Dikejar Anak Sultan

Dikejar Anak Sultan
part 24


__ADS_3

Setelah berbincang dengan Ummu dan Baba, Feroze dan Nina pun kembali ke dalam kamarnya. Setelah menutup pintu, dengan cepat Feroze menggendong Nina.


"Feroze!" pekik Nina.


"Apa? Aku hanya menggendongmu," ujar Feroze tersenyum. "Kenapa tubuhmu ini sangat ringan? Mulai sekarang, makanmu harus banyak supaya tubuhmu sedikit berisi."


"Memang kenapa dengan tubuhku yang sekarang? Asal kamu tahu, ya Feroze. Banyak wanita yang menginginkan tubuhku ini."


"Kau ini." Feroze mencubit hidung Nina. "Badanmu terlalu kurus, tidak enak dipeluk." Bisik Feroze.


"Sultan Feroze sangat banyak permintaan, ya."


"Ya masa aku minta istri orang lain." Feroze membaringkan Nina, lalu menghimpit tubuh Nina dan menciumi wajah Nina.


"Eemmmm Feroze, jangan ..."


Feroze tak menanggapi Nina. Ia terus menciumi Nina dan tangannya sudah tidak bisa di kondisikan.


"Feroze ..."


"Panggil aku Habibi."


"Aku sedang berhalangan, Feroze."


Feroze menghentikan aksinya menatap nanar Nina.


"Sejak kapan?" tanya Feroze memelas.


"Sejak tadi siang," jawab Nina.


Feroze terkulai lemas diatas tubuh Nina. "Kenapa kamu tidak bilang. Aku sudah membara ini."


"Aku kan sudah peringatkan kamu. Kamu tidak dengar."


Feroze beranjak dari atas tubuh Nina.


"Mau kemana?" tanya Nina.


"Kamar mandi. Mau mendinginkan yang panas."


"Jangan bermain di dalam. Awas dosa."


"Iya aku tahu, aku hanya ingin mandi."


Feroze pun pergi menuju kamar mandi. Sedangkan Nina hanya tersenyum menggelengkan kepalanya. Nina menatap perutnya. Merasa disayangkan karena belum berbuah juga.


**


Tiga hari berlalu, Nina dan Feroze tengah berada di bandara internasional Soekarno-Hatta. Sesuai janji Feroze, setelah lukanya sembuh, ia mengantar Nina untuk pulang ke rumah orang tua nya.


Nina begitu bahagia kembali ke tanah air. Ia terus menyunggingkan senyumannya sepanjang jalan. Feroze begitu bahagia melihat senyuman Nina. Feroze menggenggam erat tangan Nina. Nina menatap Feroze, lalu menyandarkan kepalanya dibahu Feroze.


Tak lama, mereka sampai di kediaman Vita dan Tian. Dengan segera, Nina berjalan masuk kedalam rumah.


"Mama ... Papa ..."

__ADS_1


"Nina ..." Teriak Vita begitu senang menghampiri anak satu-satunya itu.


"Assalamualaikum, Mah." Nina mencium tangan Mamanya lalu memeluk sang Mama.


"Waalaikumsalam, Nina. Mama kangen banget sama kamu."


"Nina juga kangen sama Mama. Papa mana?" tanya Nina.


"Papa lagi di kantor ada client penting itu dubes Inggris mau ngadain pesta menggunakan E.O kita jadi Papamu langsung yang menemui," ujar Vita.


"Assalamualaikum, Ma." Feroze mengucap salam.


"Waalaikumsalam, Feroze. Apa kabar?" Vita meneluk sang menantu dengan hangat.


"Alhamdulilah baik. Oh ya Papa dimana?" tanya Feroze.


"Sedang berada di kantor. Ayo duduk."


Mereka pun duduk lalu vita menyuruh asisten rumah tangga nya untuk menyiapkan minum. Lalu Mereka berbincang bersama.


"Mah, ini oleh-oleh untuk Mama dan Papa." Nina memberikan dua paper bag berukuran sedang.


"Ah sangat merepotkan. Kalian datang saja, Mama Papa sangat senang." ujar Vita pada Feroze dan Nina. "Isinya apa?" bisik Vita pada Nina.


Nina hanya tersenyum menggelengkan kepalanya. "Buka saja jika ingin tahu," ujar Nina pada sang Mama.


"Boleh?" tanya Vita.


"Boleh, itu pemberian menantumu, Mah." Nina menatap Feroze tersenyum.


"Lihatlah, aku juga memilikinya." Nina menunjukkan pada sang Mama.


"Ini sungguh berlebihan, Feroze. Pasti ini sangat mahal. Mama tidak bisa menerimanya." Vita memberikan kembali kotak itu.


"Mah, jangan seperti ini. Anggap saja ini hadiah atas restu Mama untukku," ujar Feroze.


