menyebalkan, dia adalah pria yang tulus penuh cinta dan kamu benar, dia adalah takdirku. Takdir yang aku harapkan sejak dulu. Aku berjanji sebisa mungkin, aku tidak akan menyakitinya lagi. Maafkan, aku." Nina menangis dihadapan Queena.


Queena memeluk Nina. Mengusap punggung Nina. "Minta maaf lah pada Feroze. Dia yang kakak sakiti. Maafkan aku juga yang sedikit tegas padamu, Kak. Aku hanya ingin kedua kakakku bahagia. Aku tahu, kalian saling mencintai dan saling ketergantungan."


Queena melepas pelukannya. "Baiklah, aku akan pulang. Kasihan triplets G ditinggal. Kakak baik-baik disini. Aku akan menyuruh Fayez dan Musa disini menunggu diluar. Jika butuh sesuatu, katakan pada mereka berdua. Aku pulang, ya. Besok aku kembali. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam ..."


Queena pun keluar. Tak lama, Feroza dan Irsyad masuk untuk melihat Feroze sebentar.


"Kami pulang dulu, ya. Nanti kami kemari lagi. Jangan lupa hubungi kita jika terjadi sesuatu atau Feroze sadar," ujar Feroza.


"Tentu. Terimakasih Feroza, Irsyad."


"Kita keluarga, tidak perlu berterimakasih. Ya sudah, kami pulang dulu."


"Kak, kami pulang dulu, ya. Yang kuat."


Feroza dan Irsyad pun keluar. Tak lama, Fayez masuk.


"Madame, Saya dan Musa ada di luar. Jika membutuhkan sesuatu, katakan saja, ya."


"Baiklah," jawab Nina.

__ADS_1


"Kalau begitu, saya keluar dulu."


Nina hanya mengangguk. Setelah Fayez keluar, Nina berjalan menuju brankar Feroze. Ia duduk di kursi samping brankar. Nina meraih tangan Feroze. Nina kembali menangis melihat tangan Feroze yang di perban.


"Maafkan aku ..." Nina terus menangis menciumi tangan Feroze.


Waktu terus berjalan, tetapi Feroze belum juga sadar. Nina pun tertidur entah pukul berapa. Setelah beberapa waktu Nina tertidur, Nina merasakan pergerakan tangan. Nina membuka matanya ia melihat pergerakan tangan Feroze. Nina tersenyum bahagia.


"Sayang... Kamu sudah sadar?" Nina begitu gembira. Ia meraih tombol untuk memanggil Suster.


Tak lama, Suster datang. "Panggil Dokter, suami saya sadar," ujar Nina gembira.


"Baik, Madame." Suster pun pergi.


"Sayang ... Sayang ... Apa yang kamu rasakan?" tanya Nina.


Feroze hanya diam. Ketika menatap Nina, Feroze memalingkan wajahnya. Nina yang sadar Feroze marah padanya, langsung menggenggam tangan Feroze.


"Maafkan aku ..."


Tak lama, Dokter datang untuk memeriksa keadaan Feroze. Dojter berkata keadaannya semakin membaik. Hanya butuh pemulihan dan istirahat. Setelah itu, Suster dan Dokter pergi. Meninggalkan sepasang suami istri yang masih saling diam.


"Sayang ..." Nina menggenggam tangan Feroze dan menatap Feroze.


"Puas, Arinina?" tanya Feroze dengan lemahnya.


Air mata Nina turun begitu derasnya. Ia beranjak memeluk Feroze. "Maafkan aku." Hanya itu yang bisa Nina katakan.


"Lepas," ujar Feroze.


Feroze yang merasakan sakit di kepalanya hanya diam. "Lepas, aku ingin istirahat. Kau pulanglah!" Feroze membuang mukanya.


Nina yang mendengar melepas pelukan Feroze. Nina terus menangis. Hatinya begitu sakit saat Feroze mengacuhkannya. "Aku akan tetap di sini."


