Dikejar Anak Sultan

Dikejar Anak Sultan
part 11


__ADS_3

Esok hari pun tiba. Sejak subuh, Nina sudah sangat sibuk mempersiapkan segalanya. Hingga sore hari, Nina masih juga sibuk. Feroze yang berusaha bisa berbincang dengannya pun tidak bisa. Selain sibuk, Nina ingun menghindar dari Nina.


"Nina, tunggu." Feroze menarik tangan Nina saat Nina sedang mondar mandir.


"Ada apa, Tuan?" tanya Nina.


"Bisa tidak, kamu jangan panggil aku Tuan?"


"Ada apa? Saya masih sibuk," ujar Nina melepas genggaman Feroze.


"Aku .... "


"Bu, acara sudah mau dimulai, bisa kesini, tidak?" Teriak salah satu karyawan Nina.


"Iya, tunggu sebentar. Tuan, maaf saya harus pergi dulu." Nina melepaskan genggaman tanga Feroze, lalu pergi.


Feroze dengan lesu duduk disamping Queena dengan wajah ditekut.


"Kenapa?" tanya Queena.


"Saudaramu susah sekali didekati," gerutu Feroze.


"Yang sabar ya, Kakakku itu memang sangat sulit didekati. Jika mudah didekati pasti dia sudah menikah," ujar Queena tersenyum menepuk bahu Feroze.


Acara lamaran pun dimulai. Kedua keluarga saling berinteraksi mengenai pernikahan Arsyad juga Nadira. Setelah sambutan dari kedua keluarga, Arsyad juga Nadira bertukar cincin.


"Ya ampun kapan aku nyusul, ya," ujar Kania memeluk Queena.


"Belajar yang rajin dulu," jawab Queena.


Kania hanya menyebikkan bibirnya.


"Eh, Kak, kamu pipis ya?" tanya Kania.


"Aku gak lagi mau pipis," jawab Queena.


Itu banyak air netes." Kania menunjuk pakaian Queena yang basah.


"Loh, kok basah? Air dari mana ini?" tanya Queena bingung.


"Itu banyak benget, Kak!" Kania mulai panik.


"Astagfirullah Queena, ini pecah ketuban!" Alif panik.


"Pecah ketuban? Loh bukannya pecah kalau mau melahirkan ya? Apa jangan-jangan??? .... Mama .... Mama ...." Queena berteriak memanggil Eriska.


Eriska yang diteriaki menatap pada Queena yang wajahnya sangat panik.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Eriska.


"Mama .... Pecah ketuban ini Mama." Queena benar-benar panik.


"Apa? Astaga Queena anakmu itu kenapa tidak bisa menunggu besok saja melahirkannya? Om nya sedang lamaran ini!" ujar Eriska uang mulai panik juga.


"Terus ini gimana? Kan belum selesai?" tanya Arsyad.


"Sudah tukar cincin, 'kan ? Ayo kita bawa kakakmu kerumah sakit," ujar Eriska berjalan cepat menghampiri Queena.


"Mah, bagaimana ini?" Tanya Queena panik. "Baru delapan bulan mah, kenapa sudah mau lahir?" ujar Queena.


"Kehamilan kembar memang Kebanyakan lahir lebih cepat. Adikmu juga lahir saat kandungan berusia delapan bulan," ujar Eriska.


"Jadi, tidak apa-apa?" Tanya Queena.


"Kamu banyak tanya, ya. Alif cepat siapkan mobil. Kita harus ke rumah sakit sekarang!" ujar Eriska.


"Baik, Mah." Alif berlari menuju rumah mengambil mobil. Sedangkan yang lain memapah Queena menuju keluar.


Nina yang baru keluar dari toilet merasa bingung kenapa semua orang pergi.


"Loh, kemana mereka? Baru ditinggal lima menit sudah sepi?" tanya Nina bingung.


Terlihat, Arsyad sedang berpelukan dengan Nadira.


"Eh Ibu Arinina masih disini, hehehehehehe." Arsyad kikuk yang ketahuan berpelukan dengan Nadira.


"Ini kenapa sepi? Yang lain kemana? Aku tinggal ke toilet lima menit menghilang begini," tanya Nina.


"Kak Queena mau melahirkan, jadi mereka pergi ke rumah sakit," ujar Arsyad.


"Oh melahirkan.... Eh apa? Queena mau melahirkan? Astaga..." Dengan cepat Nina berlari keluar menyusul yang lain.


"Ditinggal lagi, kita." Arsyad dan Nadira tertawa.


Sampai di luar, tiba-tiba Nina berhenti melihat Feroze yang duduk di kap mobil Nina.


Aduh, kenapa dia masih di sini tidak ikut yang lain. Batin Nina.


"Buka pintu mobilnya," ujar Feroze


"Kamu ikut Arsyad saja," ujar Nina.


"Kamu kenapa? Sejak pagi menghindar dariku?" Feroze meraih tangan Nina, tetapi ditepis oleh Nina.


Feroze mendengus kesal. "Buka pintunya, Arinina," ujar Feroze kesal.

__ADS_1


Nina benar-benar bingung. Ia tidak ingin satu mobil dengan Feroze karena takut gagal menghindarinya.


"Segitu menjijikannya kah aku? Sampai tidak boleh menumpang ke rumah sakit melihat Balqis? Baiklah, maafkan aku ..." Feroze pergi berlalu meninggalkan Nina.


"Eh mau kemana, Dia? Yang lain sudah duluan. Aduh, Nina kau bodoh sekali! Dia tidak tahu jalanan sini!" gerutu Nina.


Ia masuk kedalam mobilnya, lalu menyusul Feroze.


"Tuan, masuklah," ujar Nina pada Feroze.


Feroze tampak masih kesal pada Nina.


"Ayolah, Tuan. Maafkan aku, aku hanya panik tadi mendengar Queena akan melahirkan." Nina membujuk pria bertubuh tinggi yang sedang merajuk itu.


Akhirnya Feroze masuk kedalam mobil. Feroze tidak akan tahan marah pada Nina. Mereka pun pergi bersama menuju rumah sakit.


Sepanjang jalan, mereka hanya diam entah apa yang mereka pikirkan.


"Habibty ..."


"Namaku Nina, Tuan. Bukan Habibty," jawab Nina.


"Dan namaku Feroze, bukan Tuan. Kenapa sih Kamu selalu memanggilku Tuan terus? Aku bukan bossmu!" Kesal Feroze.


Nina tak menjawab. Ia hanya fokus menyetir.


"Nina ..."


"Kenapa?" tanya Nina tanpa menoleh.


"Apa kamu suka binatang?" tanya Feroze.


"Suka ..."


"Aku baru membeli binang peliharaan. Kamu pasti suka jika melihat," ujar Feroze.


"Oh ya? Binatang apa? Kucing? Kelinci? Atau guguk?" tanya Nina.


"Anak Harimau putih," jawab Feroze.


"Apa? Anak harimau? Yang benar saja, Tuan." Nina tak percaya mendengar perkataan Feroze.


"Aku serius. Kau lihat ini. Baru satu kinggu aku memeliharanya." Feroze menunjukkan fotonya dengan baby white tiger nya itu.


"Yang benar saja, Tuan. Masa melihara binatang buas. Kan bisa memelihara kucing atau kelinci yang lucu."


"Aku bukan perempuan, mana ada memelihara kucing atau kelinci. Aku pria dewasa. Bahkan aku memiliki panda juga dirumah," ujar Feroze.

__ADS_1


Astaga Sulta ini. Nina menggelengkan kepalanya.


__ADS_2