"Mama pasti memberi restu padamu karena kamu sudah bisa menikahi Nina. Mama sungguh khawatir bahkan Nina tidak menikah karena sudah banyak pria yang mendekati dia tidak mau juga. Alhamdulilah ternyata Allah sudah menyiapkan jodoh yang luat biasa untuknya. Tapi, hadiah ini sungguh berlebihan, Feroze."


"Mah, hadiah ini tidak ada artinya daripada semua rasa cinta Mama untuk istriku. Mama melahirkannya, merawatnya, membimbingnya menjadi wanita luar biasa. Gelang ini sungguh tidak berarti dengan semua perjuangan Mama merawat Nina. Terimalah hadiah kecil ini sebagai rasa terimakasih Feroze pada Mama." Feroze meraih gelang itu dan memasangkan pada tangan ibu mertuanya.


Vita sungguh terharu mendengar perkataan Feroze. Ia meneteskan air matanya lalu memeluk Feroze. "Terimakasih, Nak. Mama sungguh merasa beruntung karena Nina memiliki suami sebaik dirimu."


"Tidak, Mah. Aku yang beruntung mendapatkan Nina dan menjadikannya istriku. Maafkan aku yang harus merebut anak Mama satu-satunya."


"Mama bahagia dan lega karena Feroze menjaga anak Mama dengan sangat baik. Ingatlah, beri Mama cucu yang banyak agar Mama tidak kesepian." Goda Vita pada Feroze dan Nina.


"Mama apa sih." Wajah Nina merona karena godaan sang Mama.


"Yasudah kalian istirahat dulu. Nanti kalau Papa sudah pulang, Mama panggil kalian."


"Baiklah, kami naik ke atas dulu, ya, Mah. Ayo Feroze."


Mereka pun berjalan menuju kamar Nina. Nina membuka kamarnya dan masuk kedalam. Nina sedikit merasa bingung, ia merasa kamarnya sedikit berbeda. Ia masuk berdiri didekat pintu menatap kamarnya dengan tatapan bingung.


"Kenapa kamu hanya berdiri?" tanya Feroze.

__ADS_1


"Aku merasa kamarku sedikit berbeda. Tapi apa ya?" tanya Nina.


"Astaga, kamu tidak merasa? Itu tempat tidurmu berubah jadi lebih besar," ujar Feroze.


Nina pun menatap tempat tidurnya. "Oh iya ya, kenapa tempat tidurnya jadi besar begini? Siapa yang menggantinya?"


"Aku yang meminta Papa menggantinya. Tempat tidurmu kecil. Mana muat untuk kita berdua."


"Ah Kamu berlebihan! Tempat tidurku kan Queen size. Muat lah untuk kita. Bilang saja tempat tidurku tidak nyaman untuk Sultan Feroze."


"Tidak begitu, Habibty. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untukmu. Aku hanya mengganti tempat tidurmu saja tidak dengan yang lain." Feroze memeluk Nina dari belakang dan menciumi leher Nina.


"Jangan macam-macam, Feroze. Aku belum selesai."


"Lama sekali." gerutu Feroze.


Nina membalikkan tubuhnya. Kini mereka saling berhadapan. Nina pun mengalungkan tangannya di leher Feroze.


"Terimakasih untuk segalanya, Habibi." Nina tersenyum pada Feroze.


Mendengar Nina memanggilnya Habibi, Feroze tersenyum. Ia memeluk pinggang Nina. "Kau panggil aku apa?" tanya Feroze.


"Apa? Aku memanggilmu Feroze," ujar Nina menahan senyumnya.


"Katakan lagi, atau aku akan menghabisimu disana." Feroze menatap tempat tidur. Membuat Nina menoleh.


"Jangan macam-macam, Feroze. Aku sedang berhalangan."


"Aku tidak akan melakukannya tapi akan menyiksamu disana jika kamu tidak mengulangi panggilanmu tadi. Cepat katakan lagi."


"Kau ini pemaksaan sekali. Lepaskan!"


Feroze semakin mempererat pelukannya. Malah ia mulai menyerang Nina dengan mencium bagian sensitive Nina.


"Feroze!". Nina mulai merasa panas di tubuhnya karena ulahnya Feroze.


"Katakan atau aku akan melanjutkan." Feroze terus menciumi leher dan telinga Nina.


"Fe---feroze hentikan."


"Katakan dulu."


"Habibi, hentikan."


"Katakan lagi ..."


"Ha---habibi I love you."


Feroze pun menghentikan aktivitas tersenyum pada Nina yang napasnya sudah tak karuan.


"Menyebalkan!" ujar Nina menatap Feroze.


Feroze pergi meninggalkan Nina menuju kamar mandi dengan perasaan bahagia.


"Habibi ..." Feroze merasa berbunga saat Nina memanggilnya Habibi dengan suara seksinya.

__ADS_1


To be continue ...


__ADS_2