"Kau bisa pergi. Itu yang Kamu mau, 'kan? Ingin menikah dengan Kevin, 'kan?"


Deg!


Nina membulatkan matanya. Bagaimana Feroze tahu tentang ini semua? Batin Nina.


"Pergilah! Aku tidak ingin melihatmu!"


"Tidak! Aku ingin di sini. Aku istrimu. Aku berhak di sini."


"Pergi!" Bentak Feroze.


Tiba-tiba Feroze merasakan kepalanya yang begitu sakit. "Aarrggg!"


"Sayang, apa yang terjadi?"


"Pergi, Nina! Aku tidak ingin melihatmu!" ujar Feroze yang terus meringis kesakitan.


Dengan keadaan menangis, Nina pergi keluar.


"Fayez, Musa ... Jagalah Feroze." Nina pun berlari dengan terus menangis.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" tanya Musa.


"Musa, kejarlah Madame, biar aku yang menjaga Sheikh."


Musa mengangguk, lalu mengejar Nina. Sedangkan Fayez masuk kedalam ruang rawat inap.


"Madame... Madame tunggu ..." Musa terus memanggil Nina, namun Nina menghiraukan Musa.


"Madame ..." Musa menarik tangan Nina.


"Lepas, Musa!" Bentak Nina.


"Maaf, Nona." Musa melepas genggaman tangannya. "Nona mau kemana?" tanya Musa.


"Jangan hiraukan aku. Kamu jagalah Feroze." Nina hendak pergi.


"Nona ... Biar saya antar. Ini tengah malam. Tidak baik Nona pergi sendiri," ujar Musa.


Nina menatap Musa. Ia mengangguk. Musa mengambil mobil, membuka pintu untuk Nina. Setelah itu, mereka pergi.


"Bawa aku ke pantai yang paling sepi," ujar Nina.


"Baik, Nona." Musa hanya bisa menurut. Ia tidak ingin Nona nya itu malah kabur jika tidak dituruti.


Sepanjang jalan, Nina hanya menangis. Ia benar-benar merasa sakit. Merasa bersalah, merasa diacuhkan Feroze, semua perasaan sakit menyatu jadi satu.


Satu jam berlalu, sampailah mereka di pantai yang benar-benar sepi.


"Ini villa milik Sheikh Feroze. Anda bisa disini dulu, Nona," ujar Musa.


"Pulanglah. Aku ingin sendiri dulu." Nina pergi meninggalkan Musa.


Bukannya pergi, Musa justru mengikuti Nina. Ia tahu perasaan Nina sedang hancur. Ia tidak akan meninggalkannya sendiri.


Bukannya masuk kedalam Villa, Nina justru berjalan ke tepi pantai. Nina terduduk lemas di atas pasir pantai. Nina menangis sesegukkan disana. Nina lepaskan segalanya.


"Bodoh!" Nina berteriak.


"Dasar kau bodoh, Nina! Kau mencari cintamu, ketika kau menemukannya, kau sia-siakan. Kau memang bodoh Nina..." Nina terus menangis.


"Kau pantas mendapatkan ini semua, Nina!" Teriaknya lagi.


"Feroze pantas meninggalkanmu!"


Musa begitu kasihan melihat Nina. Meski ia tidak mengerti apa yang dikatakan Nina, tapi ia merasa, ada yang tidak beres dengan hubungan kedua majikannya itu. Musa menghampiri Nina. Ia menyelimuti Nina dengan selimut yang ia ambil dari dalam villa.


"Masuklah kedalam, Nona."


"Pergilah, Musa. Sudah aku katakan, aku ingin disini sendiri," ujar Nina masih dengan suara yang sesegukkan.


"Nona istirahatlah. Sejak kemarin Nona belum istirahat."


"Pergi, Musa! Aku ingin disini." Bentak Nina.


Musa pun pergi. Seperti tadi, Musa melihat Nina dari kejauhan. Nina terus duduk menangis di tepi pantai. Ia bersandar pada pohon kelapa.

__ADS_1


To be continue ...


__ADS_2